John Ternus diproyeksikan mengambil alih kursi CEO Apple dari Tim Cook pada September, dan salah satu ujian pertamanya langsung menyentuh jantung bisnis perusahaan: harga iPhone. Di saat biaya komponen naik dan pasokan memori makin ketat, Apple harus menentukan apakah harga jual tetap dijaga atau ikut disesuaikan.
Keputusan itu tidak sederhana karena menyangkut margin keuntungan sekaligus daya tarik iPhone di pasar. Jika Apple menahan harga, tekanan biaya akan lebih besar terhadap laba, tetapi jika harga dinaikkan, risiko perlambatan penjualan ikut membesar.
Tekanan biaya komponen makin kuat
Laporan Financial Times menyebut Ternus harus segera mengambil sikap atas kebijakan harga iPhone di tengah lonjakan harga memori. JP Morgan menilai memori bisa menyumbang 45% dari total biaya komponen iPhone pada 2027, naik tajam dari sekitar 10% saat ini.
Kondisi itu muncul karena Apple tidak lagi leluasa mengamankan pasokan memori dalam jumlah besar. Perusahaan lain yang terlibat dalam infrastruktur AI, termasuk Nvidia, ikut memborong stok memori yang terbatas.
Situasi ini membuat ruang gerak Apple menyempit. Pilihan yang tersedia hanya dua, yakni menanggung kenaikan biaya komponen dan menerima tekanan pada margin, atau menaikkan harga iPhone dengan konsekuensi permintaan yang berpotensi melemah.
Dilema harga dan pangsa pasar
Wamsi Mohan, analis senior di Bank of America, menilai Apple kemungkinan besar akan berupaya mempertahankan atau merebut pangsa pasar. Ia mengatakan kepada Financial Times bahwa pada September Apple memiliki dua opsi besar, yaitu menaikkan harga atau memilih strategi agresif untuk pasar.
Pernyataan itu menggambarkan dilema yang akan dihadapi Ternus sejak awal masa jabatannya. Harga iPhone bukan hanya soal angka di etalase, tetapi juga sinyal tentang bagaimana Apple membaca kondisi pasar dan posisi kompetitifnya.
Apple selama ini dikenal menjaga citra premium pada iPhone, namun tekanan dari sisi biaya bisa memaksa penyesuaian. Di sisi lain, kenaikan harga yang terlalu tajam dapat memengaruhi persepsi konsumen dan membuka ruang bagi pesaing di segmen yang lebih sensitif terhadap harga.
Rantai pasok global ikut menguji strategi baru Apple
Selain harga, Ternus juga harus mengelola produksi dan rantai pasok iPhone serta produk Apple lain di China, India, dan Amerika Serikat. Saat ini sebagian besar iPhone masih diproduksi di China, sementara sekitar 25% diproduksi di India.
Perubahan rantai pasok itu tidak berjalan mulus. Keputusan Apple untuk memperluas produksi di India disebut mendapat respons dingin dari pemerintah China, bahkan pada Februari lalu muncul laporan bahwa China sengaja menjegal produksi iPhone di India.
Kondisi geopolitik ini memperlihatkan bahwa tantangan Apple tidak berhenti pada pabrik dan pemasok. Ternus harus menjaga keseimbangan agar Apple tetap efisien secara produksi, tetapi juga tidak terseret lebih jauh dalam gesekan antarnegara yang memengaruhi bisnis globalnya.
Warisan investasi yang harus dilanjutkan
Sebelum meninggalkan jabatan, Cook sempat meyakinkan pemerintahan Donald Trump bahwa Apple tidak mungkin memindahkan produksi iPhone ke Amerika Serikat. Meski begitu, Cook telah berkomitmen pada investasi bernilai ratusan miliar dolar dalam beberapa tahun ke depan, dan komitmen itu akan menjadi bagian dari pekerjaan Ternus.
Samik Chatterjee dari JP Morgan menilai investasi di AS akan menjadi faktor penting dalam strategi Apple beberapa tahun ke depan. Ia mengatakan tantangan bagi John Ternus adalah menempatkan perusahaan di posisi yang tepat, baik di mata Washington maupun Beijing.
Dengan tekanan harga iPhone, ketatnya pasokan memori, dan kompleksitas produksi lintas negara, masa awal kepemimpinan Ternus berpotensi langsung diwarnai keputusan berat. Apple kini harus membuktikan bahwa transisi dari Cook ke Ternus tidak mengganggu mesin utama bisnisnya, terutama pada produk yang paling menentukan wajah perusahaan di pasar global.






