IDC memproyeksikan pasar smartphone Indonesia akan turun dua digit pada 2026. Tekanan utama datang dari kelangkaan memori yang diperkirakan masih berlanjut setidaknya hingga 2027 dan mulai mengganggu pasokan sejak menjelang akhir 2025.
Research Analyst Devices Research IDC Indonesia, Vanessa Aurelia, mengatakan dampaknya sudah terasa pada kanal distribusi dan vendor. Kondisi itu membuat industri harus menghadapi pasokan yang lebih ketat, harga yang naik, dan ruang produksi yang makin sempit.
Pasar Indonesia mulai tertekan dari sisi suplai
Vanessa menjelaskan kekurangan memori tidak hanya terjadi di Indonesia, tetapi juga memukul pasar smartphone global. Saat komponen sulit diperoleh, vendor tidak punya banyak pilihan selain menyesuaikan produksi agar tetap sejalan dengan ketersediaan bahan baku.
Di saat yang sama, biaya komponen ikut terdorong naik. Tekanan ini membuat harga jual perangkat ikut meningkat karena vendor tidak lagi mampu menahan lonjakan biaya produksi atau bill of materials (BOM).
Harga rata-rata naik, terutama di segmen murah
IDC mencatat harga jual rata-rata atau average selling price (ASP) naik signifikan akibat kondisi tersebut. Kenaikan ini terasa lebih berat di segmen entry-level, yaitu smartphone dengan harga umumnya di bawah US$200.
Segmen itu paling rentan karena konsumen di kelas harga rendah sangat sensitif terhadap perubahan biaya. Vanessa menyebut kenaikan harga sudah mulai terlihat pada sebagian besar vendor di segmen ini.
Pengiriman global ikut melemah
Data awal IDC Worldwide Quarterly Mobile Phone Tracker menunjukkan pengiriman smartphone global pada kuartal I/2026 turun 4,1% secara tahunan menjadi 289,7 juta unit. Angka itu turun dari 302,0 juta unit pada periode yang sama sebelumnya dan mengakhiri tren pertumbuhan selama 10 kuartal berturut-turut sejak pertengahan 2023.
IDC juga menilai data tersebut masih bersifat awal karena proses riset masih berlangsung. Meski begitu, hasil sementara menunjukkan pengiriman smartphone di Indonesia juga turun secara tahunan maupun kuartalan pada kuartal I/2026.
Vendor besar bertahan dengan strategi harga
Di tengah tekanan biaya, vendor besar memilih menjaga margin dengan mendorong perangkat ke kelas harga lebih tinggi. Perubahan strategi ini dinilai menjadi salah satu cara untuk bertahan ketika komponen semakin mahal dan ruang untuk menekan biaya makin terbatas.
Samsung dan Apple menjadi dua vendor di lima besar yang masih mencatat pertumbuhan tahunan pada kuartal I/2026. Samsung memimpin pasar dengan 62,8 juta unit dan pangsa 21,7%, naik 3,6% YoY, sedangkan Apple meraih 61,1 juta unit dengan pangsa 21,1%, tumbuh 3,3% YoY.
Xiaomi, OPPO, dan vivo justru mencatat penurunan. Xiaomi turun paling dalam dengan 33,8 juta unit, atau merosot 19,1% YoY, sementara OPPO berada di 30,7 juta unit dan turun 9,9% YoY, serta vivo mencatat 21,2 juta unit atau turun 6,8% YoY.
IDC menilai tekanan terbesar masih akan datang dari keterbatasan komponen yang menahan laju produksi dan mendorong harga perangkat lebih tinggi. Dalam kondisi seperti ini, pasar smartphone Indonesia berpotensi menghadapi penurunan yang lebih terasa, terutama di segmen yang selama ini paling bergantung pada harga terjangkau.
Source: teknologi.bisnis.com






