Transformasi digital kini masuk ke fase yang semakin menentukan bagi arah pembangunan nasional. Dalam konteks itu, 5G dan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) mulai dipandang bukan sekadar teknologi pendukung, melainkan infrastruktur kritis nasional yang akan menopang berbagai sektor penting.
Pandangan tersebut menguat karena 5G memberi konektivitas berkecepatan tinggi, latensi rendah, dan kapasitas besar. Sementara AI mengolah data menjadi insight, meningkatkan efisiensi, dan membuka ruang inovasi di banyak bidang.
5G dan AI sebagai fondasi pertumbuhan digital
Direktur Jenderal Infrastruktur Digital Kementerian Komunikasi dan Digital (Kemenkomdigi) Wayan Toni Supriyanto menilai, pemanfaatan 5G dan AI berperan besar dalam mewujudkan visi Indonesia Emas 2045. Menurut dia, keduanya perlu ditempatkan sebagai infrastruktur kritis nasional karena dampaknya sudah merambah industri, layanan publik, hingga ekonomi digital.
Wayan menjelaskan, 5G memungkinkan lahirnya inovasi baru di industri 4.0, layanan kesehatan digital, dan kota cerdas. AI kemudian memperkuat proses itu dengan membantu pengambilan keputusan berbasis data dan mendorong efisiensi operasional.
Ia menyebut integrasi 5G dan AI akan melahirkan model bisnis baru serta mempercepat transformasi di sektor publik maupun industri. Karena itu, tantangan Indonesia tidak berhenti pada pembangunan jaringan, tetapi juga pada bagaimana teknologi itu digunakan secara inklusif dan aman.
Kebijakan harus mengikuti laju teknologi
Wayan menekankan bahwa transformasi digital memerlukan kerangka kebijakan dan regulasi yang adaptif. Pemerintah, menurut dia, perlu menjaga keseimbangan antara tata kelola yang baik dan ruang yang cukup bagi inovasi serta investasi.
Arah kebijakan Kemenkomdigi mencakup percepatan pengembangan teknologi melalui optimalisasi spektrum. Selain itu, pemerintah juga menyiapkan tata kelola yang berkelanjutan dan bertanggung jawab, penguatan perlindungan data pribadi, serta iklim investasi yang mendukung pembangunan infrastruktur digital.
Pendekatan ini penting karena teknologi digital bergerak cepat dan semakin terhubung dengan layanan publik maupun aktivitas bisnis. Jika kebijakan tertinggal, manfaat ekonomi dari 5G dan AI berisiko tidak optimal.
Potensi ekonomi 5G makin besar
Presiden Direktur Ericsson Indonesia Nora Wahby menilai 5G akan menjadi fondasi digital yang krusial bagi Indonesia Emas 2045. Ia juga menyebut 5G sebagai infrastruktur strategis yang memungkinkan AI berkembang dalam skala besar.
Nora mengatakan, 5G diproyeksikan berkontribusi hingga US$ 41 miliar terhadap PDB nasional pada periode 2024 hingga 2030. Nilai itu mencerminkan potensi besar dari inovasi yang tumbuh di atas jaringan 5G.
Untuk memaksimalkan peluang tersebut, ia menilai percepatan penggelaran jaringan 5G standalone atau SA menjadi langkah penting. Jaringan ini dibutuhkan untuk mendukung lonjakan penggunaan data seluler dan beban kerja AI yang terus meningkat di berbagai sektor industri.
Dampak ke sektor publik dan industri
Kehadiran 5G dan AI membuka ruang pemanfaatan yang lebih luas bagi sektor-sektor strategis. Di layanan publik, teknologi ini dapat mendukung sistem yang lebih cepat, responsif, dan berbasis data.
Di sektor industri, kombinasi keduanya mendorong otomatisasi, efisiensi, dan pengembangan layanan baru. Kondisi itu membuat 5G dan AI tidak lagi dipandang sebagai teknologi masa depan, melainkan bagian dari kebutuhan infrastruktur saat ini.
Perubahan ini juga menegaskan bahwa pembangunan digital tidak cukup hanya dengan memperluas jaringan. Pemerintah dan pelaku industri perlu memastikan ekosistemnya aman, produktif, dan benar-benar memberi manfaat bagi masyarakat luas.
Source: www.beritasatu.com