Bagi pemburu gadget bekas, label “murah” pada produk Apple sering terlihat sangat menggoda. Namun, ada empat perangkat yang justru berpotensi membuat pengeluaran membengkak karena biaya perbaikan dan usia pakai yang tidak lagi efisien.
Masalahnya bukan hanya soal kondisi fisik. Pada beberapa produk, Apple juga membatasi akses perbaikan, tidak menyediakan fitur pengecekan komponen penting, atau sudah meninggalkan generasi teknologinya jauh di belakang.
AirPods jadi risiko besar saat baterai menurun
AirPods bekas tampak menarik karena posisinya sebagai salah satu earbuds nirkabel terbaik di pasaran. Tetapi, pembeli tidak punya cara mudah untuk mengetahui kesehatan baterainya karena Apple tidak menyediakan fitur battery health untuk perangkat ini.
Kalau baterainya sudah soak, penggantian baterai bisa mencapai kisaran Rp 700 ribuan per earbud. Angka itu sudah mendekati harga AirPods baru, terutama karena peritel resmi kerap memberi diskon besar untuk produk gres.
Apple Watch cepat aus dan mahal diperbaiki
Apple Watch juga masuk daftar yang sebaiknya dihindari dalam kondisi seken. Perangkat ini melekat di pergelangan tangan sepanjang hari, sehingga lebih rentan terkena benturan fisik dibanding iPhone yang umumnya dilindungi casing.
Unit bekas yang masih mulus sangat jarang ditemukan. Sebagian besar sudah baret atau penyok, sementara baterainya juga cenderung lebih cepat terasa lemah karena Apple Watch baru sekalipun perlu diisi daya setiap hari.
Biaya penggantian baterai resmi Apple Watch mencapai Rp 1,5 jutaan. Dalam skenario itu, pembeli justru kehilangan keuntungan dari harga murah di awal.
Apple Pencil sulit diselamatkan saat rusak
Apple Pencil punya kelemahan yang lebih serius karena Apple, bersama Magic Keyboard dan Magic Mouse, tidak merancangnya dengan opsi perbaikan yang mumpuni. Apple bahkan tidak mencantumkan stylus ini dalam laman informasi perbaikan resmi mereka.
Artinya, ketika baterai tanamnya melemah atau sensor internal rusak, perangkat itu praktis berubah menjadi barang elektronik yang tidak bisa diperbaiki. Membeli baru memang lebih aman karena disertai garansi pasti dan fasilitas grafir nama gratis dari Apple.
MacBook Intel tertinggal dari arah baru Apple
MacBook berprosesor Intel juga makin tidak menarik di pasar bekas. Sejak 2020, Apple sudah bermigrasi total ke Apple Silicon alias M-series, sementara pasar online seperti eBay masih dibanjiri MacBook Intel dengan harga miring, termasuk MacBook Pro Intel seharga USD 599.
Meski menawarkan RAM atau penyimpanan besar, laptop berbasis Intel ini sudah tertinggal jauh. Arsitektur M-series disebut jauh lebih bertenaga, hemat daya, dan senyap, sehingga membeli MacBook Intel bekas sama saja dengan menaruh uang pada teknologi lama yang segera ditinggalkan dukungannya oleh Apple.
Perbedaan paling tajam terlihat pada nilai pakai, bukan sekadar harga awal. Di atas kertas, empat produk ini memang bisa tampak hemat, tetapi beban perbaikan, daya tahan baterai, dan arah pengembangan Apple membuatnya jauh lebih berisiko dibanding produk lain yang masih relevan.
Source: www.liputan6.com