Kabar bahwa bermain Valorant bisa merusak SSD sempat menyebar luas setelah muncul laporan soal drive NVMe yang mendadak tidak bisa dipakai. Isu ini cepat viral karena dikaitkan dengan pembaruan anti-cheat dari Riot Games dan menimbulkan kekhawatiran di kalangan pemain PC.
Namun, laporan yang beredar menunjukkan dampak itu tidak mengenai pemain biasa. Masalah ini disebut hanya muncul pada pengguna yang menjalankan cheat berbasis perangkat keras, bukan pada gamer normal yang memainkan Valorant tanpa alat tambahan ilegal.
Yang sebenarnya terjadi
Valorant memakai Vanguard, sistem anti-cheat milik Riot Games yang berjalan di level kernel. Vanguard aktif sejak PC menyala dan tetap berjalan di latar belakang, bahkan saat game tidak sedang dibuka.
Sistem seperti ini dibuat untuk mempersulit cheat berbasis software. Karena itu, sebagian pelaku kecurangan beralih ke metode yang lebih rumit dengan memanfaatkan perangkat PCIe Direct Memory Access atau DMA.
Perangkat DMA ini memakai firmware kustom dan dipasangkan dengan SSD NVMe atau SATA fisik, atau SSD yang diemulasi. Tujuannya adalah menyamarkan perangkat tersebut agar terlihat seperti storage biasa di mata sistem operasi dan Vanguard.
Di balik penyamaran itu, perangkat DMA terhubung ke PC utama melalui PCIe dan juga ke komputer kedua. Komputer kedua inilah yang menjalankan cheat, sementara perangkat DMA dipakai untuk mengakses memori PC utama secara langsung.
Dengan akses itu, pelaku bisa membaca data game yang sedang berjalan. Metode ini memungkinkan fitur curang seperti wallhack, ESP, aimbot, hingga radar atau minimap hack.
Mengapa SSD ikut terseret dalam isu ini
Menurut laporan yang beredar, pembaruan Riot Games pada Mei 2026 memperkuat penerapan IOMMU di Vanguard. IOMMU adalah komponen tingkat perangkat keras yang dapat mengatur akses memori untuk perangkat input-output.
Dalam skenario ini, Vanguard disebut memanfaatkan IOMMU untuk memicu page fault dan restart berulang. Gangguan itu mengacaukan firmware yang berjalan pada FPGA di perangkat DMA hingga perangkat dan SSD yang terkait menjadi tidak dapat dipakai.
Inilah yang kemudian memicu tuduhan bahwa Valorant “merusak SSD”. Padahal, konteksnya bukan SSD pemain umum, melainkan perangkat yang dipakai sebagai bagian dari rangkaian cheat berbasis hardware.
Riot Games ikut menyorot isu ini lewat unggahan di media sosial. Perusahaan itu mengutip postingan yang membahas cara Vanguard menangani cheat dan menulis, “Congrats to the owners of a brand new $6k paperweight.”
Pernyataan itu memperkuat kesan bahwa perangkat cheat tersebut dibuat tidak berguna setelah pembaruan terbaru. Riot juga menyebut perangkat DMA itu sebagai “paperweight” karena tidak lagi berfungsi seperti sebelumnya.
Siapa yang terdampak dan siapa yang aman
Bagian terpenting dari kabar ini adalah cakupan dampaknya sangat spesifik. Laporan yang ada menyebut hanya pengguna cheat dengan perangkat FPGA, DMA, dan SSD tersamarkan yang terkena efek tersebut.
SSD milik pemain biasa disebut tetap aman dan berfungsi normal. Tidak ada indikasi bahwa update Vanguard merusak drive NVMe atau SATA pada sistem yang tidak menjalankan perangkat curang semacam itu.
Karena itu, kekhawatiran bahwa sekadar memainkan Valorant bisa membuat SSD rusak tidak sesuai dengan konteks laporan yang muncul. Risiko itu dikaitkan dengan skema kecurangan hardware yang dirancang untuk menyusup di bawah pengawasan anti-cheat.
Apakah benar-benar rusak permanen
Sejumlah pengguna menyebut perangkat mereka menjadi “bricked”. Tetapi laporan yang sama juga menyebut kondisi itu tidak selalu berarti kerusakan permanen pada level fisik.
Perangkat tersebut disebut bisa dipulihkan dengan mem-flash firmware FPGA yang berbeda dan menginstal ulang Windows. Artinya, kerusakan yang terjadi lebih mengarah pada firmware atau konfigurasi yang dibuat tidak berguna oleh deteksi Vanguard.
Meski begitu, solusi itu tidak berarti perangkat akan bebas dipakai lagi untuk tujuan yang sama. Setelah Vanguard kembali mendeteksi perangkat tersebut, pembatasan tingkat hardware yang sama disebut dapat diterapkan lagi.
Hal ini menjelaskan mengapa narasi “SSD rusak karena main Valorant” terasa menyesatkan bila dilepas dari konteksnya. Yang disasar bukan storage biasa, melainkan perangkat yang sengaja dimodifikasi untuk menyamarkan alat curang.
Bagi pemain reguler, pembaruan anti-cheat ini justru menandai langkah baru Riot Games dalam menghadapi cheat yang semakin canggih. Selama sistem tidak memakai perangkat DMA dengan firmware kustom dan SSD yang digunakan untuk menyamar, laporan yang beredar menyebut tidak ada alasan untuk khawatir.
Source: tech.sportskeeda.com