Pasar Smartphone Turun, Vivo Tetap Tak Tergeser Saat Ponsel Murah Mulai Tersingkir

Pasar smartphone India memulai kuartal pertama dengan sinyal yang bertolak belakang. Volume pengiriman turun 4,1% menjadi 31 juta unit, tetapi nilai pasarnya justru naik 5,8%, menurut IDC.

Di tengah kontraksi itu, vivo masih bertahan sebagai merek terbesar di India. Pangsa pasarnya mencapai 19,6% pada kuartal pertama, nyaris tidak berubah dari 19,7% pada periode yang sama sebelumnya.

Kontras antara turunnya volume dan naiknya nilai pasar menjadi sorotan utama. IDC menilai kenaikan harga memori mendorong banyak merek menumpuk inventaris kanal distribusi lebih awal untuk mengantisipasi eskalasi biaya.

Langkah itu membuat angka pengiriman melampaui perkiraan awal. Namun di sisi lain, permintaan konsumen tetap lemah karena harga perangkat yang lebih tinggi dan belanja yang masih hati-hati.

Peta persaingan merek

vivo memimpin pasar meski pengirimannya turun hampir sejalan dengan penurunan pasar secara keseluruhan. Posisi kedua ditempati Samsung dengan pangsa 17,1% dan penjualan yang relatif datar.

Oppo berada di urutan ketiga dan mencatat pertumbuhan tahunan terbesar di antara para pemain utama. Pengirimannya naik 22% secara tahunan dan memberinya pangsa pasar 15,3%.

Apple menempati posisi keempat. Kinerjanya juga melemah hampir setara dengan kontraksi pasar secara umum.

Motorola menjadi salah satu merek dengan performa paling menonjol pada kuartal ini. Pengirimannya naik 14% secara tahunan dan pangsa pasarnya mencapai 8,9%.

Di luar lima besar, tekanan terlihat lebih kuat pada beberapa nama lain. Realme berada di posisi keenam setelah pengirimannya turun 20%.

Xiaomi berada di urutan ketujuh dengan pertumbuhan tipis 3%. Poco menempati posisi kedelapan setelah pengirimannya turun 14%, disusul iQOO yang merosot lebih dalam hingga 23%.

Penurunan terdalam dialami OnePlus. IDC mencatat merek ini membukukan penurunan penjualan 32% dibanding kuartal pertama periode sebelumnya, sehingga pangsa pasarnya turun menjadi 1,7% dari 2,4%.

Pergeseran kelas harga

Perubahan perilaku belanja terlihat jelas dari distribusi segmen harga. Penjualan ponsel di bawah $100 anjlok 59% secara tahunan, menandakan tekanan besar pada pasar entry-level.

Sebaliknya, pertumbuhan justru datang dari segmen yang lebih tinggi. Kategori $600-800 tumbuh 32%, segmen $400-600 naik 29%, dan rentang $100-200 masih mencatat kenaikan 10%.

IDC menilai konsumen di segmen di bawah $100 kini terdorong naik kelas karena kebutuhan, bukan karena aspirasi. Tren itu disebut berpotensi mengubah cara pelaku industri memproyeksikan permintaan untuk 2026 dan seterusnya.

Bagi perusahaan yang sangat bergantung pada volume besar ponsel murah, situasinya menjadi lebih menantang. Kenaikan harga memori dinilai mempersempit margin dan mengurangi kelayakan bisnis di segmen tersebut.

Dampak dari pergeseran itu juga terlihat pada harga rata-rata jual. Pada kuartal pertama, average selling price mencapai $302, yang disebut sebagai rekor tertinggi sepanjang masa.

Offline masih dominan

Meski penjualan digital tetap penting, toko fisik masih menjadi saluran utama di India. Kanal offline menguasai 62% pasar, sementara online berada di 38%.

Porsi online itu turun dari 42%. Angka ini menunjukkan distribusi konvensional masih memegang peran besar, bahkan saat pasar menghadapi tekanan permintaan.

Gabungan dari stok kanal yang dimajukan, harga komponen yang naik, dan konsumen yang lebih berhati-hati membentuk lanskap yang rumit. Merek yang kuat di distribusi dan mampu bermain di segmen harga yang bergerak naik tampak lebih siap menghadapi tekanan ini.

Di atas semua perubahan itu, vivo tetap menjadi nama terbesar di pasar smartphone India pada kuartal pertama. Namun dominasi tersebut berlangsung di tengah pasar yang menyusut secara volume, harga rata-rata yang terus naik, dan persaingan yang makin tajam di setiap kelas harga.

Source: www.gsmarena.com
Terkait