Setelah molor hampir setahun dari jadwal semula, ponsel Trump Mobile T1 akhirnya muncul ke hadapan publik. Namun yang langsung mencuri perhatian bukan soal inovasi, melainkan dugaan kuat bahwa perangkat berlabel “Made in America” itu sebenarnya hanyalah smartphone murah buatan luar negeri yang dibungkus dengan identitas Trump.
Peluncuran T1 dilakukan pada 16 Juni 2025, bertepatan dengan hari jadi ke-10 kampanye presiden pertama Donald Trump. Saat itu, keluarga Trump sempat menyebut perangkat ini akan dikirim pada Agustus atau September 2025, tetapi kini T1 baru benar-benar terlihat setelah tertinggal jauh dari rencana awal.
Branding Amerika, isi yang dipertanyakan
Unit yang diperlihatkan ke sejumlah figur media datang dengan logo “Trump Mobile” yang besar dan warna kuning-keemasan khas Trump. Ponsel ini juga sudah terpasang aplikasi Truth Social, platform media sosial milik Trump, sejak awal.
Di bagian belakangnya, ada bendera Amerika Serikat dengan 11 garis, bukan 13 seperti bendera resmi. Detail itu semakin menguatkan kesan bahwa fokus utama produk ini ada pada citra politik, bukan pada ketepatan simbol maupun kualitas perangkat.
Klaim “Made in America” juga mendapat sorotan tajam sejak awal. Saat T1 diumumkan pada Juni 2025, para pengkritik langsung mencatat kemiripannya dengan Revvl 7 Pro 5G, ponsel buatan Wingtech, perusahaan asal China yang sebagian sahamnya dimiliki negara.
Todd Weaver, CEO pabrikan ponsel Amerika Purism, saat itu mengatakan kepada CNN bahwa kecuali keluarga Trump diam-diam membangun fasilitas produksi aman di darat atau dekat darat selama bertahun-tahun tanpa ada yang menyadarinya, janji itu tidak masuk akal untuk dipenuhi.
Kemiripan bergeser, dugaan tetap sama
Seiring waktu, materi pemasaran Trump Mobile berubah dan menampilkan ponsel yang berbeda. Pergantian itu sempat meredam kritik terhadap model awal, tetapi pembaca The Verge kemudian menemukan bahwa unit baru tersebut justru sangat mirip dengan HTC U24 Pro.
Kemiripan itu bukan hanya soal desain luar. T1 dan HTC U24 Pro sama-sama disebut memiliki layar OLED 6,8 inci, tiga kamera 50 megapiksel, dan RAM 12GB.
HTC berbasis di Taiwan, sehingga kemungkinan besar T1 dirakit di pabrik Taiwan yang sama dengan U24 Pro. Meski begitu, asal komponen internalnya masih belum jelas, dan sangat mungkin fondasinya tetap bergantung pada rantai pasok China.
Mengapa asal komponen tetap jadi pertanyaan besar
China masih mendominasi dunia dalam produksi panel OLED dan sel baterai. Karena itu, meski perakitan akhir bisa terjadi di Taiwan, bukan berarti isi dalam perangkat otomatis lepas dari komponen yang diproduksi di China.
Kondisi itu membuat klaim kebanggaan manufaktur domestik menjadi semakin sulit dibuktikan. Selama belum ada pembongkaran unit secara independen, asal-usul riil T1 masih berada di wilayah spekulasi yang kuat.
Jumlah pemesan awal juga besar, dengan hampir 600.000 pelanggan yang sudah melakukan preorder. Selama belum ada salah satu unit itu dibuka dan didokumentasikan bagian-bagian di dalamnya, pertanyaan tentang seberapa “Amerika” atau seberapa “China” T1 tetap akan menggantung.
Bagi pembeli, persoalan ini bukan sekadar soal merek atau politik identitas. Di balik slogan patriotik, yang kini terlihat justru sebuah ponsel 5G yang sangat mungkin merupakan produk generik asing dengan kemasan promosi yang jauh lebih keras daripada isi teknisnya.
