
Lonjakan harga DRAM membuat rencana peluncuran kartu grafis baru Nvidia berada di bawah sorotan. Di tengah biaya memori yang disebut sedang sangat tinggi, rumor soal lini RTX 50 Super justru kembali menguat.
Isu ini penting karena strategi refresh di tengah siklus produk biasanya bergantung pada biaya komponen yang terkendali. Saat harga memori naik tajam, setiap tambahan VRAM langsung menekan ongkos produksi dan berpotensi mendorong harga jual makin tinggi.
Rumor RTX 50 Super kembali muncul
Pembocor teknologi gaming Zed__Wang mengklaim Nvidia masih berencana meluncurkan lini RTX 50 Super. Klaim itu mengejutkan karena sebelumnya tidak ada pengumuman pada ajang CES, sehingga banyak pihak mengira proyek tersebut sudah tidak dilanjutkan.
Rumor soal kartu grafis ini sebenarnya sudah beredar sejak April 2025. Saat itu, bocoran awal menyebut peningkatan VRAM di beberapa model sebagai daya tarik utama refresh generasi menengah ini.
Belakangan, kenaikan harga memori membuat ekspektasi itu meredup. Banyak pengamat dan pengguna PC menganggap rencana tersebut sulit diwujudkan karena situasi pasokan dan biaya komponen yang memburuk.
Fokus utama ada di penambahan VRAM
Bocoran terbaru menyebut salah satu model yang sedang disiapkan adalah RTX 5060 12GB. Nama finalnya belum jelas, karena Nvidia disebut bisa saja memberi label Super pada varian itu atau menjualnya berdampingan dengan versi 8GB yang sudah ada.
Jika pendekatan kedua yang dipilih, kartu dengan memori lebih besar itu kemungkinan akan hadir dengan harga lebih tinggi. Arah ini sejalan dengan dugaan bahwa Nvidia ingin menawarkan opsi VRAM lebih lapang tanpa harus sepenuhnya mengganti model yang sekarang beredar.
Untuk kelas di atasnya, pola upgrade yang disebut juga berpusat pada memori. RTX 5070 Ti Super dan RTX 5080 Super dikabarkan akan lebih menekankan peningkatan kapasitas VRAM ketimbang perubahan besar di sisi inti grafis.
RTX 5070 Super disebut bisa mendapatkan kenaikan CUDA core, meski sifatnya hanya modest atau terbatas. Itu berarti peningkatan performa mentah bisa saja tidak sebesar lonjakan yang diharapkan sebagian pengguna.
Ada ruang peningkatan performa, tetapi risikonya nyata
Pada RTX 5060, bocoran menyebut kartu ini memakai die GB202 dengan 3.840 CUDA core aktif dari total 4.608 yang tersedia. Secara teori, membuka lebih banyak core dapat memberi lompatan performa yang berarti untuk segmen budget.
Namun langkah itu juga punya konsekuensi bisnis. Jika peningkatan performa terlalu besar, model tersebut berpotensi memakan penjualan RTX 5060 Ti milik Nvidia sendiri.
Tambahan memori juga biasanya berdampak pada konsumsi daya. Karena itu, rumor menyebut TDP di lini RTX 50 Super dapat meningkat, seiring kapasitas VRAM yang lebih tinggi pada beberapa model.
Masalah utamanya ada di pasar memori
Pertanyaan terbesar bukan sekadar apakah Nvidia bisa merilis RTX 50 Super, melainkan apakah pasar dapat menerima produk itu dengan harga yang masuk akal. Harga DRAM yang sangat tinggi saat ini disebut terjadi di banyak sektor teknologi.
Salah satu pendorong utamanya adalah prioritas produsen memori pada pusat data AI. Ketika alokasi pasokan lebih condong ke kebutuhan tersebut, pasar komponen lain termasuk GPU konsumen ikut terkena dampaknya.
Kondisi ini menyulitkan Nvidia dan mitra board-nya untuk menjaga harga ritel tetap dekat dengan MSRP. Bahkan tanpa produk baru sekalipun, tekanan biaya memori sudah cukup untuk membuat harga kartu grafis melambung.
Dalam konteks itu, menambah VRAM pada model seperti RTX 5060 12GB akan langsung menaikkan biaya produksi. Artinya, refresh yang secara teknis menarik bisa berubah menjadi produk yang sulit dijangkau konsumen umum.
Nilai jual RTX 50 Super akan ditentukan harga akhir
Bila Nvidia dan mitranya menyerap sebagian biaya tambahan, lini RTX 50 Super masih bisa tampil sebagai refresh yang menarik. Namun bila beban ongkos itu diteruskan penuh ke konsumen, daya tariknya bisa cepat berkurang.
Faktor lain yang ikut menentukan adalah perilaku pasar ritel. Jika markup tetap tinggi akibat kelangkaan memori, kartu-kartu baru ini berisiko menjadi upgrade yang hanya relevan di atas kertas, tetapi kurang kompetitif saat benar-benar masuk toko.
Di sisi lain, peningkatan VRAM tetap punya nilai praktis bagi gamer yang mulai terbentur kapasitas memori pada game modern. Karena itu, rumor RTX 50 Super masih cukup menarik perhatian, meski pertanyaan soal keterjangkauan belum mendapat jawaban yang meyakinkan.
Untuk saat ini, kabar tentang RTX 50 Super masih berada di ranah bocoran dan belum diumumkan resmi. Yang sudah terlihat jelas adalah satu hal: di tengah harga DRAM yang melambung, setiap tambahan gigabyte VRAM kini bukan hanya soal spesifikasi, tetapi juga soal apakah pasar GPU masih mampu menanggung biayanya.
Source: tech.sportskeeda.com








