40 Titik Hotspot Di Muratara, Warga Masih Buka Lahan Dengan Api

Sekitar 40 titik hotspot sempat terpantau di Muratara dan sebagian besar muncul di Kecamatan Rawas Ilir. BPBD Muratara menduga jejak panas itu berkaitan dengan aktivitas warga yang membuka lahan dengan cara dibakar.

Kepala BPBD Muratara Hasbi Hasidqi mengatakan, pola itu masih muncul di lapangan meski titik panas yang terpantau kini tinggal sekitar lima titik. Ia menilai api yang muncul cenderung cepat padam dan intensitasnya kecil, sehingga mengarah pada pembakaran lahan kebun yang selesai dalam waktu singkat.

Hotspot berkurang, tapi pola lama belum hilang

Laporan terakhir yang masuk ke BPBD Muratara menunjukkan ada kebakaran lahan sekitar 3 hektare di Kecamatan Karang Dapo. Temuan itu memperkuat dugaan bahwa aktivitas pembukaan lahan dengan api masih terjadi di sejumlah wilayah.

Menurut Hasbi, hotspot terbanyak memang terdeteksi di Rawas Ilir. Ia menyebut kemungkinan besar sumbernya masih terkait dengan kegiatan membuka lahan yang dilakukan dengan cara dibakar.

Meski jumlah titik panas sempat mencapai sekitar 40 titik pada Jumat 29 Mei 2026, kondisi tersebut tidak serta-merta berarti kebakaran besar terjadi di banyak lokasi. Hasbi menjelaskan, banyaknya titik panas justru menunjukkan api cepat padam dan kemungkinan hanya muncul dari aktivitas pembakaran skala kecil.

Wilayah rawan tetap jadi perhatian

BPBD Muratara terus melakukan antisipasi karena hampir seluruh wilayah di kabupaten itu masuk kategori rawan kebakaran hutan dan lahan. Sejumlah kawasan juga memiliki lahan gambut yang meningkatkan risiko kebakaran, terutama di Kecamatan Rawas Ilir, Nibung, Karang Dapo, dan Rupit.

Kondisi lahan gambut di wilayah-wilayah tersebut menjadi perhatian karena lebih mudah memperbesar dampak kebakaran. Dalam situasi seperti itu, api yang awalnya kecil bisa menjadi sulit dikendalikan jika tidak segera dipadamkan.

Hasbi juga menyoroti posisi cuaca Muratara yang saat ini masih berada dalam masa transisi dari musim hujan menuju musim kemarau. Situasi ini membuat kewaspadaan perlu ditingkatkan karena kondisi lahan cenderung lebih mudah terbakar.

Ancaman musim kemarau dan larangan membuka lahan dengan api

BMKG memperkirakan periode Juni sampai Agustus 2026 akan masuk musim kemarau. Di tengah kondisi itu, muncul kekhawatiran terhadap potensi fenomena El Nino Godzilla yang dapat memperburuk risiko kebakaran.

BPBD menilai situasi tersebut harus menjadi peringatan bagi warga agar tidak terus mengandalkan api saat membuka lahan. Selain melanggar aturan, cara itu juga memicu dampak buruk bagi lingkungan dan kesehatan masyarakat.

Peringatan ini menjadi penting karena dugaan pembakaran lahan masih muncul di beberapa titik, terutama di wilayah yang rawan Karhutla. Tanpa perubahan perilaku, hotspot berpotensi terus kembali muncul setiap kali warga membuka lahan dengan cara dibakar.

Hasbi menegaskan, upaya pencegahan harus berjalan seiring dengan pengawasan di lapangan. Di tengah musim peralihan dan ancaman kemarau, pengendalian titik api menjadi kunci agar kebakaran lahan tidak meluas di Muratara.

Exit mobile version