Sony disebut mulai menerapkan kebijakan DRM yang jauh lebih ketat di PS5. Dampaknya langsung terasa pada game digital yang sudah dibeli pengguna, karena aksesnya kini bergantung pada verifikasi lisensi berkala lewat internet.
Perubahan ini mengejutkan banyak pemain karena game yang semula bisa dimainkan lebih bebas kini terikat pada aturan check-in online. Dalam praktiknya, konsol PS5 harus tersambung ke internet setidaknya sekali dalam 30 hari agar lisensi game tetap aktif.
Beberapa pengguna menemukan indikator baru seperti “validity period” dan “remaining time” di informasi game. Dua penanda itu menunjukkan bahwa masa akses game digital tidak lagi sepenuhnya permanen, melainkan harus diperbarui secara rutin.
Jika koneksi tidak dilakukan dalam periode tersebut, pemain berisiko kehilangan akses sementara ke game digital mereka. Kondisi itu tetap berlaku meski game tersebut sudah dibeli secara sah dan diunduh ke konsol.
Aturan ini disebut terutama muncul pada game yang diunduh setelah pembaruan firmware terbaru yang dirilis pada Maret lalu. Artinya, perubahan sistem tidak hanya memengaruhi game baru, tetapi juga cara konsol memvalidasi lisensi setelah pembaruan.
Verifikasi online jadi syarat utama
DRM, atau Digital Rights Management, berfungsi untuk mengontrol distribusi dan penggunaan konten digital. Dalam konteks game, sistem ini memastikan hanya pengguna dengan lisensi resmi yang bisa mengakses dan memainkan judul tertentu.
Di PS5, verifikasi dilakukan ke server penyedia layanan, yaitu Sony. Selama server mengonfirmasi lisensi masih valid, game bisa dimainkan seperti biasa tanpa hambatan berarti.
Masalahnya, pengaturan konsol sebagai perangkat utama atau primary console ternyata tidak lagi cukup untuk melewati sistem verifikasi tersebut. Dengan begitu, bahkan game single-player yang sebelumnya dapat dimainkan tanpa koneksi internet kini ikut terdampak.
Kebijakan ini juga mengubah cara memandang kepemilikan game digital. Pengguna tidak benar-benar memiliki game secara penuh, melainkan membeli lisensi untuk memakainya selama syarat akses terpenuhi.
Reaksi gamer dan kekhawatiran akses
Langkah Sony langsung memicu reaksi dari komunitas gamer. Banyak yang menilai kebijakan ini mengurangi kebebasan bermain, terutama bagi pengguna yang sering offline atau tinggal di wilayah dengan koneksi internet terbatas.
Kritik juga muncul karena aturan baru ini dianggap bertolak belakang dengan citra Sony pada era peluncuran konsol sebelumnya. Saat itu, Sony sempat menekankan bahwa PlayStation tidak memerlukan koneksi internet untuk memainkan game dan menjadikannya nilai lebih.
Kini, arah kebijakan tersebut terlihat berbeda. Pemain mulai mempertanyakan apakah pembelian game digital masih memberi nilai yang sama seperti dulu, apalagi jika aksesnya bisa bergantung pada status server dan koneksi berkala.
Dari sisi perusahaan, sistem ini bisa dipahami sebagai upaya menekan pembajakan dan menjaga ekosistem distribusi digital. Namun, tantangan terbesarnya tetap sama, yakni menyeimbangkan perlindungan konten dengan kenyamanan pengguna.
Jika server bermasalah atau pemain tidak memiliki akses internet dalam waktu lama, game yang sudah dibeli tetap tidak bisa dimainkan. Situasi ini membuat keamanan lisensi menjadi isu yang semakin penting dalam ekosistem game digital.
Hingga kini, Sony belum memberikan klarifikasi resmi terkait kebijakan tersebut. Yang jelas, perubahan ini memperlihatkan bahwa akses game digital di PS5 kini makin bergantung pada konektivitas dan sistem lisensi yang lebih ketat.
Source: pemmzchannel.com






