Pindah Dari iPhone Ke Android, Ternyata Apple Tetap Mengikat Hidup Saya

Satu bulan lebih setelah berpindah dari iPhone ke Android, pengalaman itu belum sepenuhnya terasa seperti lepas dari Apple. Justru yang paling mengejutkan adalah betapa tipis jarak antara dua ekosistem yang dulu terasa sangat berbeda.

Keputusan itu bermula dari Siri yang terus mengecewakan, termasuk saat gagal memutar musik ketika berlari. Pengguna yang sudah memakai iPhone sejak iPhone 3GS itu juga baru saja meninjau Samsung Galaxy S26 dan kembali mengingat kemampuan Gemini sebagai asisten ponsel yang lebih meyakinkan.

Pindahnya mudah, urusan di belakang layar tidak

Proses awal perpindahan ternyata tidak dimulai dengan masalah teknis di ponsel, melainkan dengan operator seluler. Perpindahan nomor butuh tiga hari dan membuat semuanya terasa lebih melelahkan dari yang dibayangkan.

Setelah itu, pemindahan data justru berjalan jauh lebih sederhana. Aplikasi Samsung Smart Switch memindahkan aplikasi dan kontak dari iPhone secara nirkabel dan cepat, meski 13.000 foto tidak ikut dipindahkan agar proses tidak jauh lebih lama.

Smart Switch juga memberi saran alternatif untuk aplikasi iOS yang tidak punya versi Android. Salah satu kendala terbesar datang dari Apple Fitness+, yang selama bertahun-tahun dipakai untuk yoga, lalu digantikan Find What Feels Good dari Yoga with Adriene dan kawan-kawan dengan biaya $15 per bulan.

Pemindahan kata sandi juga berlangsung lebih mulus dari dugaan. Fitur “Export data” di Apple Passwords memungkinkan pemilihan kata sandi, pengiriman ke aplikasi yang kompatibel seperti Chrome, lalu Google Password Manager mengambil alih.

Masalah terbesar datang dari pesan teks

Semua terasa cukup lancar sampai Google Messages dibuka. Di sana, ternyata kontak bisa ikut pindah, tetapi pesan tidak ikut, dan menyusun ulang riwayat percakapan menjadi pengalaman yang jauh lebih berat.

Masalah pertama muncul karena iMessage masih menangkap pesan dari pengguna iPhone lain. Ini terjadi karena iMessage belum dimatikan sebelum perpindahan, dan setelah eSIM dilepas, kartu itu harus dipasang lagi untuk mematikan iMessage sebelum dipindahkan kembali ke ponsel baru.

Jika ponsel lama sudah dijual atau diberikan ke orang lain, akun harus dideregistrasi ke Apple. Setelah itu pun, percakapan grup tetap bermasalah dan dalam salah satu grup yang berisi empat ibu, hanya satu peserta yang pesannya terlihat dengan benar.

Upaya memperbaiki chat grup juga tidak berjalan mulus meski RCS sudah aktif di beberapa sisi. Setelah membaca forum, menonton video panduan, mengutak-atik pengaturan, dan menghubungi layanan pelanggan operator berkali-kali, hasilnya tetap gagal sampai akhirnya ganti operator dan chat grup mulai berfungsi.

Android kini lebih dekat ke iPhone

Pengalaman itu juga menunjukkan bahwa Android sekarang jauh lebih mirip iPhone dibanding setahun lalu. Apple akhirnya mendukung RCS, sehingga gelembung pesan biru dan hijau jadi lebih serupa, dengan read receipts, indikator mengetik, dan pengiriman gambar yang tidak lagi sekecil dulu.

Fungsi berbagi file pun makin sepadan. AirDrop yang lama dipakai hampir setiap hari di Apple kini punya padanan di Android lewat aplikasi Quick Share yang diperbarui, dan fitur itu sudah beberapa kali dipakai untuk memindahkan foto dari ponsel Galaxy ke MacBook tanpa kendala.

Peralihan dari Apple Pay ke Google Wallet juga berjalan lancar. Satu hal yang sedikit mengecewakan adalah ponsel Samsung tidak punya pengenalan wajah yang cukup kuat untuk otentikasi pembayaran, sehingga sidik jari jadi pilihan utama.

Yang masih terasa hilang

Ada beberapa kebiasaan iPhone yang masih sulit diganti. Visual voicemail di ponsel Android itu tidak mau memuat, sehingga pesan suara harus diakses lewat layanan panggilan, sesuatu yang terasa seperti kembali ke era telepon rumah.

Talk-to-text di Gboard juga belum setara untuk semua emoji. Beberapa frasa seperti “happy emoji” dan “heart emoji” bekerja, tetapi banyak emoji lain justru diketik sebagai kata-kata biasa, yang mengganggu alur komunikasi.

Pemberitahuan juga terasa berbeda. Di Android, lencana notifikasi hilang ketika panel notifikasi dibersihkan, sementara di iPhone lencana baru hilang setelah aplikasi dibuka, dan perbedaan itu sempat membuat pesan masuk terasa seperti tidak ada.

Tetap tidak bisa benar-benar lepas dari Apple

Meski begitu, banyak hal di Android justru disukai. Perintah suara “hey, Google” lebih sering berhasil, navigasi saat berkendara terasa lebih akurat, dan pengalaman dengan Google Messages, Samsung Health, serta bubble mengambang untuk pesan dinilai lebih nyaman.

Namun Apple tetap sulit ditinggalkan sepenuhnya. iPad masih dipakai bersama anak, kontrol orang tua Apple masih dibutuhkan untuk membatasi waktu layar, dan 13.000 foto tetap tersimpan di Apple Photos, yang berarti langganan iCloud $3 kemungkinan terus berjalan.

Ekosistem lain juga masih mengikat. Pengguna ini tetap seorang pengguna MacBook, tidak berniat membeli PC, dan bahkan untuk laptop pertama anak, pilihan yang akhirnya dipertimbangkan adalah Neo, bukan komputer Windows biasa.

Berita Terkait

Back to top button