Perempuan makin menonjol dalam pertumbuhan industri kreatif Indonesia. Dari hobi, ide sederhana, hingga pengalaman personal, banyak yang berhasil mengubah passion menjadi usaha bernilai ekonomi dan punya dampak yang luas.
Bank Saqu melihat perkembangan itu sebagai momentum penting untuk memperkuat peran perempuan sebagai pelaku usaha mandiri. Melalui forum diskusi “Built by Her: Turning Passion Into Power in The Creative Industry” bersama IdeaFriends, bank digital ini menyoroti bukan hanya kreativitas, tetapi juga pentingnya pengelolaan keuangan agar bisnis bisa bertahan dan berkembang.
Perempuan Jadi Motor Ekonomi di Industri Kreatif
Dalam momentum peringatan Hari Kartini, Bank Saqu menegaskan bahwa perempuan kini tak lagi sekadar bagian dari ekosistem kreatif. Mereka juga menjadi penggerak ekonomi yang membangun usaha dari bawah dengan pendekatan yang fleksibel dan adaptif.
Data dari Kementerian Koperasi dan UKM menunjukkan sekitar 64,5% pelaku UMKM di Indonesia adalah perempuan. Sebagian besar dari mereka bergerak di sektor yang berkaitan dengan industri kreatif, sehingga kontribusinya terasa langsung pada pertumbuhan ekonomi di level akar rumput.
Perkembangan teknologi digital ikut membuka peluang yang lebih luas bagi para pelaku usaha perempuan. Akses pasar menjadi lebih mudah, sementara model bisnis yang fleksibel membantu mereka menyesuaikan usaha dengan kebutuhan sehari-hari.
Kreativitas Perlu Ditopang Finansial yang Sehat
Bank Saqu menilai kreativitas memang menjadi titik awal banyak usaha kreatif, tetapi itu belum cukup untuk menjaga bisnis tetap berjalan. Pengelolaan arus kas, pencatatan keuangan, dan pengambilan keputusan finansial menjadi elemen yang menentukan usia panjang sebuah usaha.
Willy Apriando, Head of Corporate Communication & Marketing Bank Saqu, menegaskan bahwa kombinasi kreativitas dan pengelolaan keuangan yang tepat akan melahirkan lebih banyak bisnis berkelanjutan di Indonesia. Pandangan itu sejalan dengan kebutuhan banyak solopreneur yang kerap mengelola semua aspek usaha secara mandiri.
Kondisi tersebut membuat literasi finansial menjadi bagian penting dari perjalanan bisnis. Tanpa manajemen uang yang rapi, usaha yang awalnya tumbuh dari semangat kreatif bisa kesulitan bertahan saat menghadapi kebutuhan operasional yang terus berubah.
Dukungan untuk Solopreneur Perempuan
Sekitar 40% nasabah Bank Saqu merupakan solopreneur. Fakta itu membuat Bank Saqu semakin fokus menghadirkan solusi yang relevan bagi pelaku usaha yang menjalankan bisnisnya secara mandiri, termasuk perempuan di industri kreatif.
Salah satu inisiatif yang disorot adalah Solopreneur Academy, program yang memberi edukasi sekaligus jejaring bagi pelaku usaha. Program ini dirancang untuk membantu mereka memahami pengelolaan bisnis secara lebih terstruktur, terutama pada aspek keuangan yang sering menjadi tantangan utama.
Liya Tsabitah, salah satu peserta, menyebut pemisahan keuangan pribadi dan bisnis menjadi titik balik dalam pengelolaan usahanya. Ia memanfaatkan fitur seperti Saku Nabung dan Saku Transaksi agar arus uang lebih tertata dan perkembangan bisnis lebih optimal.
Sylvia juga menekankan pentingnya disiplin membaca arus kas dan memahami biaya usaha. Menurutnya, bisnis tidak cukup hanya bertahan dari sisi ide, tetapi juga harus kuat dari sisi pengelolaan keuangan agar bisa terus tumbuh.
Fitur Keuangan untuk Tahap Bisnis yang Berbeda
Bank Saqu menyiapkan layanan yang disesuaikan dengan kebutuhan pelaku usaha di berbagai fase. Untuk membantu kebiasaan menabung, tersedia Tabungmatic, sementara Saku Kredit hadir untuk kebutuhan pembiayaan.
Ada pula Bank Saqu Bisnis yang ditujukan bagi pengelolaan usaha yang lebih kompleks. Melalui rangkaian fitur itu, Bank Saqu ingin hadir sebagai partner finansial yang bisa dipakai sejak tahap merintis hingga saat bisnis masuk fase ekspansi.
Pendekatan ini penting karena kebutuhan pelaku usaha tidak selalu sama. Saat baru memulai, mereka membutuhkan kebiasaan finansial yang disiplin, sedangkan ketika usaha berkembang, kebutuhan akan pengelolaan transaksi dan pembiayaan menjadi lebih besar.
Bank Saqu berharap inisiatif tersebut bisa menjadi dukungan nyata bagi perempuan yang berkarya di industri kreatif. Dengan akses finansial yang lebih terarah, para pelaku usaha diharapkan bisa menjaga ritme pertumbuhan bisnis sekaligus memperkuat kontribusinya terhadap ekonomi nasional.
