Riset Omdia Ungkap Peta Baru HP Asia Tenggara, Samsung Melaju Saat Rival Kompak Turun

Samsung menjadi merek ponsel dengan pengiriman tertinggi di Asia Tenggara pada kuartal I-2026 versi Omdia. Di tengah pasar yang justru melemah, vendor asal Korea Selatan itu mencatat 4,6 juta unit pengiriman dan menguasai 21 persen pangsa pasar kawasan.

Capaian itu menonjol karena total pasar smartphone Asia Tenggara turun 9 persen secara tahunan. Omdia mencatat total shipment kawasan ini hanya mencapai 21,6 juta unit pada Januari-Maret 2026, turun dari 23,7 juta unit pada periode yang sama tahun sebelumnya.

Kenaikan Samsung juga berbeda dari tren para pesaing utamanya. Omdia menyebut Samsung menjadi satu-satunya vendor smartphone yang mencatat pertumbuhan year-on-year di jajaran lima besar Asia Tenggara.

Keberhasilan itu didorong oleh performa Galaxy S26 Series di kelas flagship serta penjualan kuat Galaxy A Series di segmen menengah. Kombinasi dua lini ini membantu Samsung menambah pengiriman dari 4,4 juta unit pada kuartal I-2025 menjadi 4,6 juta unit pada kuartal I-2026.

Peta persaingan 5 besar

Oppo berada di posisi kedua dengan pengiriman 4,2 juta unit dan pangsa pasar 20 persen. Namun, angka itu turun dari 5,1 juta unit dan 21 persen pada kuartal I-2025, sehingga pertumbuhan tahunannya tercatat minus 17 persen.

Xiaomi menempati peringkat ketiga dengan 3,7 juta unit pengiriman dan pangsa pasar 17 persen. Setahun sebelumnya, Xiaomi membukukan 4,2 juta unit dengan pangsa 18 persen, sehingga turun 12 persen secara tahunan.

Transsion, yang menaungi Infinix, Tecno, dan Itel, berada di posisi keempat. Grup ini mencatat pengiriman 3,4 juta unit pada kuartal I-2026 dengan pangsa pasar 16 persen, turun dari 3,7 juta unit pada kuartal I-2025.

Vivo melengkapi lima besar dengan 2,1 juta unit pengiriman dan pangsa pasar 9 persen. Pada periode yang sama tahun sebelumnya, Vivo masih mengirim 2,8 juta unit dengan pangsa 12 persen.

Di luar lima besar, kategori “merek lain” justru naik dari 3,5 juta unit menjadi 3,7 juta unit. Pangsa segmen ini ikut meningkat dari 15 persen menjadi 17 persen.

Data ini bukan penjualan ke konsumen akhir

Omdia menegaskan data yang digunakan dalam laporan ini memakai metode sell-in shipment. Artinya, angka yang dihitung adalah jumlah perangkat yang dikirim vendor ke distributor, toko, atau kanal penjualan, bukan unit yang sudah dibeli konsumen akhir.

Poin ini penting untuk membaca dinamika pasar secara tepat. Kenaikan atau penurunan shipment mencerminkan strategi pasokan dan distribusi vendor, bukan semata-mata permintaan ritel yang sudah terealisasi.

Pasar turun, harga rata-rata justru naik

Meski volume pasar menyusut, Omdia mencatat harga jual rata-rata smartphone di Asia Tenggara justru menyentuh rekor baru. Average selling price atau ASP kawasan ini mencapai 349 dollar AS per unit, naik 19 persen dibanding tahun sebelumnya yang masih di bawah 300 dollar AS.

Kenaikan harga rata-rata ini menunjukkan pasar tidak hanya bergerak karena jumlah unit. Vendor juga menghadapi tekanan biaya yang mendorong perubahan strategi produk dan harga.

Menurut Omdia, salah satu pemicu utama kenaikan itu adalah meningkatnya biaya komponen memori seperti DRAM dan NAND. Kenaikan biaya ini membuat ongkos produksi smartphone ikut terdorong naik.

Dampaknya paling terasa di segmen entry-level dan menengah. Pada kelas ini, komponen memori punya porsi biaya yang cukup besar, sehingga perubahan harga komponen cepat memengaruhi struktur harga perangkat.

Dalam kondisi seperti itu, vendor disebut mulai menyesuaikan strategi bisnis. Langkah yang ditempuh antara lain menaikkan harga perangkat, mengurangi spesifikasi tertentu, atau mengatur suplai produk lebih ketat untuk menjaga margin keuntungan.

Research Manager Omdia Le Xuan Chiew menilai vendor smartphone kini lebih fokus menjaga profitabilitas dan menaikkan ASP ketimbang sekadar mengejar pertumbuhan volume. Arah ini menjelaskan mengapa pasar bisa turun dari sisi jumlah unit, tetapi harga rata-rata justru naik tajam.

Omdia juga memperkirakan volatilitas harga dan suplai smartphone masih akan berlanjut dalam waktu dekat. Vendor masih harus menghadapi keterbatasan pasokan komponen sekaligus mempertimbangkan dampak kenaikan harga terhadap daya beli konsumen.

Tekanan ini diperkirakan masih terasa dalam beberapa kuartal ke depan, terutama pada segmen ponsel murah yang paling sensitif terhadap kenaikan harga. Di tengah kondisi itu, posisi Samsung di puncak pasar Asia Tenggara menjadi sorotan karena dicapai saat mayoritas merek besar justru mengalami penurunan pengiriman.

Source: tekno.kompas.com
Exit mobile version