Teleconverter untuk ponsel bukan lagi sekadar aksesori unik, terutama ketika dipasang pada vivo X300 Ultra Photography Kit. Dalam pengujian di lapangan, kombinasi ini menunjukkan hasil yang paling masuk akal untuk pemotretan konser, sambil tetap menawarkan kejutan besar pada foto bulan dan satwa liar.
Harga paket ini mencapai €600, sehingga wajar jika calon pembeli ingin tahu apakah peningkatan kualitasnya benar-benar terasa. Uji penggunaan di hutan dan tepi laut menunjukkan bahwa nilai kit ini tidak hanya bergantung pada spesifikasi, tetapi juga pada jenis foto yang ingin diambil.
Apa saja isi kit dan bagaimana desainnya
Di dalam kemasan, lapisan pertama berisi ponsel X300 Ultra. Lapisan kedua memuat aksesori photography kit yang menyertainya.
Sebagian besar aksesori disebut mirip dengan generasi pertama. Isinya mencakup tripod collar ring dan 67mm filter adapter ring, sementara komponen yang paling baru adalah lensa teleconverter 200mm.
Desain kit ini juga masih dekat dengan versi X200 Ultra, hanya warna yang berubah dari hitam ke perak. Saat semua aksesori dipasang, tampilannya memang lebih menyerupai kamera profesional ketimbang ponsel biasa.
Imaging grip pada kit ini bisa dikustomisasi untuk hampir semua tombol dan dial. Tombol Fn menjadi bagian penting karena dinilai sebagai cara tercepat untuk mengaktifkan mode teleconverter, terutama untuk street photography atau birding.
Dalam penggunaan langsung, lensa 200mm dinilai lebih nyaman daripada 400mm untuk pemotretan jalanan. Lensa 400mm bisa menjangkau jauh, tetapi terasa lebih canggung saat digenggam, sedangkan 200mm masih nyaman dipakai dengan grip secara normal.
Performa paling menarik justru muncul di beberapa skenario spesifik
Untuk astrofotografi, fokus utama pengujian diarahkan ke bulan. Pada pembesaran 1600mm, hasilnya memang masih dibantu algoritma pemrosesan, tetapi tampil lebih natural dibanding banyak foto bulan dari smartphone lain.
Detail kawah masih terlihat tanpa penajaman berlebihan. Kesan ini menjadi salah satu daya tarik utama lensa telefoto optik, karena hasilnya tidak tampak terlalu “dipaksa” oleh AI.
Hal yang lebih mengejutkan adalah stabilisasi. Dari sembilan foto bulan yang diambil tanpa tripod, hanya satu yang sedikit blur.
Pengalaman ini menunjukkan bahwa sistem stabilisasi kit berada di level yang sangat tinggi untuk kategori smartphone. Meski begitu, untuk objek langit selain bulan, kemampuan ini tetap punya batas dan belum bisa menggantikan perlengkapan astrofotografi yang lebih serius.
Konser jadi skenario paling cocok
vivo menyertakan mode khusus bernama Stage pada ponselnya sejak mulai menghadirkan lensa teleconverter. Mode ini menurunkan exposure, mempercepat shutter, meningkatkan kontras, lalu memakai AI untuk mempertegas detail subjek.
Dalam situasi konser, pendekatan itu terbukti efektif. Dari jarak sekitar 20 meter, detail rambut hingga tekstur wajah penyanyi masih bisa terekam dengan jelas oleh X300 Ultra saat dipadukan dengan teleconverter.
Ada catatan penting soal karakter hasilnya. AI memang bekerja cukup agresif, tetapi dalam konteks panggung dengan cahaya sulit, pendekatan ini justru dianggap membantu agar foto tidak mengecewakan saat dilihat kembali.
Untuk pemotretan luar ruangan di siang hari, mode Auto disebut sudah mampu menghasilkan foto tajam dengan tampilan lebih natural. Dengan kata lain, pengguna tidak selalu harus bergantung pada AI jika kondisi cahaya mendukung.
Masih layak untuk satwa liar, tapi belum sempurna
Fotografi satwa liar menjadi kategori yang paling menuntut dari sisi peralatan. Dalam pengujian ini, kombinasi X300 Ultra, grip, dan teleconverter tetap mampu menghasilkan foto burung yang tajam, jelas, dan kadang cukup detail untuk menangkap apa yang sedang dimakan objek.
Semua foto itu diambil secara handheld. Fakta ini kembali menegaskan bahwa stabilisasi menjadi salah satu kekuatan terbesar dari kit tersebut.
Perbedaan kualitas dengan dan tanpa teleconverter juga terlihat nyata. Foto tanpa teleconverter masih tergolong jelas, tetapi tetap ada jarak kualitas yang cukup terlihat ketika dibandingkan dengan hasil dari lensa tambahan itu.
Namun, ada sejumlah batas yang tidak bisa diabaikan. Autofokus menjadi kelemahan yang paling jelas, karena pengenalan burung pada X300 Ultra disebut belum terlalu akurat.
Sekitar seperempat foto burung yang diambil tidak menempatkan fokus tepat pada subjek. Karena itu, pengguna disarankan memotret dalam jumlah banyak untuk meningkatkan peluang mendapatkan hasil terbaik.
Untuk burung yang sedang terbang, tripod masih dibutuhkan. Stabilisasi juga sebaiknya dimatikan agar subjek lebih mudah dipertahankan di dalam frame.
Ada dua kekurangan tambahan yang juga perlu dicatat. Pada video dengan pembesaran tinggi, guncangan di tepi frame terlihat semakin jelas akibat stabilisasi elektronik, walau efeknya bisa dikurangi dengan tidak melakukan zoom berlebihan.
Kekurangan lain adalah focal length 400mm yang masih terasa kurang panjang untuk bird photography. In-sensor zoom juga tidak cukup membantu ketika cahaya rendah, sehingga kit ini lebih tepat disebut sebagai perangkat entry-level untuk penggemar wildlife photography.
Pada akhirnya, nilai beli teleconverter di vivo X300 Ultra sangat bergantung pada kebutuhan. Jika tujuan utamanya adalah konser, foto panggung, atau eksplorasi telefoto handheld yang praktis, kit ini menunjukkan alasan yang kuat untuk dipertimbangkan, sementara untuk satwa liar dan astrofotografi serius, ia lebih cocok menjadi pintu masuk sebelum beralih ke kamera dan lensa tele yang lebih khusus.
Source: www.gizmochina.com






