Samsung memaparkan arah baru untuk layar ponsel yang bisa berganti antara tampilan 2D dan 3D tanpa perpindahan yang terasa rumit. Informasi ini muncul lewat makalah ilmiah yang disusun bersama Postech dan menyoroti teknologi layar switchable 2D/3D untuk perangkat masa depan.
Teknologi tersebut disebut berpotensi masuk ke smartphone, tablet, hingga sistem komersial lain. Laporan yang dikutip dalam artikel referensi juga menyebut fitur ini kabarnya dapat hadir pada Samsung Galaxy S28 Ultra, meski Samsung belum mengumumkan nama perangkat yang akan memakainya.
Teknologi layar 2D/3D yang bisa berganti mode
Dalam makalah berjudul “Switchable 2D-3D display through a metasurface lenticular lens” yang terbit di Nature, Samsung dan Postech menjelaskan pendekatan berbasis metalens ultra-tipis. Komponen ini dirancang untuk memanipulasi berkas cahaya agar layar bisa berpindah dari mode 2D ke 3D secara mulus.
Samsung menyebut metalens itu tersusun dari struktur berskala nano. Struktur tersebut memungkinkan transisi “seamless” antara dua mode tampilan sekaligus membuka peluang peningkatan sudut pandang layar.
Peralihan itu dilakukan dengan kontrol tegangan. Dengan pendekatan ini, pengguna pada akhirnya dapat memilih mode 2D beresolusi tinggi untuk penggunaan harian atau mode 3D multi-view yang lebih imersif untuk video.
Dalam penjelasannya, Samsung menyebut teknologi ini sebagai terobosan yang dapat memberi pilihan tampilan sesuai kebutuhan. Kutipan perusahaan dalam artikel referensi menegaskan bahwa fokusnya adalah menghadirkan 2D berkualitas tinggi untuk tugas sehari-hari dan 3D yang imersif untuk konsumsi video.
Bukan konsep yang muncul tanpa konteks
Arah riset ini tidak berdiri sendiri karena Samsung sebelumnya sudah membawa fitur layar berbasis perangkat keras ke ponsel flagship. Pada peluncuran Galaxy S26 Ultra di India dan pasar global lain pada Januari, perusahaan lebih dulu memperkenalkan fitur Privacy Display.
Fitur Privacy Display bertujuan mengurangi risiko shoulder surfing, yakni saat orang lain mengintip layar dari samping. Solusi ini bekerja secara hardware, bukan sekadar efek perangkat lunak, sehingga sudut pandang layar bisa dipersempit saat fitur diaktifkan.
Layar pada sistem ini menggunakan piksel lebar dan piksel sempit. Ketika Privacy Display dinyalakan, piksel lebar akan mati sehingga sudut pandang menyempit secara drastis.
Pendekatan itu juga dapat diterapkan hanya pada area tertentu di layar. Artinya, bagian seperti notifikasi atau kolom kata sandi bisa disamarkan tanpa harus membuat seluruh tampilan sulit dilihat dari samping.
Konteks ini penting karena menunjukkan fokus Samsung pada teknologi layar yang aktif mengubah cara cahaya ditampilkan kepada pengguna. Dari fitur privasi hingga konsep 2D/3D, benang merahnya adalah kontrol optik yang lebih presisi langsung di level perangkat keras.
Peluang untuk ponsel dan tablet masa depan
Makalah Samsung dan Postech secara eksplisit menyebut smartphone, tablet, dan sistem komersial sebagai kandidat penggunaan teknologi ini. Jika implementasinya berhasil, perangkat tidak perlu lagi bergantung pada satu mode tampilan tetap untuk semua kebutuhan.
Bagi pengguna, konsep ini membuka dua skenario utama. Mode 2D tetap dipakai untuk aktivitas umum yang menuntut ketajaman dan kenyamanan, sedangkan mode 3D bisa diaktifkan saat konten visual membutuhkan efek kedalaman dan sudut pandang yang lebih imersif.
Artikel referensi juga menyebut teknologi ini berpotensi meningkatkan viewing angle. Detail itu penting karena salah satu tantangan layar canggih sering kali berkaitan dengan kenyamanan melihat dari berbagai posisi.
Meski begitu, Samsung belum mengungkap produk spesifik yang akan mengadopsinya. Informasi soal Galaxy S28 Ultra yang disebut-sebut menjadi salah satu perangkat pertama masih berasal dari laporan terpisah, bukan pengumuman resmi perusahaan.
Posisi Galaxy S26 Ultra dalam peta inovasi layar Samsung
Galaxy S26 Ultra sendiri disebut hadir dengan layar Dynamic AMOLED 2X 10-bit berukuran 6,9 inci dan resolusi 1.440 x 3.120 piksel. Panel itu mendukung refresh rate hingga 120Hz serta dilindungi Corning Gorilla Armor 2.
Namun, artikel referensi menilai fitur paling menonjol pada perangkat itu justru Privacy Display. Penekanan ini menunjukkan bahwa inovasi layar Samsung saat ini tidak hanya berkutat pada ukuran, resolusi, atau refresh rate, tetapi juga pada fungsi visual yang lebih adaptif.
Karena itu, publikasi makalah anyar soal layar switchable 2D/3D dapat dibaca sebagai langkah lanjutan dari strategi tersebut. Samsung belum memberi kepastian kapan fitur itu dipasarkan, tetapi dokumen ilmiah dan arah pengembangan terbaru menunjukkan perusahaan sedang menyiapkan fondasi untuk layar ponsel yang lebih fleksibel dalam mengatur cara konten ditampilkan.
Source: www.gadgets360.com






