Di era USB-C, meminjam charger ponsel nyaris tak lagi jadi masalah. Banyak perangkat kini memakai konektor yang sama, sehingga satu kabel bisa dipakai lintas merek dan model.
Kondisinya sangat berbeda pada awal 2000-an hingga masa awal Android. Saat itu, banyak produsen ponsel memakai port charger buatan sendiri dengan bentuk yang tidak lazim, rentan rusak, dan sering memaksa pengguna membeli kabel khusus.
Fenomena itu muncul karena belum ada standar universal seperti sekarang. Produsen berlomba membuat satu konektor untuk banyak fungsi, mulai dari pengisian daya, transfer data, sampai audio.
Hasilnya memang terlihat praktis di atas kertas, tetapi penerapannya sering menyulitkan pengguna. Ada port yang terlalu tipis, ada yang hanya ditahan kait plastik rapuh, dan ada juga yang bentuknya membuat orang bingung saat hendak mencolokkan kabel.
Port yang terlihat canggih, tetapi menyusahkan
Salah satu contoh paling unik adalah Siemens Slim-Lumberg. Port 12-pin ini dipakai untuk charging, transfer data, sekaligus audio stereo dalam satu konektor tipis memanjang.
Masalah muncul dari desain fisiknya yang terlalu tipis dan melebar keluar dari bodi ponsel. Port ini memakai sistem Surface-Mount Device atau SMD, sehingga hanya disolder di permukaan papan sirkuit, bukan dengan pin logam yang tertanam kuat di motherboard.
Akibatnya, colokan yang lebar itu bekerja seperti tuas saat terkena tekanan. Dorongan kecil saja bisa mengangkat jalur solder dari motherboard dan membuat koneksi rusak total.
Sony Ericsson juga pernah mencoba pendekatan serba satu lewat FastPort. Konektor yang dikenalkan sekitar 2005 ini mendukung charging, transfer file, dan headset dalam satu port 12-pin.
Namun FastPort tidak masuk dalam ke bodi ponsel seperti konektor modern. Sambungannya justru menempel rata di sisi bawah perangkat dan mengandalkan dua kait plastik kecil agar tetap terkunci.
Kait plastik itu dikenal rapuh dan sering patah setelah beberapa bulan pemakaian. Saat penguncinya rusak, kabel menjadi longgar dan mudah copot sendiri karena tidak ada lagi tekanan yang menjaga pin tetap menempel stabil.
Di berbagai forum internet lama, sebagian pengguna bahkan harus mengikat ponsel dan charger dengan karet gelang atau ikat rambut. Cara darurat itu dipakai agar proses charging tidak terputus-putus.
Bentuknya membingungkan
Samsung juga sempat menghadirkan port yang terlihat aneh lewat Galaxy Note 3 dan Galaxy S5. Kedua ponsel ini memakai USB 3.0 Micro-B, yang bentuknya tampak seperti dua port Micro-USB digabung menjadi satu.
Desain itu dibuat untuk mendukung kecepatan transfer data USB 3.0 yang lebih tinggi. Meski begitu, tampilannya dianggap terlalu besar untuk smartphone dan terlihat janggal di bagian bawah perangkat.
Menariknya, port ini masih kompatibel dengan kabel Micro-USB biasa. Pengguna cukup mencolokkan kabel ke sisi kanan port, tetapi banyak orang tidak menyadari hal itu karena desainnya telanjur terlihat membingungkan.
Samsung pada akhirnya meninggalkan eksperimen tersebut. Generasi berikutnya kembali memakai port yang lebih umum.
HTC punya pendekatan berbeda lewat ExtUSB atau Extended USB. Port ini digunakan pada HTC Dream atau HTC G1, salah satu ponsel Android pertama di dunia.
ExtUSB bisa menyalurkan audio, file, dan daya sekaligus lewat satu konektor. HTC menambahkan pin khusus di sudut port dengan desain yang dimodifikasi dari Mini-USB biasa.
Masalahnya, HTC Dream tidak memiliki jack audio 3,5 mm standar. Artinya, pengguna yang ingin mendengarkan musik atau memakai headset kabel harus memanfaatkan pin audio tersembunyi itu.
Situasi ini membuat pengguna tetap bergantung pada aksesori khusus. Meski charger Mini-USB biasa masih bisa dipakai, adaptor ExtUSB khusus HTC tetap dibutuhkan untuk mencolokkan earphone normal.
Rapuh dan sensitif terhadap debu
Nama besar Nokia juga pernah hadir dengan solusi konektor yang merepotkan lewat Pop-Port. Konektor yang diperkenalkan sekitar 2002 ini dipakai untuk charging, sinkronisasi data USB, antena radio FM, hingga headset stereo.
Secara fungsi, Pop-Port sangat serbaguna. Namun desain fisiknya tergolong rapuh karena konektornya hanya menempel dangkal di bagian bawah ponsel, tidak masuk dalam dan terlindungi seperti port modern.
Konektor ini memakai tab plastik panjang dengan 14 pin yang langsung bersentuhan dengan kontak terbuka di bodi perangkat. Sambungannya hanya ditahan klip plastik kecil dan mekanisme pengait sederhana yang lama-lama mudah longgar.
Karena posisi pin terbuka dan koneksi sangat dangkal, Pop-Port menjadi sensitif terhadap debu dan gangguan kecil lain. Serat kain dari saku celana atau debu halus saja bisa membuat sambungan terputus.
Gangguan itu terasa saat ponsel dipakai sambil berjalan. Ketika pengguna mendengarkan musik dan memasukkan ponsel ke saku, gerakan kaki kadang cukup untuk membuat koneksi headset putus-putus dan musik berhenti sendiri.
Lima port ini menunjukkan bagaimana industri ponsel pernah melewati masa eksperimen yang serba tidak seragam. Kini, setelah USB-C menjadi standar global dan bahkan dipakai pada iPhone terbaru, masa ketika setiap merek punya colokan nyeleneh perlahan benar-benar ditinggalkan.
Source: tekno.kompas.com






