
Intel mempertegas langkahnya di pasar data center dengan meluncurkan Xeon 6+ dan memamerkan arah pengembangan GPU baru bernama Crescent Island. Fokus utamanya bukan sekadar menambah tenaga komputasi, melainkan menyiapkan infrastruktur yang dinilai lebih siap menghadapi era agentic AI.
Dalam pendekatan ini, Intel menempatkan CPU kembali di posisi sentral sebagai pengatur utama sistem AI modern. Perusahaan menilai tantangan AI kini tidak hanya soal akselerasi, tetapi juga orkestrasi, konkurensi, dan pergerakan data dalam skala besar.
Kevork Kechichan, Executive Vice President dan General Manager Intel Data Center Group, mengatakan skalabilitas AI tidak lagi cukup ditopang komponen yang berdiri sendiri. Menurut dia, infrastruktur AI membutuhkan sistem yang terkoordinasi secara utuh, dengan CPU berperan sebagai control plane.
Xeon 6+ jadi sorotan utama
Produk paling menonjol dalam pengumuman ini adalah Intel Xeon 6+. Prosesor tersebut disebut sebagai CPU data center pertama yang dibangun dengan teknologi fabrikasi Intel 18A.
Intel merancang Xeon 6+ untuk beban kerja cloud-native dan agentic AI yang menuntut kepadatan komputasi tinggi. Di atas kertas, chip ini bisa membawa hingga 288 Efficient-cores atau E-cores.
Perusahaan mengklaim performanya mencapai 2,5 kali lebih tinggi dibanding generasi sebelumnya. Intel juga menyebut efisiensi daya dalam performa per thread per watt 45% lebih baik dibanding kompetitor sekelasnya.
Salah satu klaim yang paling menonjol datang dari sisi konsolidasi infrastruktur. Xeon 6+ disebut memungkinkan rasio konsolidasi server 9:1, yang berpotensi memangkas footprint pusat data sekaligus menekan biaya operasional.
Pesan yang ingin dibangun Intel terlihat jelas dari peluncuran ini. Saat AI makin kompleks dan melibatkan lebih banyak agen serta alur kerja paralel, CPU dinilai tetap menjadi titik kendali yang menentukan efisiensi sistem secara keseluruhan.
GPU Crescent Island disiapkan untuk beban AI besar
Di saat yang sama, Intel juga menunjukkan bahwa strategi data center-nya tidak berhenti di CPU. Perusahaan mengungkap detail pengembangan GPU data center generasi berikutnya dengan nama sandi Crescent Island.
GPU ini dibangun di atas arsitektur Xe 3P. Intel membekalinya dengan memori LPDDR5x hingga 480 GB, kapasitas yang diarahkan untuk menangani beban kerja AI berskala besar dengan kebutuhan token yang padat.
Dari sisi rancangan fisik, Crescent Island memakai desain PCIe 350W. Intel menyebut konfigurasi itu tetap bisa didinginkan menggunakan sistem pendingin udara biasa, sehingga menarik untuk pusat data yang ingin menyeimbangkan performa dan efisiensi operasional.
Kombinasi kapasitas memori besar dan konsumsi daya yang masih terkendali menjadi salah satu poin penting dari GPU ini. Pendekatan tersebut menunjukkan Intel ingin bermain di area akselerasi AI tanpa mengabaikan aspek implementasi nyata di data center.
Pergerakan data juga jadi fokus
Selain komputasi, Intel juga menyoroti pentingnya jalur data dalam infrastruktur AI. Karena itu, perusahaan merilis controller dan adapter jaringan Ethernet Seri 800 E835.
Perangkat jaringan ini mendukung throughput hingga 200 GbE dengan berbagai opsi konfigurasi. Intel menempatkan E835 sebagai jawaban atas kebutuhan perpindahan data masif yang menjadi fondasi beban kerja AI modern.
Intel mengklaim adapter E835 menawarkan efisiensi daya yang sangat kompetitif. Menurut perusahaan, rasio performa per watt perangkat ini 1,9 kali lebih tinggi dibanding Nvidia ConnectX-6 DX dan 1,4 kali lebih tinggi dari Broadcom BCM957508-P2100G.
Kehadiran E835 memperlihatkan bahwa strategi Intel di data center dibangun sebagai paket yang saling terhubung. CPU, GPU, dan jaringan diposisikan sebagai tiga lapisan yang harus berjalan serempak agar AI bisa diskalakan lebih efisien.
Intel juga menyasar server kelas entry-level
Pengumuman Intel kali ini tidak hanya menyasar operator pusat data besar. Perusahaan juga memperbarui lini untuk pasar entry-level dan pelaku usaha kecil menengah melalui opsi prosesor 12-core pada keluarga Intel Xeon 6300.
Langkah ini mendorong batas yang sebelumnya mentok di 8-core untuk kelas server pemula. Dengan tambahan ini, pengguna di segmen tersebut mendapat ruang peningkatan daya komputasi tanpa harus masuk ke kelas infrastruktur yang lebih mahal.
Intel menyebut opsi baru itu dirancang kompatibel langsung dengan desain motherboard server yang sudah ada. Pendekatan drop-in ini memberi jalan peningkatan yang lebih sederhana karena pengguna tidak perlu merombak fondasi sistem yang telah dipakai.
Bagi pasar UKM, pendekatan tersebut bisa menjadi nilai penting. Peningkatan performa dapat dilakukan dengan gangguan dan biaya infrastruktur yang lebih rendah, terutama untuk kebutuhan server yang mulai berkembang.
Secara keseluruhan, rangkaian pengumuman ini menunjukkan arah Intel di pasar data center semakin menekankan integrasi sistem. Di tengah berkembangnya agentic AI, perusahaan ingin menempatkan CPU, GPU, dan jaringan sebagai fondasi yang bekerja bersama, bukan sebagai komponen yang berdiri sendiri.
Source: inet.detik.com








