AI Terasa Sudah Ada di Mana-Mana, Qualcomm Justru Bilang Kita Masih di Babak Awal

Kecerdasan buatan terasa makin umum di ponsel, PC, dan layanan digital. Namun di Computex 2026, Qualcomm menilai adopsinya masih jauh dari matang karena baru sekitar 1,1 miliar orang yang memakai alat AI saat ini.

Angka itu setara sekitar 13% dari populasi dunia. Di tengah ledakan promosi produk dan investasi besar, data tersebut menunjukkan bahwa gelombang AI yang ramai dibicarakan sekarang masih berada pada tahap awal.

Pesan itu disampaikan Qualcomm lewat Kedar Kondap, SVP and GM of Compute & Gaming, dalam keynote di Computex 2026. Ia menyoroti kontras yang tajam antara besarnya aktivitas AI harian dan masih terbatasnya jumlah pengguna yang benar-benar memakainya.

Qualcomm menyebut sekitar 50 triliun token dihasilkan setiap hari. Sebagian besar volume itu datang dari pengguna biasa, bukan hanya dari segmen pengguna berat atau lingkungan enterprise.

Rata-rata pengguna disebut mengonsumsi sekitar 5.000 token per hari. Sementara pengguna intensif bisa mencapai 25.000 token per hari, menandakan pemakaian AI mulai membentuk kebiasaan digital baru bagi sebagian orang.

Data itu penting karena menunjukkan dua hal sekaligus. Aktivitas AI sudah sangat tinggi, tetapi penetrasi ke populasi global masih relatif rendah.

Adopsi belum setara dengan hype

Dalam beberapa tahun terakhir, AI menjadi kata kunci utama di industri teknologi. Fitur berbasis model generatif muncul di smartphone, PC, mesin pencari, aplikasi produktivitas, dan perangkat wearable.

Namun Qualcomm menilai suasana “AI ada di mana-mana” belum berarti teknologi ini sudah benar-benar mainstream dalam arti luas. Bila baru 13% populasi dunia yang menggunakannya, maka ruang pertumbuhannya masih sangat besar.

Kondap juga menyinggung besarnya dana yang mengalir ke sektor ini. Belanja AI global disebut sudah mencapai $1.5 trillion, tetapi skala investasi itu belum diiringi tingkat adopsi yang setara di masyarakat luas.

Kesenjangan antara investasi, pemberitaan, dan penggunaan riil inilah yang menjadi sorotan utama. AI mungkin terasa dominan di panggung industri, tetapi dalam hitungan pengguna global, pasar ini masih baru mulai berkembang.

Fokus berikutnya: AI agent lintas perangkat

Qualcomm juga memaparkan arah berikutnya dari evolusi AI. Perusahaan itu melihat fase selanjutnya akan ditentukan oleh agentic AI yang mampu bergerak mulus di berbagai perangkat.

Dalam visi ini, AI tidak lagi terikat pada satu aplikasi atau satu layar. Agen AI akan membawa konteks dari ponsel ke PC, lalu terhubung juga dengan kalender, wearable, dan perangkat lain yang saling tersambung.

Pendekatan itu menggeser fungsi AI dari sekadar alat responsif menjadi sistem yang lebih aktif. Bukan hanya menjawab perintah, AI diharapkan dapat mempertahankan konteks dan melanjutkan pekerjaan tanpa pengguna harus mengulang dari awal.

Contoh yang disorot Qualcomm adalah skenario saat tugas dimulai di ponsel lalu berlanjut di PC tanpa kehilangan konteks. Ada juga kemungkinan agen AI mengatur jadwal secara proaktif berdasarkan data yang dikumpulkan dari beberapa sumber sekaligus.

Gagasan ini menunjukkan bahwa pertarungan berikutnya di industri AI bukan hanya soal model yang lebih besar. Fokusnya mulai bergeser ke pengalaman yang lebih konsisten, terhubung, dan benar-benar berguna di banyak perangkat.

Arah yang sejalan dengan ekosistem perangkat

Bagi pengguna perangkat Galaxy, konsep ini terdengar familier karena Samsung juga mendorong pengalaman AI lintas perangkat lewat Galaxy AI. Ponsel, tablet, dan wearable diarahkan untuk bekerja lebih cerdas sebagai satu ekosistem.

Menurut gambaran Qualcomm, langkah berikutnya melampaui sinkronisasi data biasa. Agen AI nantinya bukan sekadar menyamakan informasi antarperangkat, tetapi juga membantu menyelesaikan tugas secara aktif di seluruh ekosistem.

Ini menjadi penting bagi industri PC dan mobile karena nilai AI tidak lagi hanya diukur dari kemampuan chatbot atau fitur edit gambar. Nilainya mulai diukur dari seberapa mulus AI bisa mengikuti aktivitas pengguna dari satu perangkat ke perangkat lain.

Jika visi itu terwujud, AI akan terasa kurang seperti aplikasi terpisah dan lebih seperti lapisan komputasi yang selalu hadir. Qualcomm melihat momen itu belum sepenuhnya datang, tetapi arah industrinya mulai bergerak ke sana.

Dengan 50 triliun token dihasilkan setiap hari dan belanja global yang sudah menembus $1.5 trillion, skala ekonomi AI memang besar. Tetapi menurut Qualcomm, fakta bahwa baru 1,1 miliar orang memakainya justru menegaskan satu hal: industri ini masih berada di hari-hari awal pertumbuhannya.

Source: sammyguru.com

Berita Terkait

Back to top button