Kreator Konten Mulai Meninggalkan Kamera, Smartphone Dinilai Lebih Praktis dan Cukup Mumpuni

Smartphone kini makin sering dipilih kreator konten untuk produksi harian, termasuk saat bepergian. Perubahan ini bukan hanya soal kamera ponsel yang semakin baik, tetapi juga soal cara kreator bekerja yang menuntut perangkat lebih ringkas dan praktis.

Bagi kreator yang banyak bergerak, membawa kamera profesional dan berbagai perlengkapannya dinilai tidak selalu efisien. Di tengah tren konten video pendek yang menuntut kecepatan dan spontanitas, ponsel justru dianggap lebih sesuai dengan kebutuhan produksi masa kini.

Pandangan itu disampaikan travel content creator Andi Garcia dalam workshop Galaxy S26 Series #YouandAICan di Hanoi, Vietnam. Jurnalis Kompas.com, Marsha Bremanda, hadir langsung dalam acara tersebut.

Andi menilai terlalu banyak membawa perlengkapan saat traveling justru bisa mengurangi pengalaman perjalanan itu sendiri. Aktivitas yang seharusnya dinikmati berubah menjadi rutinitas mengejar gambar untuk konten.

Menurut dia, perlengkapan kamera yang biasa dibawa bahkan bisa mencapai sekitar 5 kilogram. Beban itu membuat proses produksi terasa berat, sekaligus menggeser fokus dari pengalaman perjalanan menjadi sekadar proses pengambilan footage.

Ia mengatakan, ketika terlalu sibuk dengan alat, yang tersisa justru ingatan tentang kesulitan selama perjalanan. Momen traveling yang semestinya berkesan malah tertutup oleh aktivitas shooting yang terus-menerus.

Penonton Bergeser ke Konten yang Lebih Natural

Perubahan pilihan perangkat juga dipengaruhi perubahan selera penonton di media sosial. Andi melihat audiens kini lebih tertarik pada konten yang terasa mentah, otentik, dan sederhana.

Ia menjelaskan, dulu video cinematic yang diambil dengan kamera mirrorless sering menjadi standar konten yang dianggap ideal. Kini, tren short video membuat banyak penonton lebih menyukai tayangan yang terasa realistis dibanding visual yang terlalu sempurna.

Menurut Andi, video yang terlalu rapi dan terlalu indah kadang justru membangun ekspektasi yang berbeda dengan kondisi sebenarnya. Karena itu, pendekatan visual yang lebih natural mulai dianggap lebih relevan dengan kebiasaan konsumsi konten saat ini.

Perubahan selera ini membuat smartphone mendapat tempat yang lebih besar dalam proses produksi. Ponsel dinilai lebih cocok untuk menangkap momen secara cepat tanpa terlalu banyak persiapan teknis.

Bukan Lagi Sekadar Alternatif

Andi mengaku pernah cukup idealis dalam penggunaan kamera profesional. Namun dalam perkembangannya, ia merasa smartphone kini sudah cukup untuk memenuhi kebutuhan produksi konten sehari-hari.

Ia bahkan menilai kemampuan smartphone saat ini bisa mendekati kamera mirrorless. Menurut dia, ponsel sudah memiliki fitur tertentu yang mampu menghasilkan visual 95 persen hingga 98 persen mirip dengan kamera mirrorless.

Pengalaman itu ia rasakan setelah mulai membuat konten dengan Galaxy S24 Ultra. Setelah itu, ia beralih ke Galaxy S25 Ultra dan kini menggunakan Galaxy S26 Ultra.

Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa smartphone tidak lagi diposisikan hanya sebagai alat cadangan. Bagi sebagian kreator, ponsel kini sudah menjadi perangkat utama karena bisa menyeimbangkan kualitas visual dan efisiensi kerja.

Fitur Produksi Jadi Penentu

Selain kamera yang makin mumpuni, fitur produksi pada smartphone juga menjadi faktor penting. Salah satu yang paling diperhatikan Andi adalah fitur log video pada ponsel Galaxy.

Ia menilai fitur itu mempermudah proses pengambilan video karena pengguna bisa melihat exposure dan pencahayaan dengan lebih akurat sebelum masuk ke tahap editing. Hal ini penting bagi kreator yang ingin menjaga konsistensi hasil visual sejak awal proses produksi.

Menurut Andi, kehadiran log video with preview di Galaxy S26 Ultra membuat alur kerjanya jauh lebih sederhana saat traveling sambil membuat konten. Fitur tersebut memungkinkan pengguna melihat hasil visual video dengan lebih jelas ketika proses pengambilan gambar sedang berlangsung.

Dengan tampilan preview itu, kreator bisa lebih mudah mengatur exposure, shadow, dan pencahayaan tanpa perlu banyak menebak hasil akhir setelah editing. Bagi kreator yang bekerja cepat di lapangan, kemudahan seperti ini dapat memangkas proses koreksi yang biasanya memakan waktu.

Andi juga menilai penggunaan log video memberi ruang untuk membangun karakter visual yang lebih personal. Menurut dia, setiap kreator memiliki “warna” masing-masing, sehingga fleksibilitas dalam pengolahan gambar menjadi nilai penting.

Bagi kreator konten perjalanan, kombinasi perangkat yang ringan dan workflow yang lebih sederhana kini menjadi pertimbangan utama. Dalam konteks itu, smartphone semakin dilihat bukan sekadar alat praktis, tetapi juga perangkat yang mampu mengikuti kebutuhan produksi konten yang cepat, natural, dan tetap punya identitas visual kuat.

Source: tekno.kompas.com

Terkait