AS Perketat Aturan Uji Smartphone, Harga HP China Murah Terancam Ikut Naik

Author: Qoo Media

Amerika Serikat mengambil langkah baru dalam persaingan teknologinya dengan China dengan memperketat aturan pengujian perangkat seperti smartphone, tablet, router, dan laptop. Kebijakan ini disetujui Federal Communications Commission (FCC) dan berpotensi langsung memengaruhi harga perangkat yang dijual di pasar AS.

Aturan baru itu melarang laboratorium di China dan Hong Kong menguji perangkat yang akan dipasarkan di Amerika. Dampaknya dinilai tidak sekadar administratif, karena proses sertifikasi merupakan tahapan wajib sebelum produk bisa dijual secara resmi.

Selama ini, perangkat yang memancarkan frekuensi radio harus lolos sertifikasi FCC untuk memastikan standar emisi dan kompatibilitas jaringannya terpenuhi. Untuk memenuhi syarat itu, produsen harus mengirim produk ke laboratorium pengujian sebelum perangkat masuk ke pasar.

Masalahnya, sekitar 75 persen perangkat yang masuk ke Amerika selama ini diuji di laboratorium berbasis di China. Ketika akses ke laboratorium tersebut ditutup, produsen harus mencari lokasi pengujian baru di negara lain.

Pilihan yang tersedia antara lain memindahkan pengujian ke AS, Jepang, Inggris, atau Taiwan. Perubahan ini membuat rantai produksi menjadi lebih rumit, terutama bagi perusahaan yang pabriknya berada di China.

Perangkat kini berpotensi harus dikirim dari pabrik di China ke negara lain untuk proses sertifikasi, lalu baru masuk ke pasar AS. Rute seperti itu menambah tahapan logistik dan berisiko memperpanjang waktu peluncuran produk.

Dampak lain yang paling disorot adalah biaya. Selama ini, pengujian di China relatif murah, yakni sekitar 400 hingga 1.300 dollar AS.

Di AS, biaya pengujian bisa naik jauh lebih tinggi, yaitu sekitar 3.000 hingga 4.000 dollar AS. Selisih biaya itu berpotensi menaikkan ongkos produksi dan pada akhirnya bisa ikut mendorong harga jual perangkat.

Bagi konsumen, perubahan seperti ini penting karena smartphone dan perangkat elektronik lain sangat bergantung pada efisiensi rantai pasok global. Ketika satu titik dalam proses produksi dan sertifikasi berubah, efeknya bisa merambat ke biaya, distribusi, dan kecepatan produk masuk pasar.

Menurut Android Headlines, langkah FCC ini merupakan pengetatan dari kebijakan yang sudah lebih dulu diterapkan. Pada 2025, FCC telah melarang pengujian di laboratorium yang terkait dengan pemerintah China.

Kini, larangan itu diperluas sehingga mencakup semua laboratorium di China dan Hong Kong. Dengan demikian, ruang gerak perusahaan teknologi untuk tetap menggunakan fasilitas pengujian yang selama ini dominan menjadi jauh lebih sempit.

FCC menyatakan langkah tersebut diambil untuk mengurangi risiko terhadap keamanan nasional. Selain itu, kebijakan ini juga disebut sebagai bagian dari upaya membatasi akses China terhadap teknologi AS.

Di sisi lain, keputusan itu menunjukkan bahwa persaingan Washington dan Beijing kini tidak hanya terjadi pada chip, perangkat jaringan, atau pembatasan ekspor. Tahap yang sangat teknis seperti sertifikasi perangkat konsumen pun kini ikut menjadi bagian dari arena kebijakan strategis.

Kondisi ini menempatkan produsen gadget pada posisi yang tidak mudah. Mereka harus menyesuaikan jalur produksi dan kepatuhan regulasi secara cepat, sambil tetap menekan biaya agar produk tetap kompetitif.

Perusahaan besar sudah mulai beradaptasi dengan perubahan tersebut. Apple dan SpaceX dilaporkan telah memindahkan sebagian proses sertifikasi ke negara lain seperti Jepang dan Inggris, sebagaimana dihimpun KompasTekno dari GSM Arena.

Langkah itu memberi sinyal bahwa pelaku industri mulai menata ulang operasi mereka sebelum aturan ini benar-benar mengubah peta pengujian perangkat. Bagi perusahaan yang memiliki volume pengiriman besar, keputusan soal lokasi sertifikasi kini menjadi semakin strategis.

Beban penyesuaian kemungkinan akan terasa lebih berat bagi vendor yang selama ini sangat bergantung pada efisiensi biaya dari ekosistem manufaktur dan pengujian di China. Jika biaya kepatuhan naik, ruang untuk menjaga harga tetap rendah menjadi semakin terbatas.

Situasi ini juga bisa berdampak pada segmen perangkat yang sensitif terhadap harga. Ponsel murah dan produk elektronik konsumen lain berisiko menjadi kelompok yang paling cepat merasakan tekanan dari kenaikan biaya sertifikasi dan logistik.

Pada akhirnya, aturan baru FCC menegaskan bahwa persaingan AS dan China kini bergerak ke level yang semakin detail dan menyentuh langsung pasar perangkat sehari-hari. Konsumen mungkin tidak melihat proses sertifikasi di balik layar, tetapi perubahan kebijakan ini bisa berujung pada harga yang lebih tinggi dan proses distribusi yang lebih panjang di pasar Amerika.

Source: tekno.kompas.com
Terbaru