Turun Kelas Dari iPad Pro Ke iPad Air M4 Selama 3 Bulan, Yang Paling Bikin Kangen Ternyata Ini

Selama tiga bulan dipakai sebagai perangkat utama, iPad Air M4 membuktikan satu hal penting: tidak semua pengguna butuh iPad Pro untuk mendapat pengalaman tablet kelas atas. Yang paling cepat terasa justru bukan soal performa, melainkan kompromi di layar, kemudahan membuka kunci, dan biaya penyimpanan.

Perpindahan dari iPad Pro ke iPad Air M4 ini juga menyorot satu pertanyaan yang sering muncul di kalangan pengguna Apple: fitur premium mana yang benar-benar penting, dan mana yang cuma terasa mewah di atas kertas. Dalam penggunaan harian, jawabannya ternyata cukup bergantung pada jenis pekerjaan dan kebiasaan masing-masing.

Layar masih jadi pembeda paling besar

Sektor yang paling bikin kangen adalah layar iPad Pro. Model itu memakai teknologi Dual OLED yang jauh lebih cerah, sementara iPad Air masih mengandalkan panel IPS LCD.

Di dalam ruangan, perbedaannya tidak terlalu ekstrem. Kecerahan iPad Pro yang biasa dipakai di 50 persen bisa ditandingi iPad Air di kisaran 75–80 persen, tetapi situasinya berubah saat dipakai di bawah sinar matahari langsung.

Perbedaan lain yang langsung terasa ada di refresh rate. iPad Pro sudah mendukung 120Hz ProMotion, sedangkan iPad Air masih 60Hz, dan untuk navigasi harian selisih ini terasa jelas.

Meski begitu, penurunan ke 60Hz tidak serta-merta merusak pengalaman menggambar. Untuk penggunaan Apple Pencil Pro, latensi di iPad Air M4 disebut tidak terdampak signifikan, karena rasa lag lebih sering dipengaruhi optimasi aplikasi seperti Procreate atau Clip Studio Paint.

Performa justru tidak jadi masalah

Bagian yang paling mengejutkan dari iPad Air M4 adalah chip Apple M4 di dalamnya. Chip yang sama juga dipakai di iPad Pro, dan bahkan masih menjadi otak utama di Mac mini serta iMac saat ini.

Secara praktis, itu berarti iPad Air M4 tetap punya tenaga sangat besar untuk kelasnya. Rendering video berat di DaVinci Resolve maupun menggambar ratusan layer di Procreate masih bisa dijalankan tanpa masalah besar.

Dari sisi ketahanan pakai, perangkat ini juga dipandang masih akan kencang dalam jangka panjang. Estimasi yang muncul menyebut tablet ini masih sanggup memberi performa tinggi hingga 6 tahun ke depan.

Fitur yang hilang terasa kecil, tapi cukup mengganggu

Salah satu detail premium yang baru terasa penting setelah hilang adalah Face ID. iPad Pro menawarkan kemudahan membuka kunci hanya dengan pemindaian wajah, sedangkan iPad Air memakai Touch ID di tombol power.

Secara respons, Touch ID memang cepat. Namun bagi pengguna yang sudah lama terbiasa dengan Face ID, proses adaptasi kembali ke sidik jari terasa lebih merepotkan dari yang dibayangkan.

Kenyamanan kecil seperti ini sering kali baru terasa nilainya setelah dipakai setiap hari. Dalam penggunaan rutin, perbedaan tersebut bisa lebih mengganggu daripada spesifikasi yang tampak di atas kertas.

Penyimpanan jadi titik paling rawan

Jika ada aspek yang paling perlu dipikirkan sebelum membeli iPad Air M4, itu adalah kapasitas storage. Varian dasar 128GB dinilai sangat mepet untuk kebutuhan editing video.

Satu proyek video kasual saja bisa memakan ruang sekitar 30 hingga 50GB. Artinya, ruang penyimpanan bisa cepat habis jika tablet dipakai untuk pekerjaan yang cukup berat.

Apple memang menyediakan opsi hingga 1TB, tetapi kenaikan harganya disebut tidak masuk akal. Lompatan storage itu bisa menambah biaya hingga Rp8 jutaan hanya untuk memori.

Untuk kebutuhan menggambar, mencatat, dan komputasi harian, varian standar masih cukup aman. Namun untuk editor video profesional, keterbatasan storage dan manajemen file di iPadOS bisa membuat MacBook atau PC lebih menarik.

Setelah tiga bulan dipakai penuh, iPad Air M4 terlihat mampu mematahkan anggapan bahwa varian Pro selalu wajib dipilih untuk mengejar performa terbaik. Kecuali bagi pengguna yang sangat membutuhkan layar OLED 120Hz dan Face ID, iPad Air M4 tetap tampil sebagai pilihan yang paling masuk akal untuk sebagian besar pengguna.

Terkait