Pasar ponsel murah di Indonesia sedang berubah cepat. Vivo ikut mendorong perubahan itu dengan menghadirkan HP entry level yang sudah membawa layar 120Hz dan baterai besar di kelas harga Rp1 jutaan.
Langkah ini membuat standar di segmen bawah naik lebih cepat dari biasanya. Fitur yang dulu identik dengan ponsel kelas menengah kini mulai masuk ke perangkat yang lebih terjangkau.
Vivo Y05 jadi sorotan utama
Salah satu model yang paling mencuri perhatian adalah Vivo Y05. Ponsel ini membawa layar IPS LCD 6,74 inci dengan refresh rate 120Hz.
Bagi pengguna, keunggulan itu terasa saat scrolling media sosial atau berpindah antar aplikasi. Vivo menempatkan Y05 di rentang harga Rp1,8 jutaan hingga Rp1,9 jutaan.
Di luar layar, Vivo juga membekali perangkat ini dengan baterai 6.500 mAh. Ponsel ini bahkan sudah mengantongi sertifikasi IP65 untuk ketahanan terhadap debu dan air.
Y19s Pro menambah tekanan di kelas murah
Vivo tidak hanya bertumpu pada satu model. Perusahaan ini juga memperkuat lini entry level lewat Vivo Y19s Pro.
Ponsel tersebut dijual di kisaran Rp1,7 jutaan. Salah satu nilai jual utamanya adalah sertifikasi ketahanan benturan tingkat militer MIL-STD-810H.
Untuk daya tahan, Y19s Pro dibekali baterai 6.000 mAh. Vivo juga menyematkan pengisian cepat 44W FlashCharge, padahal di kelas harga satu jutaan, kecepatan pengisian sering berhenti di 15W atau 18W.
Masih ada pilihan yang lebih hemat
Bagi pengguna dengan anggaran lebih ketat, Vivo masih menyiapkan Y18 dan Y03t. Kedua model ini dipasarkan mulai dari Rp1,2 jutaan.
Meski lebih murah, Vivo tetap menyertakan fitur esensial seperti kamera utama 50 MP. Desainnya juga dibuat tetap modern dan estetik.
Pada seri Y18, Vivo memakai chipset MediaTek Helio G85. Perangkat ini disebut mampu menjaga performa harian tetap stabil untuk chatting, sekolah daring, hingga gim kasual seperti Mobile Legends dengan pengaturan grafis yang disesuaikan.
Teknologi murah yang makin efisien
Kehadiran layar 120Hz dan baterai jumbo di harga Rp1 jutaan menunjukkan arah baru industri ponsel. Efisiensi manufaktur membuat komponen berkualitas bisa hadir tanpa mendorong harga ke level yang sulit dijangkau.
Vivo memanfaatkan kondisi itu untuk menawarkan kombinasi fitur yang biasanya lebih mahal. Di sisi lain, model terbaru juga mulai mengadopsi Android 16.
Bagi pengguna entry level, kehadiran sistem operasi tersebut memberi harapan pada umur pakai perangkat yang lebih panjang. Keamanan data juga disebut makin terjaga pada perangkat terbaru itu.
Dengan kombinasi layar mulus, baterai besar, dan harga yang tetap rendah, Vivo jelas menekan persaingan di segmen entry level. Untuk konsumen yang ingin upgrade gadget tanpa menguras tabungan, pilihan di kelas Rp1 jutaan kini terasa jauh lebih menarik.
