Krisis cip memori yang mengganggu rantai pasok industri teknologi dunia diperkirakan memberi tekanan besar pada pasar smartphone. Namun, perangkat premium dari Apple dan Samsung dinilai lebih tangguh menghadapi situasi ini dibandingkan banyak produsen lain.
Apple menjadi salah satu pihak yang paling diuntungkan dari kondisi tersebut karena memiliki pasokan cip yang lebih terjamin dan margin keuntungan yang tinggi. Lembaga riset pasar smartphone Counterpoint memperkirakan pengiriman perangkat Apple sepanjang 2026 relatif stabil sebelum kembali tumbuh sekitar 5% pada tahun depan.
Kinerja Apple dan Samsung tetap lebih kuat
Apple juga mencatat pendapatan tertinggi sepanjang sejarah pada tiga bulan pertama 2026, didorong tingginya permintaan konsumen yang melakukan upgrade ke seri iPhone 17. Kondisi itu menunjukkan bahwa permintaan di segmen premium masih kuat meski pasar secara umum sedang tertekan.
Di sisi lain, Samsung Electronics mampu mempertahankan volume penjualan pada kuartal I 2026. Counterpoint memperkirakan pengiriman smartphone Samsung sepanjang 2026 hanya turun 4%, yang dinilai jauh lebih baik dibandingkan rata-rata pasar global.
Segmen murah paling terpukul
Tekanan terbesar justru diperkirakan dirasakan produsen yang mengandalkan smartphone murah. Counterpoint memperkirakan pengiriman perangkat milik Transsion Holdings akan anjlok 32% sepanjang tahun ini, sementara Xiaomi diproyeksikan turun 28% dan Honor turun 20%.
Kelangkaan cip memori paling terasa pada segmen kelas bawah dan menengah karena produsen cip kini lebih banyak mengalihkan kapasitas produksi untuk memenuhi permintaan chip terkait artificial intelligence atau AI. Akibatnya, produksi smartphone entry-level menjadi kurang ekonomis bagi banyak pemain pasar.
Pasar global ikut melemah
Counterpoint Research memproyeksikan pengiriman smartphone global pada 2026 akan merosot 13,9% menjadi sekitar 1,08 miliar unit. Proyeksi itu menggambarkan bahwa krisis cip memori tidak hanya menekan produsen tertentu, tetapi juga berpotensi mengubah peta persaingan di seluruh industri.
Menurut analis utama Counterpoint, Wang Yang, produsen smartphone di segmen bawah dan menengah berada dalam posisi sulit. Ia menyebut mereka terjebak di antara kenaikan biaya produksi yang tidak bisa mereka tanggung dan konsumen yang memiliki daya beli terbatas.
Dalam situasi seperti ini, Apple dan Samsung dinilai punya ruang gerak lebih besar karena kekuatan merek, lini produk yang konsisten, serta pasokan komponen yang lebih stabil. Kondisi tersebut membuat keduanya berpeluang mempertahankan posisi di pasar ketika kompetitor yang lebih bergantung pada perangkat murah menghadapi tekanan biaya dan penurunan permintaan.
Source: www.beritasatu.com