Sebagai penggemar Pixel, pengalaman memakai Google biasanya terasa lebih konsisten meski tetap punya sejumlah kelemahan. Namun, pembaruan One UI terbaru dari Samsung justru membuat perangkat Galaxy tampak makin menarik karena menawarkan kontrol yang jauh lebih dalam terhadap tampilan dan fungsi antarmuka.
Pembaruan yang dimaksud adalah One UI 8.5, yang debut bersama perangkat Samsung Galaxy S26 dan kini mulai hadir ke perangkat Galaxy generasi sebelumnya lewat program beta. Bukan sekadar membawa penyegaran visual, pembaruan ini menonjol karena memberi pengguna ruang kustomisasi yang jarang ditemui di Android lain, terutama di area Quick Settings.
Kontrol Quick Settings yang jauh lebih fleksibel
Salah satu perubahan paling mencolok ada di panel Quick Settings. Melalui modul QuickStar di Good Lock, pengguna Galaxy yang menjalankan One UI 8.5 kini dapat mengatur ukuran, orientasi, dan gaya panel dengan tingkat kontrol yang belum pernah ada sebelumnya.
Samsung juga menambahkan pengaturan orientasi lanskap, sehingga panel tidak lagi terasa kaku saat dipakai dalam posisi tertentu. Selain itu, slider volume dan kecerahan bisa diputar menjadi vertikal, yang secara praktis lebih mudah dijangkau ibu jari saat ponsel digenggam satu tangan.
Kemampuan ini terasa menonjol karena Google baru memberi opsi lebih luas pada Android 16, termasuk mengubah ukuran ubin dari 2×1 menjadi 1×1. Namun, One UI 8.5 melangkah lebih jauh dengan memberi pengguna kendali yang lebih granular atas elemen antarmuka yang paling sering disentuh.
Bisa atur per tile, bukan hanya per panel
Perubahan penting lainnya adalah kemampuan memindahkan tile satu per satu, bukan sekadar mengatur urutan panel. Bagi pengguna yang ingin menjadikan panel cepat akses lebih rapi dan personal, langkah ini membuat penataan terasa lebih presisi.
Samsung juga menambahkan perilaku unik saat tile dihapus. Ruang kosong bisa dibiarkan tetap ada, sehingga elemen lain tidak otomatis mengisi celah tersebut dan tampilan tetap bisa dibuat minimalis sesuai selera pengguna.
Fleksibilitas ini menjadi pembeda karena banyak antarmuka Android masih cenderung memaksa tata letak rapat dan penuh. Dalam konteks itu, One UI 8.5 justru memberi opsi untuk merapikan layar tanpa harus menumpuk semua kontrol dalam satu bidang padat.
Lebih rapi, lebih praktis, dan tidak hanya soal tampilan
Di luar Quick Settings, One UI 8.5 juga membawa penyegaran yang terasa lebih fungsional. Pencarian yang dipindah ke bagian bawah bisa lebih nyaman diakses, terutama pada model Galaxy Ultra yang berlayar besar.
Samsung juga merapikan tata letak widget baterai dan cuaca agar tidak terasa terlalu penuh. Perubahan ini penting bagi pengguna yang menilai antarmuka One UI sebelumnya terlalu padat dan bercampur antara fitur berguna dengan elemen yang kurang relevan.
Beberapa fitur tambahan juga ikut muncul, seperti akses file dari perangkat Samsung lain yang langsung tersedia di aplikasi My Files. Ada pula peningkatan hemat daya yang lebih luas serta perekaman layar sebagian, yang memungkinkan pengguna memilih area layar tertentu untuk direkam.
Masih ada catatan, tapi arahnya dianggap tepat
Meski banyak peningkatan positif, One UI 8.5 belum lepas dari kritik soal bloatware. Proses menyiapkan ponsel Galaxy baru masih dianggap melelahkan karena banyak aplikasi dan fitur yang tidak selalu dibutuhkan pengguna.
Namun, pembaruan ini dinilai menunjukkan arah yang lebih sehat. Samsung mulai mengarahkan pengalaman pengguna ke fitur yang lebih berguna, sementara dorongan fitur AI yang terasa dipaksakan dinilai makin berkurang, meski Photo Assist masih disebut sebagai salah satu bagian yang kurang menonjol.
Bagi pengguna Pixel, inilah alasan utama rasa iri itu muncul. One UI 8.5 bukan hanya mempercantik tampilan, tetapi juga memberi kontrol nyata atas fungsi harian yang sering dipakai, dan itu membuat Galaxy terlihat semakin matang sebagai platform Android yang serius.







