Xiaomi 17T masuk ke Indonesia dengan dua daya tarik yang langsung mencuri perhatian, yakni kamera Leica 5x telephoto dan performa kencang dari Dimensity 8500-Ultra. Ponsel ini mulai dipasarkan pada 6 Juni 2026, tetapi kenaikan harga yang cukup tajam membuat calon pembeli perlu menimbang kelebihan dan kekurangannya lebih cermat.
Di atas kertas, Xiaomi 17T terlihat seperti midrange premium yang mencoba mendekati pengalaman kelas flagship. Namun, kombinasi fitur kamera, performa gaming, kualitas layar, dan banderol yang naik hingga Rp2 jutaan lebih dari pendahulunya membuat posisinya jadi menarik sekaligus menantang.
Telefoto jadi nilai jual utama
Peningkatan terbesar Xiaomi 17T ada di sektor kamera belakang. Xiaomi kini membawa sensor utama 50 MP Light Fusion 800 dan lensa periskop telefoto 50 MP dengan dukungan 5x optical zoom, naik jauh dari Xiaomi 15T yang hanya menawarkan 2x optical zoom.
Kehadiran lensa ini membuat Xiaomi 17T tampil lebih agresif untuk fotografi jarak jauh dan potret. Dukungan Leica juga tetap dipertahankan, termasuk fitur Leica Live Moment untuk menangkap foto dinamis dengan nuansa visual khas Leica.
Xiaomi menyebut perangkat ini sebagai “The Telephoto Master” saat peluncuran. Kamera telefoto itu juga didukung 120x AI Ultra Zoom serta Stage Mode untuk membantu pengambilan gambar dalam kondisi pencahayaan yang menantang.
Untuk pengguna yang gemar memotret objek dari kejauhan, peningkatan ini menjadi salah satu kelebihan paling menonjol. Di kelas harga yang ditempati Xiaomi 17T, telefoto 5x jelas memberi diferensiasi yang kuat.
Performa kencang untuk game berat
Selain kamera, Xiaomi 17T juga mengandalkan chipset MediaTek Dimensity 8500-Ultra berbasis 4 nm. Chip ini diklaim mampu mencetak skor AnTuTu hingga 2.137.999 poin, yang menempatkannya di level performa sangat tinggi untuk perangkat non-flagship.
Pengujian dari kanal YouTube Bestindotech menunjukkan ponsel ini mampu menjalankan game berat seperti Wuthering Waves dengan lancar. Dalam pengujian tersebut, permainan tetap mulus meski pengaturan grafis dipasang tinggi dan banyak animasi muncul di layar.
TechRadar juga menilai performa Xiaomi 17T fantastis, terutama untuk melibas game berat. HyperOS 3 turut dipuji karena terasa mulus dan mudah digunakan untuk multitasking.
Pendinginan 3D IceLoop ikut dipasang untuk membantu menjaga suhu tetap stabil saat sesi gaming panjang. Kombinasi chipset cepat, RAM 12 GB, dan penyimpanan UFS 4.1 membuat Xiaomi 17T sangat kompetitif untuk pengguna yang menuntut performa tinggi.
Layar tajam, baterai besar, bodi tangguh
Xiaomi 17T memakai layar AMOLED 6,59 inci beresolusi 1.5K dengan refresh rate 120Hz. Panel ini juga mendukung HDR10+, Dolby Vision, dan tingkat kecerahan puncak 3.500 nits, sehingga sangat menjanjikan untuk hiburan dan penggunaan luar ruangan.
Xiaomi Vision Care menjadi nilai tambah lain di sisi layar. Teknologi ini disebut sudah meraih empat sertifikasi perlindungan mata dari TÜV Rheinland untuk meningkatkan kenyamanan saat dipakai lama.
Di sektor daya, baterai 6.500 mAh menjadi salah satu modal utama perangkat ini. Kapasitas besar tersebut memberi harapan pada daya tahan yang kuat, apalagi dipadukan dengan pengisian cepat 67W HyperCharge.
Kelebihan lain yang patut dicatat adalah kualitas bodi. Xiaomi 17T disebut memiliki build yang solid, sudah mengantongi peringkat IP68, dan memakai perlindungan Gorilla Glass 7i.
Kekurangan yang perlu diperhatikan
Meski unggul di beberapa sektor, Xiaomi 17T tidak lepas dari catatan. Salah satu yang paling terasa adalah harga, karena varian 12 GB/256 GB dibanderol Rp8.999.000 dengan harga promo 6-15 Juni sebesar Rp7.999.000, sedangkan varian 12 GB/512 GB dijual Rp9.999.000.
Sebagai pembanding, Xiaomi 15T 12 GB/256 GB tahun lalu dibanderol Rp6.499.000. Artinya, ada selisih Rp2.499.000 antara Xiaomi 17T dan generasi sebelumnya untuk versi standar.
Dengan lonjakan sebesar itu, ekspektasi publik terhadap peningkatan fitur tentu ikut naik. Masalahnya, tidak semua aspek Xiaomi 17T terasa sempurna untuk harga tersebut.
Pengisian daya 67W dinilai kurang memuaskan untuk segmen harganya. GSMArena bahkan menilai ada alternatif lain yang layak dipertimbangkan jika pengguna tidak terlalu membutuhkan kamera telefoto.
Kamera depan 32 MP juga disebut masih biasa saja karena tidak memiliki autofokus. Untuk pengguna yang sering mengandalkan selfie atau video call, absennya fitur ini bisa menjadi kekurangan yang cukup terasa.
GSMArena juga menyoroti anomali refresh rate pada beberapa menu dan aplikasi tertentu. Catatan ini mengarah pada kebutuhan optimalisasi software lebih lanjut, bukan semata keterbatasan hardware.
TechRadar menambahkan ada cukup banyak aplikasi bawaan yang dianggap tidak berguna. Hal seperti ini bisa mengganggu pengalaman awal, terutama bagi pengguna yang menyukai antarmuka bersih.
Masalah suhu juga masuk daftar perhatian. Xiaomi 17T dilaporkan cepat hangat bahkan bisa terasa panas saat kamera dibuka lama atau ketika dipakai di luar ruangan.
Tujuh kelebihan dan lima kekurangan
Jika dirangkum, kelebihan Xiaomi 17T mencakup kamera telefoto periskop 50 MP 5x, HyperOS 3 yang mulus, performa chipset yang sangat kencang, layar AMOLED 120Hz yang impresif, baterai 6.500 mAh, kemampuan perekaman luar ruangan yang mumpuni, dan bodi tangguh dengan IP68. Daftar itu menunjukkan fokus Xiaomi pada kamera dan performa sebagai dua senjata utama.
Sementara itu, kekurangannya meliputi pengisian daya 67W yang terasa kurang istimewa, kamera depan tanpa autofokus, refresh rate yang tak selalu konsisten, banyak aplikasi bawaan yang kurang perlu, serta isu panas pada skenario tertentu. Dengan profil seperti ini, Xiaomi 17T tampak paling cocok untuk pengguna yang memang mengejar telefoto lebih ciamik dan performa kencang, sambil siap menerima kompromi di sisi software, suhu, dan harga.
Source: www.suara.com