eSIM mulai menjadi fitur penting di ponsel Android, terutama bagi pengguna yang sering bepergian dan ingin lebih mudah berpindah operator. Teknologi ini menyimpan identitas seluler secara digital, sehingga pengguna tidak perlu lagi mengandalkan kartu fisik yang bisa dilepas, hilang, atau dirusak.
Keunggulan itu membuat ponsel Android dengan dukungan eSIM makin dicari, tetapi pilihannya belum merata di semua segmen. Sejumlah model unggulan kini menawarkan kombinasi eSIM, performa tinggi, dukungan dual-SIM, dan masa pembaruan software panjang yang relevan untuk pemakaian jangka panjang.
Pilihan paling serbaguna untuk mayoritas pengguna
Di kelompok ponsel eSIM Android, Samsung Galaxy S26 menonjol sebagai opsi paling seimbang untuk banyak kebutuhan. Ponsel ini mendukung eSIM dan dual-SIM di Amerika Serikat maupun pasar internasional, sehingga cocok untuk pengguna yang membutuhkan fleksibilitas saat bepergian ke luar negeri.
Galaxy S26 membawa layar 6,3 inci FHD+ Dynamic AMOLED 2X 120Hz, chip Snapdragon 8 Elite Gen 5 for Galaxy, RAM 12GB, serta penyimpanan 256GB atau 512GB. Samsung juga menjanjikan tujuh tahun pembaruan sistem operasi dan keamanan, sebuah nilai penting bagi pembeli yang ingin ponsel bertahan lama.
Baterainya berkapasitas 4.300mAh dan bodinya tetap ringan serta ramping untuk kelasnya. Material Gorilla Glass Victus 2 ikut memperkuat daya tahan, meski perangkat ini masih memakai pengisian 25W kabel dan 15W nirkabel.
Kelemahannya ada pada sektor kamera yang dinilai tidak banyak berubah, dengan susunan 50MP utama, 12MP ultrawide, dan 10MP telefoto 3x. Galaxy S26 juga tidak memiliki magnet Qi2 bawaan, mmWave 5G, UWB, dan Bluetooth 6.
Opsi ramah anggaran dengan baterai besar
Bagi pengguna yang ingin masuk ke ekosistem eSIM tanpa membayar mahal, Google Pixel 10a menjadi pilihan paling terjangkau. Perangkat ini disebut biasa dijual seharga $499, sambil tetap membawa banyak spesifikasi yang terasa mendekati kelas flagship.
Pixel 10a memakai layar 6,3 inci Actua pOLED dengan resolusi 1080 x 2424, refresh rate 60-120Hz, dan kecerahan puncak 3.000 nits. Chip Tensor G4 dipadukan dengan RAM 8GB, memori 128GB atau 256GB, serta kamera 48MP utama dan 13MP ultrawide.
Salah satu nilai jual utamanya adalah baterai 5.100mAh yang mampu bertahan lebih dari sehari untuk penggunaan kasual. Bahkan untuk gaming, streaming, dan penggunaan AI yang berat, daya tahannya masih disebut cukup untuk satu hari penuh.
Pixel 10a menjalankan Android 16 dan mendapat tujuh tahun pembaruan OS. Namun, ponsel ini masih memiliki keterbatasan seperti pengisian 23W yang tergolong lambat, tidak mendukung Qi2, dan fitur AI di perangkat yang lebih terbatas dibanding model Pixel kelas atas.
Untuk pengguna premium, kamera, dan layar lipat
Di kelas premium, Samsung Galaxy S26 Ultra menjadi opsi bagi pengguna yang menginginkan spesifikasi tertinggi sekaligus eSIM. Perangkat ini memakai layar 6,9 inci QHD+ Dynamic AMOLED 2X 120Hz dengan Privacy Display, chip Snapdragon 8 Elite Gen 5, RAM 12GB atau 16GB, dan baterai 5.000mAh.
Kameranya juga sangat agresif, dengan sensor utama 200MP, telefoto 10MP 3x, telefoto 50MP 5x, dan ultrawide 50MP. Di Amerika Serikat, model ini mendukung eSIM dengan satu slot nano-SIM fisik, sementara versi internasional membawa dua slot SIM fisik plus eSIM.
Samsung mematok harga awal $1,299.99 untuk Galaxy S26 Ultra. Harga itu membuatnya tidak mudah dijangkau, dan ukuran bodinya yang besar juga mengurangi portabilitas bagi pengguna yang lebih suka perangkat ringkas.
Jika prioritas utama ada pada fotografi, Google Pixel 10 Pro menjadi salah satu pilihan paling menonjol. Ponsel ini membawa sistem kamera belakang tiga lensa yang terdiri dari 50MP wide, 48MP telefoto dengan zoom optik 5x, dan 48MP ultrawide, ditambah kamera depan 42MP.
Pixel 10 Pro juga dibekali Tensor G5, RAM 16GB, layar 6,3 inci LTPO OLED 120Hz dengan kecerahan puncak 3.300 nits, serta baterai 4.870mAh. Di pasar AS, model ini hanya mendukung eSIM, sedangkan varian dengan SIM fisik tersedia di negara lain.
Untuk kategori layar lipat, Motorola Razr Ultra menjadi pilihan paling menonjol. Ponsel flip ini memakai Snapdragon 8 Elite, RAM 16GB, dua layar pOLED, baterai 4.700mAh, serta engsel dengan penguatan titanium yang diklaim lebih tahan lama.
Layar utamanya berukuran 7 inci dengan refresh rate LTPO 165Hz dan kecerahan puncak 4.500 nits. Motorola juga menyertakan pengisian cepat 68W, tetapi harga perangkat ini tetap masuk kategori mahal.
Daya tahan dan dual-SIM jadi pembeda
OnePlus 15 layak dilirik oleh pengguna yang membutuhkan kombinasi eSIM dan dual nano-SIM. Ponsel ini memungkinkan dua dari tiga opsi konektivitas digunakan sekaligus, sebuah fleksibilitas yang penting bagi pengguna unlocked phone yang sering berganti jaringan.
Spesifikasinya tergolong agresif, mulai dari layar OLED datar 6,78 inci LTPO 1-165Hz, chip Snapdragon 8 Elite Gen 5, RAM 12GB atau 16GB, hingga baterai 7.300mAh dual-cell. Pengisian dayanya juga sangat cepat hingga 120W, dengan sertifikasi IP69K dan dukungan pembaruan selama enam tahun.
OnePlus 15 juga menawarkan kamera belakang 50MP + 50MP + 50MP dan kamera depan 32MP. Meski begitu, ponsel ini tidak mendukung Qi2, dapat berjalan panas saat stress test, dan software-nya disebut masih bisa terasa buggy.
Ada catatan lain yang penting untuk diperiksa sebelum membeli ponsel eSIM, yaitu status kunci operator dan perbedaan dukungan dual-SIM antarwilayah. Ponsel yang terkunci ke operator tertentu bisa mengurangi fleksibilitas eSIM saat bepergian, sementara beberapa model dapat menawarkan dual-SIM di Eropa tetapi tidak di pasar Amerika Serikat.
Source: www.androidcentral.com