Samsung membukukan kuartal pertama yang sangat besar, tetapi pendorong utamanya bukan ponsel Galaxy. Lonjakan kinerja perusahaan justru datang dari ledakan permintaan memori untuk AI, saat bisnis smartphone menghadapi tekanan profit di tengah pasar yang melambat.
Pada kuartal pertama 2026, pendapatan konsolidasi Samsung mencapai 133,9 triliun KRW atau sekitar $90 miliar. Angka itu naik 43% dibanding kuartal sebelumnya, sementara laba operasional melonjak 753% secara tahunan menjadi 57,2 triliun KRW.
AI jadi mesin uang utama
Kenaikan tajam itu terutama ditopang divisi Device Solutions (DS), rumah bagi bisnis semikonduktor Samsung. Divisi ini mencatat pendapatan 81,7 triliun KRW, dengan bisnis memori membukukan rekor penjualan kuartalan baru.
Permintaan global terhadap memori AI menjadi pendorong utama. Perusahaan teknologi besar dan pengembang AI enterprise terus mencari memori canggih untuk server dan platform komputasi generatif.
Samsung memanfaatkan momentum itu dengan mempercepat kepemimpinan teknologinya. Perusahaan menjadi yang pertama memproduksi massal HBM4 dan SOCAMM2 untuk platform Vera Rubin milik NVIDIA.
Selain itu, Samsung juga merilis SSD PCIe Gen6 sesuai jadwal. Langkah ini memperkuat posisinya di tengah perubahan cepat kebutuhan infrastruktur AI.
Kinerja semikonduktor juga terbantu oleh pasokan yang terbatas dan harga industri yang lebih tinggi. Namun, fokus Samsung pada keunggulan teknis membuat perusahaan bisa menangkap manfaat yang lebih besar dari kondisi pasar tersebut.
Permintaan itu belum menunjukkan tanda melambat dalam waktu dekat. Samsung menyatakan akan mengirim sampel HBM4E pertamanya pada kuartal kedua untuk menjaga keunggulan di segmen memori AI.
Perusahaan juga melihat permintaan memori server tetap sangat tinggi. Tren ini didorong semakin luasnya penggunaan agentic AI di berbagai kebutuhan komputasi.
Galaxy tetap menyumbang, tapi tak lagi jadi bintang utama
Di sisi lain, divisi MX yang menaungi ponsel Galaxy tetap menghasilkan pendapatan besar. Divisi ini membukukan pendapatan 38,1 triliun KRW, naik 30% dari kuartal sebelumnya.
Kenaikan itu ditopang strategi fokus pada produk premium dan efisiensi biaya. Namun, laba operasional justru turun 34,88% dibanding periode yang sama tahun lalu.
Kondisi itu menunjukkan bahwa penjualan ponsel masih membawa arus kas, tetapi tidak menjadi motor utama lonjakan laba Samsung kali ini. Di saat bisnis chip melesat karena AI, bisnis mobile menghadapi tantangan profitabilitas meski mendorong lini premium.
Samsung juga mengakui dorongan awal dari peluncuran produk mulai memudar. Perusahaan memperkirakan pendapatan pada kuartal kedua akan menurun.
Untuk menjaga momentum, Samsung menyiapkan peluncuran perangkat A-series baru. Perusahaan juga berencana memberi perhatian lebih besar pada ponsel lipat pada paruh akhir 2026.
Arah bisnis berikutnya
Sementara bisnis ponsel mencari pijakan baru, Samsung terus menyiapkan fondasi untuk generasi perangkat berikutnya. Bisnis foundry perusahaan sedang bersiap meningkatkan produksi chip 2nm untuk produk mobile pada paruh kedua 2026.
Targetnya adalah menghadirkan chip yang lebih cepat dan efisien untuk perangkat Galaxy mendatang. Ini menunjukkan bahwa walau ponsel belum menjadi penyumbang terbesar laba saat ini, bisnis mobile tetap menjadi bagian penting dari strategi jangka panjang Samsung.
Hasil kuartal pertama ini memperlihatkan pergeseran pusat gravitasi bisnis Samsung. Jika sebelumnya smartphone sering menjadi wajah utama perusahaan di mata konsumen, kali ini keuntungan besar justru datang dari komponen yang bekerja di balik layar pusat data AI.
Bagi pasar, pesan yang muncul cukup jelas. Samsung sedang menikmati gelombang AI global melalui bisnis memori, sementara lini Galaxy masih harus membuktikan bahwa strategi premium dan efisiensi bisa kembali mengangkat profit, bukan sekadar menjaga penjualan.
Source: www.androidcentral.com






