Pasokan Memori Mengetat, Pengiriman Smartphone Global Turun Di Awal Tahun

International Data Corporation atau IDC melaporkan pengiriman smartphone global pada kuartal I/2026 mencapai 289,7 juta unit. Angka itu turun 4,1% secara tahunan, sekaligus memutus tren pertumbuhan yang sudah berlangsung selama 10 kuartal sejak pertengahan 2023.

Penurunan ini terjadi di tengah tekanan pasokan memori dan kenaikan harga komponen. IDC menilai kondisi tersebut langsung menekan permintaan sekaligus membuat sejumlah produsen menahan volume pengiriman.

Tekanan biaya mengubah strategi vendor

Senior Research Director Worldwide Consumer Devices IDC Nabila Popal mengatakan keterbatasan memori memaksa produsen mengurangi pengiriman. Di saat yang sama, harga memori yang lebih tinggi membuat biaya produksi ikut naik.

Nabila menjelaskan banyak merek besar akhirnya menaikkan harga jual. “Di beberapa pasar negara berkembang, harga bahkan naik hingga 40–50%,” ujarnya dikutip dari laman resmi IDC pada Kamis (16/4/2026).

Kenaikan harga itu memberi dampak paling besar di pasar yang sensitif terhadap biaya. IDC menyebut kondisi tersebut menekan permintaan di negara berkembang, terutama untuk segmen perangkat yang paling terjangkau.

Produsen memangkas biaya, tapi ruang tumbuh ikut menyempit

Untuk merespons situasi itu, produsen disebut memperketat pengeluaran. Langkah yang diambil mencakup pengurangan aktivitas pemasaran, penghematan dukungan distribusi, dan strategi penurunan spesifikasi atau despecing.

IDC menilai langkah tersebut membantu menjaga efisiensi, tetapi juga membatasi potensi pertumbuhan. Tahun ini disebut menjadi titik krusial bagi vendor untuk menyesuaikan diri dengan biaya komponen, energi, dan logistik yang lebih tinggi.

Laporan IDC juga menyoroti dampak konflik di Timur Tengah terhadap rantai pasok global. Tekanan itu menambah tantangan bagi industri smartphone yang sudah lebih dulu menghadapi kenaikan harga komponen.

Samsung dan Apple masih tumbuh

Di tengah pelemahan pasar, Samsung dan Apple tetap mencatat pertumbuhan tahunan. Samsung memimpin pasar dengan pengiriman 62,8 juta unit, naik 3,6% dari 60,6 juta unit pada periode yang sama tahun sebelumnya.

Apple berada di posisi kedua dengan 61,1 juta unit. Kinerja itu tumbuh 3,3% secara tahunan dari 59,1 juta unit.

Kedua merek tersebut relatif lebih kuat karena masih didukung permintaan di segmen menengah atas dan premium. Dalam kondisi pasar yang tertekan, daya tahan merek besar menjadi faktor penting untuk menjaga volume sekaligus profitabilitas.

Vendor China menghadapi tekanan lebih berat

Berbeda dengan Samsung dan Apple, sejumlah vendor asal China mengalami penurunan pengiriman lebih dalam. Xiaomi mencatat 33,8 juta unit, turun 19,1% dibandingkan 41,8 juta unit pada kuartal I/2025.

OPPO membukukan 30,7 juta unit, turun 9,9% dari 34,1 juta unit. Vivo juga terkoreksi menjadi 21,2 juta unit, atau turun 6,8% dari 22,7 juta unit pada periode yang sama tahun lalu.

Associate Director Consumer Devices IDC Kiranjeet Kaur menilai kuartal ini menjadi periode yang sulit bagi seluruh pemain smartphone. Ia menyebut vendor perlu menjaga keseimbangan antara profitabilitas dan pertumbuhan sambil mempertahankan stabilitas di pasar domestik serta memperluas ekspansi ke luar negeri.

“Ketahanan mereka akan terus diuji dalam beberapa kuartal ke depan seiring upaya optimalisasi portofolio dan respons terhadap perubahan pasar,” kata Kiranjeet.

Pasar berkembang jadi area paling rentan

IDC memperkirakan tekanan pasar masih akan berlanjut, terutama di negara berkembang yang bergantung pada perangkat murah. Pasar di wilayah ini dinilai lebih rentan terhadap kenaikan harga karena konsumen sangat peka terhadap perubahan biaya.

Sebaliknya, pasar negara maju cenderung lebih tahan. IDC menyebut segmen premium, skema pembiayaan, dan program trade-in membuat konsumen di pasar tersebut tidak terlalu terdampak kenaikan harga.

Research Director Mobile Phones IDC Anthony Scarsella mengatakan penurunan sekitar 4% ini baru menjadi gambaran awal dari tekanan berikutnya. Ia menilai situasi pasokan memori yang memburuk akan membuat tantangan industri semakin besar.

“Pasar berkembang yang bergantung pada perangkat di bawah US$200 akan menghadapi tantangan lebih besar dibandingkan masa pandemi,” ujarnya.

Meski pasar melemah, IDC melihat tren premiumisasi tetap berlanjut. Harga jual rata-rata atau ASP diperkirakan terus meningkat karena vendor menggeser portofolio ke segmen yang lebih tinggi, sehingga perubahan struktur pasar akan tetap menjadi perhatian utama dalam beberapa kuartal mendatang.

Source: teknologi.bisnis.com
Exit mobile version