AirPods Max 2 Terasa Mewah Sekaligus Mengecewakan, Upgrade Baru Apple Dinilai Tanggung

Author: Qoo Media

Apple akhirnya membawa pembaruan yang lebih berarti ke lini headphone over-ear satu-satunya miliknya lewat AirPods Max 2. Namun setelah penantian panjang sejak model pertama hadir, perubahan yang datang dinilai masih belum sepenuhnya menjawab kelemahan lama, terutama jika melihat harga yang tetap bertahan di $549.

Daya tarik terbesarnya tetap ada pada kombinasi desain premium, integrasi erat dengan ekosistem Apple, dan active noise cancellation yang kuat. Masalahnya, AirPods Max 2 juga masih mewarisi isu berat bodi, kenyamanan yang belum ideal, dan daya tahan baterai yang tertinggal dari banyak pesaing di kelas headphone nirkabel premium.

Masih sangat mirip, tapi kini pakai H2

Secara tampilan, AirPods Max 2 praktis identik dengan model sebelumnya. Desain dari model 2020 dipertahankan, termasuk warna-warna yang sudah hadir pada revisi 2024 dengan USB-C, sehingga hampir tidak ada pembeda visual dengan unit generasi sebelumnya.

Apple memasukkan chip H2 yang lebih baru untuk mendorong peningkatan pada noise cancellation, kualitas audio, dan beberapa fitur tambahan. Meski begitu, pembaruan ini tidak mengubah fondasi utama perangkat, termasuk bentuk fisik, Smart Case, dan karakter ergonominya.

Konstruksi tetap menjadi salah satu nilai jual terkuatnya. Ear cup aluminium, sambungan logam yang rapi, tombol dan Digital Crown yang terasa presisi, serta detail finishing yang sangat halus membuat AirPods Max 2 tampil menonjol dibanding banyak rivalnya.

Ear pad magnetik juga tetap menjadi keunggulan praktis. Bantalan ini mudah dilepas dan dipasang kembali, serta suku cadangnya tersedia dari Apple maupun pihak ketiga.

Kenyamanan masih jadi titik lemah

Di balik kualitas rakitan yang mewah, kenyamanan justru masih menjadi masalah paling menonjol. Bobot AirPods Max 2 mencapai 386 gram, angka yang membuat headphone ini terasa berat dipakai lama, meski distribusi bobotnya lebih banyak berada di ear cup.

Tekanan jepit headband juga tergolong kuat, terutama saat unit masih baru. Efeknya, headphone terasa mantap dan tidak mudah bergeser, tetapi pengguna akan terus sadar ada beban dan tekanan di kepala setelah pemakaian cukup lama.

Masalah lain ada pada penyesuaian headband yang terbatas. Rentang ekstensi dinilai kurang panjang, sehingga bisa menyulitkan pengguna dengan ukuran kepala lebih besar dan membuat headphone kurang nyaman saat digantung di leher.

Tekstur ear pad berbahan kain juga tidak selalu langsung disukai semua orang. Gesekannya di sekitar telinga, terutama bagi pengguna dengan rambut wajah, bisa terasa mengganggu sebelum akhirnya terbiasa.

ANC jadi salah satu peningkatan paling jelas

Jika ada area yang paling terasa kuat, itu ada pada noise cancellation. AirPods Max 2 disebut sangat efektif meredam suara rumah tangga seperti kipas, AC, televisi, hingga bel pintu, bahkan sebelum sistem elektronik ANC aktif penuh karena bantalan telinganya sudah memberi isolasi pasif yang baik.

Di luar ruangan, headphone ini juga mampu menekan banyak suara sekitar hingga hanya bunyi yang sangat keras yang masih terdengar. Tingkat peredaman ini bahkan dinilai sekelas dengan AirPods Pro 3, sesuatu yang cukup mengejutkan mengingat headphone over-ear biasanya diharapkan unggul lebih jauh dari earbud.

Namun ANC yang sangat kuat itu punya efek samping. Dalam ruangan yang sudah tenang, kombinasi tekanan ear cup dan efek peredaman bisa terasa menekan telinga dan membuat sebagian pengguna kurang nyaman saat tidak ada audio yang sedang diputar.

Mode transparency tersedia, tetapi performanya dinilai tidak senatural AirPods Pro 3. Suara lingkungan terdengar lebih artifisial dan lebih rentan menangkap buffeting noise dari angin, termasuk dari kipas atau AC dalam ruangan.

