Selama ini, foldable buku kerap dianggap menarik secara teknologi, tetapi kurang meyakinkan dari sisi nilai pakai. Namun, perubahan desain yang sedang terjadi di Samsung dan Apple mulai membuat format ini terasa lebih masuk akal untuk dibeli.
Daya tarik utamanya bukan lagi sekadar layar lipat, melainkan arah desain yang makin lebar dan lebih mirip tablet mini. Bagi banyak pengguna, perubahan kecil pada rasio layar bisa jadi pembeda antara perangkat yang terasa aneh dan perangkat yang terasa berguna.
Dari kompromi jadi lebih fungsional
Selama ini, banyak foldable buku hadir dengan layar dalam yang cenderung sempit atau terlalu kotak. Kondisi itu membuat pengalaman saat dibuka terasa seperti memakai tablet yang belum sepenuhnya nyaman untuk konsumsi media maupun produktivitas.
Sebaliknya, rasio layar yang lebih lebar memberi kesan yang lebih natural. Saat dibuka, perangkat tidak lagi terasa seperti kompromi mahal, melainkan seperti ponsel yang berubah menjadi tablet kecil untuk menonton, bekerja, atau bermain gim.
Huawei menjadi salah satu merek yang memberi gambaran paling jelas soal arah ini. Pura X Max, yang dijadwalkan meluncur pada 20 April, disebut membawa layar dalam dengan rasio sekitar 16:11, jauh lebih lebar dibanding rasio 1.11:1 pada Galaxy Z Fold 7.
Perbedaan itu penting karena layar yang lebih mendekati bentuk persegi panjang lebih mudah dipakai untuk konsumsi konten harian. Media umumnya tidak dirancang untuk layar persegi, sehingga format yang lebih lebar berpotensi memberi pengalaman yang lebih nyaman bagi pengguna kasual.
Samsung mulai bergerak ke arah yang sama
Samsung juga disebut tengah menyiapkan foldable yang lebih lebar dalam lini berikutnya. Berdasarkan firmware bocoran untuk Z Fold 8 Wide, perangkat itu akan membawa layar dalam 7,6 inci dengan rasio aspek 4:3.
Rasio ini memang masih belum se-lebar Pura X Max, tetapi sudah lebih rectangular dibanding Galaxy Z Fold 7. Langkah tersebut menunjukkan bahwa Samsung mulai melihat kebutuhan pengguna yang ingin layar lipat dengan pengalaman seperti tablet, bukan sekadar ponsel besar yang bisa dilipat.
Perubahan ini bisa menjadi jawaban atas kritik yang selama ini melekat pada seri Z Fold. Bagi sebagian pengguna, lini tersebut terasa repetitif karena peningkatan yang hadir belum cukup mengubah rasa pakai secara mendasar.
Apple ikut memperkuat arah pasar
Apple belum masuk ke pasar foldable secara resmi, tetapi bocoran yang beredar menunjukkan perusahaan ini juga tidak berdiri di luar tren. iPhone Fold disebut akan meluncur “later this year” dan dikabarkan memakai rasio aspek yang mirip dengan Pura X Max.
Unit dummy yang bocor pada awal April, menurut The Verge, juga memperlihatkan desain yang lebih lebar dibanding jajaran foldable Samsung maupun Motorola saat ini. Meski dimensinya belum terungkap, arahnya sudah cukup jelas: Apple tampaknya ikut mendorong pasar menuju format yang lebih luas.
Langkah Apple punya arti besar karena perusahaan itu sering memengaruhi selera pasar saat masuk ke kategori produk baru. Jika foldable iPhone benar hadir dengan desain yang lebih lebar, pasar foldable bisa memasuki fase baru yang lebih serius.
Motorola tetap menarik, tetapi bisa tersisih
Di tengah pergerakan Samsung dan Apple, Motorola sebenarnya juga sempat memancing perhatian lewat Razr Fold. Perangkat itu dinilai bisa menguatkan posisi Motorola sebagai rival tidak resmi Samsung di pasar foldable.
Namun, harga yang tinggi masih menjadi penghalang utama bagi banyak calon pembeli. Karena itu, harapan terhadap foldable yang lebih terjangkau tetap belum sepenuhnya terjawab, meski desain dan daya tarik produknya terus berkembang.
Motorola juga berisiko tertutup oleh gelombang foldable lebar yang sedang naik. Jika Samsung dan Apple benar-benar membawa format baru ini ke pasar utama, perhatian publik bisa cepat bergeser ke perangkat yang menawarkan pengalaman layar dalam lebih relevan.
Pada akhirnya, perubahan rasio layar mungkin terdengar sederhana, tetapi efeknya besar bagi nilai guna foldable. Saat merek sebesar Samsung dan Apple sama-sama mengarah ke desain yang lebih lebar, foldable mulai terlihat bukan lagi sebagai gimmick mahal, melainkan kategori perangkat yang akhirnya punya alasan lebih kuat untuk dipertimbangkan.
