
Fenomena anak sekolah di Amerika Serikat yang kembali memakai telepon model lama kini menarik perhatian karena hadir lewat perangkat bernama Tin Can. Perangkat ini bukan smartphone, melainkan telepon bergaya klasik yang dirancang untuk membantu keluarga dan sekolah membatasi penggunaan layar pada anak.
Tin Can muncul di tengah kekhawatiran orang tua terhadap kebiasaan anak berkomunikasi lewat smartphone. Di sejumlah sekolah, perangkat ini dipandang sebagai cara praktis untuk menjaga anak tetap bisa berhubungan tanpa harus terpapar media sosial, pesan grup, atau kebiasaan menatap layar terlalu lama.
Telepon klasik dengan fungsi terbatas
Tin Can didesain menyerupai telepon rumah, lengkap dengan bagian yang mirip papan untuk menaruh telepon. Bentuknya sengaja dibuat berbeda dari gawai modern agar anak lebih terarah pada fungsi utama perangkat, yaitu menelepon, bukan berselancar di internet atau membuka konten digital.
Perangkat ini juga punya fitur yang jauh lebih sederhana dibanding smartphone. Tin Can dihubungkan langsung ke stopkontak dan menyediakan speakerphone, panggilan cepat, serta mesin penjawab otomatis untuk kebutuhan komunikasi dasar.
Selain itu, pengguna bisa melakukan panggilan gratis antarperangkat Tin Can dan ke layanan darurat. Untuk menghubungi nomor di luar jaringan, tersedia paket berlangganan sekitar 10 dolar AS per bulan yang memungkinkan panggilan ke nomor yang telah disetujui orang tua.
Diminati orang tua dan sekolah
Popularitas Tin Can tumbuh bukan hanya karena bentuknya yang unik, tetapi juga karena rekomendasi dari mulut ke mulut. Tin Can Untechnologies Inc., startup di balik perangkat ini, mengklaim penjualannya sudah mencapai ratusan ribu unit.
Minat itu datang terutama dari keluarga yang ingin memberi anak alat komunikasi, tetapi tetap menjaga batasan digital. Dalam konteks tersebut, Tin Can dianggap menawarkan jalan tengah antara kebutuhan untuk terhubung dan upaya mengurangi paparan layar sejak dini.
Sejumlah sekolah juga ikut mengadopsi perangkat ini. Nativity Parish School di dekat Kansas City menjadi salah satu contoh yang menerapkan Tin Can sebagai bagian dari pembatasan penggunaan smartphone di kalangan pelajar.
Di sekolah itu, sekitar 95 persen keluarga dengan anak dari taman kanak-kanak hingga kelas lima telah bergabung dalam program tersebut. Menariknya, siswa juga menggunakan direktori kertas untuk mencatat kontak, mengikuti cara komunikasi yang lebih lama dan lebih sederhana.
Mengurangi masalah sosial dari grup chat
Langkah serupa juga terlihat di St. James’ Episcopal School di Los Angeles. Sekolah ini berencana membagikan perangkat Tin Can kepada 220 keluarga sebelum libur musim panas guna mendukung komunikasi antar siswa tanpa bergantung pada grup chat.
Kebijakan itu muncul karena grup percakapan digital kerap memicu persoalan sosial di kalangan anak. Salah satu kekhawatiran yang muncul adalah perasaan tersisihkan ketika sebagian siswa tidak ikut dalam obrolan yang berlangsung di ruang digital.
Pendekatan seperti ini menunjukkan bahwa Tin Can tidak hanya diperlakukan sebagai alat komunikasi, tetapi juga sebagai bagian dari kebijakan sosial di lingkungan sekolah. Dengan fungsi yang terbatas, perangkat tersebut memberi ruang bagi anak untuk tetap terhubung tanpa membawa pola interaksi khas smartphone ke dalam kehidupan sehari-hari.
Alasan di balik tren ini
CEO Tin Can Untechnologies, Chet Kittleson, menyebut produk ini lahir dari kekhawatiran terhadap cara anak-anak berkomunikasi saat ini. Ia menilai percakapan suara dapat membantu anak mengembangkan kemampuan komunikasi yang lebih baik, termasuk belajar menghadapi jeda dalam percakapan.
Kebutuhan itu tampaknya beresonansi kuat di kalangan orang tua. Permintaan terhadap perangkat ini terus meningkat, bahkan perusahaan sempat mengalami gangguan server saat lonjakan instalasi terjadi pada Hari Natal.
Saat ini, Tin Can baru tersedia di Amerika Serikat dan Kanada. Belum ada keterangan apakah perangkat tersebut akan dirilis ke negara lain, tetapi minat yang muncul dari sekolah dan keluarga menunjukkan bahwa telepon bergaya jadul masih punya tempat di tengah protes terhadap dominasi smartphone.
Source: tekno.kompas.com