Adaptive mode hadir sebagai titik tengah antara transparency dan ANC. Mode ini membiarkan sebagian suara masuk sambil tetap meredam bunyi yang terlalu keras, dan dinilai berguna dalam situasi seperti perjalanan udara.

Audio bagus, tetapi bukan tanpa catatan

Untuk kualitas suara, AirPods Max 2 memakai dynamic driver rancangan Apple dan amplifier high dynamic range baru. Dukungan konektivitas mencakup Bluetooth 5.3 dengan codec SBC dan AAC, serta mode kabel melalui USB-C ke USB-C atau kabel USB-C ke 3,5 mm buatan Apple yang punya DAC/ADC bawaan.

Secara umum, kualitas audionya dinilai baik. Karakter suaranya berbentuk V-shape, dengan dorongan kuat di area sub-bass yang membuat dentuman dan getaran nada rendah terasa besar, tetapi dalam beberapa konten bisa terdengar berlebihan.

Pada sisi mid dan treble, ada penurunan yang cukup jelas di area upper-mid hingga lower-treble. Dampaknya, sebagian vokal dan detail tertentu bisa terdengar lebih redup atau keruh, lalu diikuti treble atas yang justru lebih menonjol dan kadang memicu sibilance atau kesan tajam.

Detail dan imaging disebut rata-rata untuk kelas harganya. Panggung suara juga cenderung terasa berada di dalam ear cup, kecuali saat memutar konten Spatial Audio.

AirPods Max 2 mendukung Adaptive Audio dan Adaptive EQ untuk menyesuaikan suara dengan bentuk telinga, kecocokan pemakaian, dan level volume. Sistem ini memakai mikrofon internal untuk memantau kebocoran suara dan menjaga karakter audio tetap konsisten.

Kuat di ekosistem Apple, kurang menarik di luar itu

AirPods Max 2 paling masuk akal dipakai bersama perangkat Apple. Saat dipasangkan ke iPhone atau Mac, pengguna bisa mengakses pengaturan ANC, Spatial Audio, head gestures, Find My, hingga fitur lain langsung dari menu sistem, dan perpindahan antarperangkat Apple berjalan sangat mulus.

Fitur tambahannya tergolong memadai, termasuk Adaptive Audio, loud sound reduction, Live Translation, dan voice isolation. Meski begitu, model ini masih tertinggal dari AirPods Pro 3 yang sudah punya fitur seperti Hearing Test, Hearing Aid dengan automatic conversion boost, hearing protection, hingga heart rate monitoring.

Kualitas mikrofon menjadi salah satu kejutan terbaik. Dalam ruangan tenang, hasil tangkapan suara disebut sangat jernih untuk ukuran perangkat Bluetooth, bahkan mendekati mikrofon berkabel, sementara di tempat ramai sistem tetap menjaga kualitas suara pengguna meski kebisingan latar belum sepenuhnya hilang.

Konektivitas nirkabel juga sangat stabil. Untuk mode kabel, headphone ini muncul sebagai perangkat audio USB 24-bit/48kHz, tetapi peningkatan kualitas suara dibanding mode Bluetooth dinilai tidak signifikan dan mikrofon tidak berfungsi saat dipakai secara kabel di platform mana pun.

Baterai cukup, tapi bukan unggulan

Apple memberi klaim daya tahan baterai 20 jam, dan pengujian mencatat pemakaian 21 jam 36 menit dengan ANC aktif. Hasil itu memang sedikit melampaui klaim, tetapi tetap terbilang rendah untuk headphone full-size ketika banyak pesaing menawarkan setidaknya 30 jam.

Pengisian cepat masih cukup membantu. Setelah pengisian 10 menit, headphone ini mencatat waktu pakai 3 jam 25 menit, sementara Apple sendiri menyebut 5 menit pengisian bisa memberi 1,5 jam mendengarkan.

Soal tombol daya, pendekatan Apple belum berubah. AirPods Max 2 tidak punya tombol power khusus, dan cara untuk benar-benar mematikannya tetap dengan memasukkannya ke Smart Case yang bentuknya sudah lama memicu perdebatan karena hanya menutup bagian ear cup.

Meski begitu, konsumsi daya saat dibiarkan di luar case semalaman disebut relatif kecil, hanya turun 1 persen dalam 8 jam. Smart Case juga tetap dinilai praktis untuk disimpan karena ukurannya lebih ringkas dari hard case biasa, meski lubang pengisian dayanya kadang tidak sejajar sempurna dengan port.

Source: www.gsmarena.com
Terbaru