Kejahatan siber terus berkembang dan kini makin sering menyasar dokumen digital yang tampak meyakinkan di layar. Berdasarkan data terbaru dari Kementerian Komunikasi dan Digital, kasus scam digital di Indonesia telah mencapai lebih dari 1.000 kasus setiap harinya.
Situasi itu membuat verifikasi keaslian dokumen jadi langkah penting sebelum seseorang menandatangani berkas atau mengambil keputusan finansial. Privy merespons kebutuhan tersebut dengan menghadirkan fitur cek dokumen langsung di aplikasi mobile agar pengguna bisa memeriksa validitas dokumen tanpa harus membuka laptop.
Verifikasi dokumen kini bisa dilakukan lebih cepat
Privy memperluas fungsi cek dokumen yang sebelumnya tersedia di web agar bisa dipakai di aplikasi mobile. Fitur ini dirancang untuk memudahkan pengguna yang menerima dokumen PDF lewat WhatsApp atau email.
Melalui fitur “Open With”, dokumen yang diterima bisa langsung dibuka di aplikasi Privy untuk mengecek tanda tangan digitalnya. Proses ini diklaim dapat dilakukan dalam hitungan detik, sehingga pengguna tidak perlu repot berpindah perangkat hanya untuk memeriksa keaslian.
Langkah ini sejalan dengan kampanye #CekDuluBaruPercaya yang sebelumnya diluncurkan pada Februari. Pesannya sederhana, yaitu jangan langsung percaya hanya karena dokumen terlihat rapi, lengkap dengan stempel, nama, atau tanda tangan.
Tanda tangan visual belum tentu asli
CEO dan Founder Privy, Marshall Pribadi, menegaskan bahwa tampilan dokumen yang meyakinkan tidak otomatis membuktikan keasliannya. Menurut dia, masih banyak tanda tangan digital yang hanya hasil scan atau copy-paste.
Marshall menyebut fitur ini disiapkan agar masyarakat bisa membuktikan keaslian dokumen melalui sistem, bukan sekadar menilai dari tampilan visual. Pernyataan itu menjadi pengingat bahwa scam digital sering memanfaatkan kepercayaan orang pada dokumen yang terlihat resmi.
Waspada juga diperlukan saat menerima surat penawaran kerja palsu atau dokumen fiktif yang menyasar pelaku UMKM. Dua jenis dokumen itu termasuk contoh ancaman yang masih terus muncul di ruang digital.
Tiga hasil verifikasi yang perlu dipahami
Saat dokumen diperiksa lewat aplikasi atau website Privy, sistem akan menampilkan tiga kategori hasil. Setiap hasil memberi petunjuk berbeda tentang tingkat kepercayaan dokumen yang diuji.
Tanda Tangan Terpercaya
Hasil ini muncul jika tanda tangan valid dan tersertifikasi. Pengguna bisa melihat riwayat lengkap siapa yang menandatangani dan siapa penyedia sertifikat elektroniknya.Tidak Ada Tanda Tangan Digital
Kategori ini berarti dokumen tidak memiliki sertifikasi digital resmi. Kondisi tersebut perlu diwaspadai karena keasliannya tidak bisa dipertanggungjawabkan secara hukum digital.- Dokumen Tidak Sepenuhnya Terpercaya
Hasil ini muncul jika identitas penandatangan tidak terdaftar di Komdigi atau bukan PSrE resmi seperti Privy. Status ini juga bisa muncul jika sistem mendeteksi adanya perubahan pada dokumen setelah ditandatangani.
Dengan indikator itu, pengguna dapat mengambil keputusan lebih hati-hati sebelum menerima, menandatangani, atau menggunakan dokumen untuk kepentingan tertentu.
Aktivitas verifikasi dan tanda tangan digital terus meningkat
Privy mencatat hampir 13 juta dokumen digital telah diverifikasi keasliannya sejak awal 2026. Angka itu menunjukkan bahwa kesadaran masyarakat untuk memeriksa dokumen sebelum mempercayainya mulai tumbuh.
Di sisi lain, penggunaan tanda tangan digital di platform Privy juga meningkat tajam. Pada Kuartal-I 2026, aktivitas tanda tangan tercatat naik hampir 250% secara tahunan dan menembus lebih dari 32 juta tanda tangan, dibandingkan 10 juta pada periode yang sama tahun sebelumnya.
Secara kumulatif, total dokumen yang sudah ditandatangani melalui ekosistem Privy mencapai 159 juta. Data ini memperlihatkan bahwa kebutuhan terhadap layanan digital trust makin besar, terutama di tengah meningkatnya risiko penipuan digital.
Keamanan data saat verifikasi tetap dijaga
Banyak pengguna khawatir soal keamanan saat mengunggah dokumen untuk dicek. Privy menyatakan dokumen yang diunggah untuk proses verifikasi tidak akan disimpan oleh sistem.
Aspek ini penting karena verifikasi dokumen sering melibatkan informasi sensitif, seperti identitas, kontrak, atau surat penting lainnya. Dengan perlindungan tersebut, pengguna bisa memeriksa keaslian dokumen tanpa harus mengorbankan privasi data.
Privy sendiri mengklaim memiliki 71 juta individu pengguna dan lebih dari 200 ribu perusahaan dalam ekosistemnya. Basis pengguna itu menempatkan layanan tersebut sebagai salah satu pemain utama di sektor digital trust di Indonesia.
Di tengah maraknya scam yang memanfaatkan dokumen palsu, kebiasaan memeriksa keaslian lewat sistem resmi menjadi semakin relevan. Sebelum bertindak berdasarkan dokumen digital, pengecekan di Privy dapat membantu memastikan apakah berkas itu benar-benar sah atau justru perlu dicurigai lebih dulu.







