Video sinematik makin lekat dengan kebiasaan Gen Z di media sosial karena format ini tidak lagi sekadar menampilkan gambar yang bagus. Konten seperti ini dinilai lebih kuat dalam menghadirkan suasana, emosi, dan cerita yang dekat dengan keseharian penonton.
Tren itu tumbuh seiring kemudahan membuat konten lewat kamera smartphone yang kini makin mumpuni. Hasilnya, aktivitas sederhana seperti jalan-jalan, kuliner, hingga rutinitas harian bisa diubah menjadi video yang terasa lebih dramatis dan menarik untuk dibagikan di TikTok atau Instagram Reels.
Photographer Professional dan Content Creator Akbar Nugroho menilai istilah “video sinematik” memang bukan istilah resmi dalam dunia videografi. Namun, istilah itu kini identik dengan konten yang menampilkan visual layaknya film profesional dalam format singkat yang mudah dinikmati di media sosial.
Menurut Akbar, daya tarik utamanya ada pada cerita. Konten daily life, travelling, atau aktivitas sederhana yang relatable justru menjadi jenis video yang paling mudah membuat orang bertahan menonton sampai selesai.
Data yang dipaparkan Akbar menunjukkan unggahan video sinematik secara global mencapai sekitar 1,7 juta video per hari pada 2023. Angka itu diproyeksikan naik menjadi 2,8 juta video per hari pada 2026, menandakan format ini terus berkembang dan makin luas dipakai kreator.
Kenaikan itu memperlihatkan perubahan cara pengguna membagikan momen. Jika sebelumnya foto sering menjadi pilihan utama, kini video yang mampu membangun mood dan menghadirkan pengalaman visual lebih disukai.
Bagi Gen Z, perubahan ini terasa masuk akal karena media sosial kini sangat bergantung pada konten bergerak. Video pendek yang punya alur, nuansa, dan sentuhan visual yang lebih rapi cenderung lebih mudah menarik perhatian di tengah arus unggahan yang sangat padat.
Cerita Jadi Kunci
Akbar menilai penonton saat ini tidak hanya mencari tampilan yang estetik. Mereka juga ingin melihat momen yang terasa nyata, dekat, dan bisa membangkitkan emosi meski berasal dari aktivitas yang sangat sederhana.
Karena itu, video sinematik tidak harus dibuat dari peristiwa besar. Dokumentasi perjalanan, suasana kafe, langkah kaki saat sore hari, atau potongan aktivitas harian justru sering terasa lebih kuat karena mudah dipahami dan dekat dengan pengalaman banyak orang.
Fenomena ini menjelaskan mengapa Gen Z terlihat keranjingan membuat dan menonton video semacam itu. Format tersebut memberi ruang untuk mengekspresikan identitas, selera visual, dan cerita personal dalam bentuk yang ringkas.
Peran Kamera Smartphone
Perkembangan tren ini juga tidak lepas dari kemampuan kamera smartphone yang terus meningkat. Akbar menyebut proses pembuatan konten sekarang jauh lebih mudah dibanding beberapa tahun lalu, sehingga lebih banyak orang bisa menghasilkan video dengan tampilan yang lebih serius.
Melihat kecenderungan itu, Samsung membekali Galaxy A57 5G dan Galaxy A37 5G dengan peningkatan kamera untuk mendukung pembuatan video sinematik. Salah satu yang disorot adalah kemampuan Nightography Video untuk membantu perekaman dalam kondisi minim cahaya.
Kedua ponsel itu didukung kamera 0,8μm Pixel ISP dan dukungan kamera wide untuk membantu menangkap lebih banyak cahaya. Dengan bekal tersebut, video malam hari diklaim tampil lebih terang, detail, dan stabil.
MX Product Marketing Senior Manager Samsung Electronics Indonesia, Annisa Maulina, mengatakan peningkatan itu juga terasa pada kestabilan pengambilan gambar. Menurut dia, hasil perekaman menjadi lebih cerah dan lebih stabil dibanding generasi sebelumnya.
Samsung melihat kebutuhan tersebut relevan dengan profil pengguna Galaxy A Series saat ini. Annisa menyebut mayoritas penggunanya berasal dari rentang usia 25 hingga 35 tahun yang gemar travelling, kuliner, dan aktif membagikan konten ke media sosial.
Kebiasaan itu beririsan langsung dengan budaya konten visual yang berkembang saat ini. Saat orang semakin sering merekam pengalaman sehari-hari, perangkat dengan kemampuan video yang lebih baik menjadi penting untuk mendukung hasil yang lebih menarik tanpa proses yang rumit.
Bukan Sekadar Estetika
Popularitas video sinematik pada akhirnya bukan hanya soal visual ala film. Format ini disukai karena mampu menggabungkan cerita personal, suasana emosional, dan kemudahan produksi dalam satu paket yang pas untuk platform video pendek.
Itu sebabnya video sinematik terus menjadi salah satu format favorit untuk mendokumentasikan perjalanan, aktivitas sehari-hari, hingga momen sederhana. Selama konten bisa menghadirkan rasa dan cerita yang kuat, format ini diperkirakan tetap punya tempat besar di kebiasaan digital Gen Z.
Source: inet.detik.com