
MacBook Neo masuk ke pasar dengan janji yang sudah lama ditunggu banyak pengguna Apple: harga lebih terjangkau tanpa kesan murahan. Di level mulai Rp 10,7 juta, laptop ini justru tampil dengan karakter yang terasa premium sejak pertama disentuh.
Daya tarik utamanya bukan hanya label sebagai MacBook murah. Yang menonjol adalah bagaimana Apple tetap mempertahankan banyak elemen khas MacBook, mulai dari bodi aluminium, layar berkualitas tinggi, sampai performa yang responsif untuk kerja harian.
Perangkat yang diuji merupakan varian dengan RAM 8 GB dan SSD 256 GB. Dalam penggunaan sekitar dua pekan, MacBook Neo menunjukkan pendekatan yang berbeda dari laptop murah pada umumnya, karena komprominya ada, tetapi tidak sampai merusak pengalaman inti.
Desain premium tetap jadi jualan utama
MacBook Neo memakai bodi unibody aluminium yang langsung memberi kesan kokoh. Apple juga menggunakan 90% material daur ulang pada chassis, dengan struktur yang tetap solid dan minim flex saat ditekan.
Bobotnya 1,23 kg dengan ketebalan 1,27 cm. Kombinasi ini membuatnya mudah dibawa ke kampus, kantor, atau saat bepergian tanpa terasa membebani tas.
Apple menyiapkan empat warna, yaitu Silver, Blush, Citrus, dan Indigo. Pilihan ini membuat Neo terlihat lebih muda dan segar dibanding lini MacBook yang biasanya lebih konservatif.
Hinge laptop ini terasa presisi dan dapat dibuka dengan satu tangan. Magic Keyboard juga tetap nyaman dipakai mengetik lama, sementara trackpad besar khas Apple masih menjadi salah satu yang terbaik untuk navigasi.
Namun, ada pengurangan fitur di varian termurah. Model dasar belum membawa keyboard backlit dan Touch ID, sedangkan pilihan port hanya dua USB-C dan satu jack audio 3,5 mm.
Layar tajam, audio jadi kejutan
MacBook Neo memakai layar Liquid Retina 13 inci dengan resolusi 2408 x 1506 piksel. Tingkat kecerahannya mencapai 500 nits, sehingga tetap nyaman dipakai dalam berbagai kondisi pencahayaan.
Panel ini juga mendukung color gamut P3. Hasilnya, foto dan video terlihat hidup, dengan warna yang akurat untuk kebutuhan editing ringan maupun konsumsi hiburan.
Apple mempertahankan bezel tipis dan simetris tanpa notch. Desain ini justru bisa menjadi nilai plus bagi pengguna yang lebih suka tampilan layar utuh.
Untuk menonton Netflix, YouTube, atau Disney+, kualitas visualnya dinilai memuaskan. Detail tampak jelas dan warna tetap terlihat natural.
Kamera FaceTime HD 1080p ditempatkan di bagian atas layar. Kualitasnya cukup baik untuk meeting online dan video call, termasuk saat kondisi pencahayaan ruangan kurang ideal.
MacBook Neo memang belum mendukung Center Stage. Namun Apple tetap menyediakan fitur software seperti background blur untuk membantu pengalaman video conference.
Di sektor audio, speaker stereo dengan dukungan Spatial Audio dan Dolby Atmos memberi hasil yang lantang dan jernih. Bagian ini menjadi salah satu kejutan yang memperkuat kesan bahwa Neo bukan laptop murah dalam pengalaman sehari-hari.
Performa harian kencang, bahkan sanggup editing 4K
MacBook Neo ditenagai chip Apple A18 Pro. Kombinasi ini dipadukan dengan RAM 8 GB dan SSD 256 GB pada unit yang diuji.
Dalam pemakaian harian, performanya terasa sangat responsif. Membuka banyak tab Safari, mengedit dokumen, menjalankan aplikasi produktivitas, dan multitasking ringan berjalan tanpa kendala berarti.
Pada Geekbench 6.7.1, MacBook Neo mencatat skor single-core 3.535, multi-core 8.838, dan OpenCL 19.399. Sementara di Cinebench 2026, hasilnya 528 poin untuk CPU Single Thread dan 1.503 poin untuk CPU Multi Thread, dengan MP Ratio 2.85x.
Skor single-core yang tinggi membuat sistem terasa lincah saat dipakai sehari-hari. Respons aplikasi, perpindahan tugas, dan aktivitas umum berjalan mulus tanpa lag yang mengganggu.
Untuk penyimpanan, SSD bawaannya mencatat kecepatan baca 1.590,2 MB/s dan tulis 1.606,7 MB/s pada Blackmagic Disk Speed Test. Angka ini mendukung proses booting, membuka aplikasi, dan transfer file yang terasa instan.
Dalam pengujian nyata, MacBook Neo juga bisa menangani editing video 4K dengan nyaman. Beberapa proyek video beresolusi tinggi masih dapat dijalankan tanpa masalah berarti.
Kemampuan gaming juga memberi kejutan. Wuthering Waves disebut berjalan lancar pada pengaturan default, dengan frame rate stabil dan minim stuttering.
Catatan utamanya ada pada kapasitas penyimpanan. SSD 256 GB terasa cepat, tetapi bisa cepat penuh, terutama untuk pengguna yang memasang game berukuran besar.
Baterai jadi salah satu nilai jual terkuat
Apple membekali MacBook Neo dengan baterai 36,5 Wh. Dalam pengujian memainkan Wuthering Waves selama 30 menit, baterainya hanya turun sekitar 15%.
Untuk pemakaian sehari-hari seperti mengetik, browsing, meeting online, dan menonton video, konsumsi dayanya tergolong irit. Dalam satu hari kerja penuh, baterai yang terpakai hanya sekitar 50%.
Dengan pola penggunaan normal, laptop ini bahkan bisa bertahan hingga dua hari tanpa perlu diisi ulang. Pengisian daya memakai adaptor 20W membutuhkan waktu sekitar 2 jam 10 menit dari 0 sampai 100%.
Pengisian ini memang tidak tergolong sangat cepat. Namun efisiensi daya yang tinggi membuat kekurangan tersebut tidak terlalu terasa dalam penggunaan mobile.
Di rentang harga Rp 10 jutaan, kombinasi desain premium, layar bagus, kamera yang layak untuk meeting, performa cepat, dan baterai awet membuat MacBook Neo tampil sangat kompetitif. Kompromi seperti tanpa Touch ID, keyboard backlit di varian dasar, dan port terbatas memang ada, tetapi belum cukup untuk menghapus daya tarik utamanya.
Source: inet.detik.com








