
Kabar soal absennya ROG pada 2026 membuka ruang baru di pasar smartphone gaming. Di saat Asus disebut menghentikan divisi smartphone, Infinix dan Nubia justru punya peluang besar mengisi celah yang ditinggalkan salah satu nama paling kuat di segmen ini.
Perubahan itu penting karena ROG selama ini identik dengan ponsel gaming kelas atas. Jika Asus benar-benar tidak meluncurkan model baru pada tahun ini, peta persaingan smartphone gaming di Indonesia bisa berubah cukup tajam.
Kabar absennya Asus mencuat setelah DigiTimes, situs berita Taiwan yang fokus pada rantai pasok industri teknologi global, menyebut perusahaan itu telah menyebarkan pemberitahuan penghentian divisi smartphone pada awal tahun ini. Dalam pemberitahuan tersebut, Asus disebut memberi tahu mitra distributor bahwa divisi smartphone hanya akan beroperasi sampai 31 Desember 2025.
Langkah itu muncul setelah distributor mengaku kesulitan mendapatkan ponsel Asus dalam beberapa waktu terakhir. Asus juga disebut telah menghubungi mitra telekomunikasi terkait rencana penghentian operasional divisi smartphone mereka.
Dengan kondisi itu, tidak ada model ponsel baru Asus untuk 2026. Artinya, lini Zenfone maupun ROG Phone tidak mendapat penerus, termasuk perangkat yang idealnya hadir sebagai Zenfone 13 Ultra dan ROG Phone 10.
Meski begitu, kepastian penuh masih menunggu konfirmasi langsung dari Asus. Alasan resmi absennya HP Asus pada tahun ini juga belum diungkap, sehingga spekulasi masih terbuka.
Sejumlah faktor disebut ikut membebani bisnis ponsel, mulai dari kelangkaan dan kenaikan harga chip memori. Tekanan lain datang dari biaya komponen, tarif impor, dan perlambatan penjualan smartphone yang bisa membuat Asus menimbang ulang bisnis ini.
ROG yang dulu dominan
Asus dikenal sebagai raja smartphone gaming setelah meluncurkan Republic of Gaming atau ROG Phone pada 2018. Kehadiran seri itu membuat Asus menjadi salah satu vendor yang konsisten menawarkan ponsel khusus gaming.
Namun, sejak ROG Phone 9 Pro rilis pada akhir 2024, Asus tidak lagi menelurkan penerusnya, termasuk pada 2025. Kekosongan itu membuat banyak vendor lain mulai membidik posisi yang selama ini lekat dengan ROG.
Persaingan ini makin menarik karena pasar game mobile dan komunitas esports di Indonesia terus berkembang. Kebutuhan akan perangkat yang punya performa tinggi, sistem pendingin baik, dan layar mulus juga ikut naik.
Peluang Infinix dan Nubia
Di tengah absennya ROG, Infinix muncul sebagai salah satu kandidat kuat. Sejak 2020, merek ini terus merilis ponsel gaming, meski selama ini lebih dikenal lewat perangkat murah dengan spesifikasi menarik.
Pendekatan Infinix terlihat berbeda saat masuk ke segmen gaming. Salah satu contohnya adalah Infinix GT 50 Pro 5G yang dibanderol di atas Rp7 jutaan dan memang membawa spesifikasi gaming.
Nubia juga berada di jalur yang sama. Dalam beberapa tahun terakhir, merek ini konsisten merilis ponsel gaming dari lini flagship Redmagic hingga seri yang lebih terjangkau seperti Neo Series.
Keduanya menawarkan perangkat dengan karakter yang mendekati ROG. Spesifikasinya mencakup kipas pendingin di dalam bodi, layar yang smooth untuk bermain, dan chipset yang mumpuni.
Situasi ini membuat peluang perubahan peta pemain semakin terbuka. Bila Asus benar-benar mundur dari pasar smartphone, Infinix dan Nubia berpotensi menjadi dua nama yang paling siap mengambil alih perhatian gamer mobile.
Source: selular.id








