Pasar smartphone India mencatat kinerja terlemah dalam enam tahun pada periode Januari hingga Maret. Laporan Counterpoint Research menyebut pengapalan turun 3 persen dibanding kuartal pertama periode yang sama sebelumnya.
Pelemahan ini menunjukkan tekanan masih besar di pasar, terutama pada segmen harga terjangkau. Counterpoint Research juga memperkirakan tekanan tersebut belum mereda dalam waktu dekat.
Peta persaingan merek
vivo tetap memimpin pasar smartphone India dengan pangsa 20,8 persen. Samsung berada di posisi berikutnya dengan 17,4 persen, lalu Oppo 13,6 persen.
Apple menguasai 9 persen pasar, diikuti Realme 8,9 persen dan Xiaomi 7,9 persen. Counterpoint Research juga mencatat Poco 4,2 persen, iQOO 2,6 persen, dan OnePlus 1,8 persen.
Data itu memperlihatkan pasar tetap terfragmentasi meski dikuasai beberapa pemain besar. Di saat yang sama, tidak semua merek besar membukukan laju pertumbuhan yang sama.
Oppo menjadi merek dengan pertumbuhan tercepat di jajaran lima besar. Kinerja merek ini naik 8 persen secara tahunan, didorong penjualan yang kuat dari seri A dan K, serta performa model Reno di kelas menengah.
Xiaomi juga menunjukkan pergerakan positif di rentang harga tertentu. Segmen INR 10.000-20.000 milik Xiaomi disebut mencatat pertumbuhan dua digit.
Tekanan di segmen bawah
Meski beberapa merek masih tumbuh, kondisi pasar secara keseluruhan tetap melemah. Counterpoint Research menilai permintaan yang lemah di kelas entry-level menjadi salah satu penekan utama volume.
Selain itu, harga memori yang tetap tinggi ikut memengaruhi keterjangkauan perangkat. Kondisi ini membuat siklus penggantian ponsel menjadi lebih panjang karena konsumen menunda pembelian baru.
Faktor tersebut penting karena pasar India selama ini sangat bergantung pada volume besar di kelas harga terjangkau. Saat daya beli di segmen ini melemah, dampaknya cepat terlihat pada total pengapalan.
Counterpoint Research bahkan memproyeksikan penjualan pada kuartal berikutnya turun dua digit dibanding kuartal kedua periode pembanding. Proyeksi itu didasarkan pada kombinasi harga memori yang tinggi dan lemahnya permintaan entry-level.
Pemenang pertumbuhan di luar lima besar
Di luar nama-nama utama, Nothing menjadi merek dengan pertumbuhan paling tinggi. Counterpoint Research menyebut Nothing, termasuk sub-merek CMF, tumbuh 47 persen.
Pada segmen premium di atas INR 45.000, Google menjadi merek dengan pertumbuhan tercepat. Pertumbuhannya mencapai 39 persen, meski merek ini belum masuk kelompok lima besar pasar secara keseluruhan.
Angka itu menunjukkan ada ruang ekspansi di segmen tertentu walau pasar total sedang melambat. Permintaan di kelas premium tampak lebih tahan dibanding pasar massal, meski belum cukup untuk mengangkat kinerja industri secara umum.
Counterpoint Research juga memberi catatan soal penyajian data pangsa pasar. Lembaga itu memisahkan sub-merek dari merek utama, sehingga angka seperti Poco ditampilkan terpisah untuk keperluan informasi dan tidak otomatis mencerminkan posisi peringkat penjualan akhir.
Prospek pasar
Untuk setahun penuh, Counterpoint Research memproyeksikan pasar smartphone India turun 10 persen dibanding 2025. Tekanan utama masih sama, yakni harga memori yang memengaruhi keterjangkauan dan memperpanjang siklus penggantian perangkat.
Dengan kondisi tersebut, persaingan kemungkinan akan makin ketat di segmen harga menengah dan premium. Sementara itu, pemulihan pasar secara luas masih sangat bergantung pada membaiknya permintaan entry-level dan berkurangnya tekanan biaya komponen.
Source: www.gsmarena.com





