Samsung Gandeng LG Uplus untuk 6G, Jaringan Masa Depan Bisa Sekaligus Mendeteksi Manusia

Samsung dan LG Uplus memulai kolaborasi baru untuk menyiapkan teknologi inti menuju era 6G. Fokus utama kerja sama ini adalah Integrated Sensing and Communication atau ISAC, teknologi yang dapat mengubah jaringan komunikasi menjadi platform pemantauan lingkungan.

Langkah ini penting karena 6G tidak hanya diposisikan sebagai penerus 5G dalam hal kecepatan data. Samsung dan LG Uplus justru menyoroti potensi jaringan masa depan yang mampu mendeteksi objek dan kondisi sekitar tanpa memerlukan perangkat sensor terpisah.

Kesepakatan tersebut diteken di LG Science Park, Seoul, Korea Selatan. Dari pihak Samsung, pengembangan akan dipimpin Samsung Research, pusat riset dan pengembangan lanjutan di bawah Divisi Device eXperience atau DX.

LG Uplus akan berperan dalam menyiapkan infrastruktur pengujian lapangan. Peran ini penting untuk memastikan teknologi yang dikembangkan tidak berhenti di level laboratorium, tetapi bisa diuji dalam kondisi operasional yang nyata.

Apa itu ISAC

ISAC memanfaatkan infrastruktur komunikasi yang sudah ada untuk mengumpulkan informasi tentang lingkungan sekitar. Teknologi ini menganalisis sinyal nirkabel yang dikirim dari stasiun basis dan perangkat jaringan lain untuk mendeteksi kecepatan, jarak, dan arah objek.

Pendekatan ini berbeda dari metode konvensional yang bergantung pada perangkat khusus seperti LiDAR dan radar. Dengan ISAC, fungsi pengindraan dapat berjalan melalui jaringan seluler dan Wi-Fi yang telah tersedia.

Karena itu, ISAC dipandang sebagai salah satu dari tiga skenario penggunaan utama untuk jaringan 6G. Nilainya terletak pada kemampuan menggabungkan komunikasi dan sensing dalam satu infrastruktur yang sama.

Bagi operator dan industri, model seperti ini dapat membuka fungsi baru di atas jaringan telekomunikasi. Jaringan tidak lagi hanya menyalurkan data, tetapi juga ikut membaca konteks fisik di sekitarnya.

Fokus awal: deteksi manusia dan keselamatan

Pada tahap awal, riset akan difokuskan pada peningkatan keselamatan sehari-hari melalui deteksi manusia. Ini menunjukkan bahwa aplikasi awal teknologi tidak hanya ditujukan untuk performa jaringan, tetapi juga untuk skenario yang memiliki dampak langsung pada kehidupan harian.

Setelah itu, Samsung dan LG Uplus berencana menggabungkan data nirkabel yang dihasilkan ISAC dengan citra kamera. Data tersebut mencakup informasi lokasi, kecepatan, dan kepadatan, yang dapat dipakai untuk meningkatkan akurasi deteksi.

Kedua perusahaan juga menyiapkan pemanfaatan teknologi AI multimodal untuk menganalisis berbagai bentuk data sensing. Pendekatan ini mengarah pada pemrosesan data lintas sumber agar sistem dapat memahami situasi secara lebih menyeluruh.

Gabungan sensing nirkabel, kamera, dan AI memberi petunjuk tentang arah pengembangan layanan 6G di masa depan. Bukan sekadar konektivitas lebih cepat, tetapi juga pemahaman lingkungan yang lebih cerdas dan lebih responsif.

Pengujian di 5G dan pita 7 GHz

Untuk menguji kelayakan teknologi, Samsung dan LG Uplus akan mencari use case ISAC yang benar-benar praktis. Keduanya juga akan menguji performa teknologi ini pada jaringan 5G yang sudah ada.

Selain itu, pengujian akan dilakukan di pita 7 GHz. Pita ini disebut sebagai salah satu kandidat frekuensi untuk 6G, sehingga pengujian di sana dapat memberi gambaran awal tentang performa ISAC pada lingkungan spektrum yang relevan.

Strategi ini menunjukkan pendekatan bertahap menuju 6G. Alih-alih menunggu jaringan 6G tersedia penuh, kedua perusahaan memilih menguji kemampuan sensing menggunakan fondasi jaringan yang sudah ada dan spektrum calon masa depan.

Pengujian di kondisi nyata juga menjadi penentu penting bagi teknologi seperti ISAC. Sebab, performa sensing tidak hanya dipengaruhi teori dan desain sistem, tetapi juga lingkungan lapangan yang kompleks.

Samsung menyebut ISAC sebagai teknologi inti yang mengubah jaringan komunikasi menjadi platform sensing. Perusahaan itu juga menilai pendekatan tersebut dapat membantu pengguna, operator jaringan, dan berbagai industri merasakan nilai penuh dari 6G.

Menurut Samsung, kolaborasi dengan LG Uplus akan dipakai untuk memvalidasi potensi layanan 6G di berbagai lingkungan dunia nyata. Di saat yang sama, kerja sama ini diarahkan untuk terus mempercepat pengembangan teknologi inti 6G.

Bagi industri telekomunikasi, kolaborasi ini memberi sinyal bahwa persaingan 6G mulai bergerak ke wilayah yang lebih luas dari sekadar kapasitas dan latensi. Kemampuan jaringan untuk melihat, memahami, dan merespons lingkungan kini mulai ditempatkan sebagai fondasi layanan generasi berikutnya.

Source: sammyguru.com
Exit mobile version