ES File Explorer Pernah Dipuja, Sekarang Jadi Risiko Yang Sebaiknya Dihapus

Pengguna Android yang masih mengandalkan ES File Explorer sebaiknya segera mengevaluasi ulang kebiasaan itu. Aplikasi yang dulu dikenal sebagai salah satu file explorer paling populer di Android ini kini dipandang sebagai risiko keamanan, bukan lagi alat bantu yang layak dipertahankan.

Pada era 2010-an, file explorer bawaan Android memang sering dianggap kurang memadai. ES File Explorer lalu naik daun karena mampu menjalankan fungsi dasar dengan baik dan menawarkan paket fitur yang lengkap untuk pengelolaan file di Android.

Dari aplikasi favorit menjadi masalah keamanan

Daya tarik awal ES File Explorer cukup jelas. Aplikasi ini memungkinkan pengguna melakukan FTP ke perangkat Android, melihat rincian jenis konten, membersihkan file sampah, dan meninjau isi arsip terkompresi tanpa harus mengekstraknya terlebih dahulu.

Namun, citra itu perlahan runtuh. Seiring waktu, aplikasi ini berkembang menjadi produk yang penuh iklan agresif, fitur yang mengganggu, serta aktivitas latar belakang yang mencurigakan.

Masalahnya tidak berhenti di sana. Celah keamanan serius juga ditemukan, dan pada akhirnya ES File Explorer dihapus dari Google Play Store dan tidak kembali lagi.

Berkembangnya tuduhan adware dan ad fraud ikut memperburuk reputasinya. Dalam praktik yang disebutkan, aplikasi dapat mengklik iklan tanpa intervensi pengguna, sehingga kepercayaan terhadapnya nyaris hilang sepenuhnya.

Meski begitu, file APK ES File Explorer masih bisa dipasang secara manual lewat sideloading. Inilah bagian yang membuat keberadaannya tetap berbahaya, karena pemasangan manual dapat membuka pintu bagi malware potensial.

Android modern sudah tidak butuh aplikasi seperti dulu

Alasan utama lain untuk meninggalkan ES File Explorer adalah perubahan besar pada Android itu sendiri. Sistem operasi ini dan para produsen ponsel kini sudah jauh lebih matang dalam menyediakan alat pengelolaan file bawaan.

File manager standar yang hadir di ponsel saat ini disebut sudah cukup untuk 99% kebutuhan pengguna. Untuk sebagian besar orang, tidak ada lagi alasan kuat untuk memakai file explorer pihak ketiga hanya demi fungsi dasar.

Bahkan, untuk banyak skenario, pengelola file bawaan Android dinilai lebih baik daripada alternatif pihak ketiga. Kondisi ini membuat ES File Explorer makin sulit dibenarkan, apalagi jika dilihat dari standar keamanan dan kebersihan aplikasi masa kini.

Alternatif yang lebih aman tersedia luas

Jika tetap membutuhkan file explorer lain, pilihan yang lebih aman sudah tersedia. Ada beberapa file manager Android open-source yang tidak melacak pengguna dan tidak menampilkan iklan.

Fossify File Manager disebut sebagai titik awal yang baik, meski masih ada banyak opsi lain di luar itu. Artinya, pengguna tidak perlu bertahan pada aplikasi lama yang reputasinya sudah rusak ketika pilihan yang lebih bersih dan lebih aman tersedia.

Secara umum, aplikasi yang masih ada di Google Play Store cenderung lebih aman karena dukungan teknologi Play Protect. Namun, karena file explorer meminta akses yang luas ke perangkat, pengguna tetap disarankan meneliti aplikasi baru sebelum memasangnya.

Masalah yang lebih besar dari sekadar satu aplikasi

Kasus ES File Explorer juga mencerminkan masalah yang lebih luas di Android. Banyak pengguna bertahan pada aplikasi lama karena sudah terbiasa dengan nama dan tampilannya.

Kebiasaan itu bisa jadi berisiko karena pemilik merek bisa berganti, atau karena kepercayaan pengguna memang sejak awal dipakai untuk membangun basis instalasi sebelum perilaku aplikasinya berubah. Android memang makin memperketat keamanan dengan mencabut sebagian izin aplikasi lama dan menandai pola yang tidak biasa, tetapi pengguna tetap perlu menjaga perlindungan sendiri.

Dalam konteks itu, mempertahankan ES File Explorer di perangkat Android bukan lagi soal nostalgia, melainkan soal keputusan keamanan. Jika aplikasi file explorer lama itu masih terpasang, menggantinya dengan opsi yang lebih aman adalah langkah yang jauh lebih masuk akal.

Exit mobile version