Dalam industri teknologi, tidak semua produk yang paling ramai dibicarakan berakhir menjadi hit. Sebagian justru tumbang karena harga terlalu tinggi, ekosistem aplikasi lemah, desain membingungkan, atau fitur yang tidak cukup berguna untuk penggunaan harian.
Kasus-kasus ini juga menunjukkan satu pola yang berulang. Inovasi memang penting, tetapi hype saja tidak cukup ketika produk yang dirilis belum benar-benar matang.
Saat ide besar bertabrakan dengan realitas pasar
Sony PSP Go menjadi contoh jelas bagaimana perubahan besar tidak selalu diterima pasar. Konsol yang dirilis pada 2009 itu hadir sebagai versi lebih kecil dan ringan dari PSP, dengan layar 3,8 inci yang bisa digeser untuk menampilkan gamepad di bawah.
Masalahnya, Sony menghilangkan slot UMD sehingga konsol ini tidak bisa memainkan game PSP fisik. Dengan harga US$250 yang dinilai terlalu tinggi, penjualannya mengecewakan dan produksinya dihentikan pada 2011.
Google Glass juga sempat diposisikan sebagai terobosan besar. Perangkat ini meluncur pada 2013 dengan harga US$1.500, membawa kamera 5MP, layar 640 x 360 piksel, chipset OMAP 4430, RAM 2GB, penyimpanan 12GB, dan sistem operasi Glass OS.
Namun, inovasi itu langsung berbenturan dengan kekhawatiran privasi. Kamera bawaan memicu kritik, sementara pengguna juga menilai perangkat ini berpotensi mengganggu aktivitas sehari-hari seperti menyetir.
Ketika terlambat masuk pasar
Sega Dreamcast datang dengan beban besar setelah reputasi Sega turun drastis usai Saturn kalah dari PlayStation. Pada 1999, Sega mencoba bangkit lewat Dreamcast dengan 18 game launch title.
Sayangnya, PlayStation 2 hadir satu tahun kemudian dengan visual game yang lebih baik, DVD player, dan kemampuan memainkan game PS1. Sega menghentikan produksi Dreamcast pada 2001 dan keluar dari bisnis konsol, meski tetap aktif mengembangkan game.
Nasib serupa dialami Windows Phone saat Microsoft mencoba menantang Android dan Apple pada 2010. Windows Phone 7 membawa tampilan live tile yang berbeda, dan awalnya tersedia di sepuluh ponsel dari Dell, HTC, LG, hingga Samsung.
Microsoft kemudian bekerja sama dengan Nokia untuk menjadikannya sistem operasi utama pengganti Symbian. Tetapi pasar sudah dikuasai Android dan iPhone, sehingga upaya itu sulit menarik perhatian pengguna.
Desain menarik, tetapi tidak cukup kuat
Nintendo Wii U juga tidak mampu mengulang kesuksesan Wii. Dirilis pada 2012, konsol ini membawa GamePad sebagai nilai jual utama, tetapi nama “Wii U” dan iklan yang membingungkan membuat banyak pemain mengira perangkat itu hanya aksesori tambahan.
Di atas kertas, GamePad terdengar menarik. Dalam praktiknya, perangkat itu terasa besar, kurang nyaman digenggam, dan baterainya cepat habis, sementara performa Wii U sendiri biasa saja dan kalah dari PS4 serta Xbox One.
Masalah lain datang dari minimnya game eksklusif yang benar-benar menonjol di awal peluncuran. Banyak judul yang tersedia juga di konsol lain, sehingga alasan membeli Wii U menjadi semakin lemah.
Fitur unik yang tidak menyelesaikan masalah utama
Amazon Fire Phone menunjukkan bahwa nama besar perusahaan tidak otomatis menjamin sukses di pasar ponsel. Ponsel yang dirilis pada 2014 ini membawa layar 4,7 inci, chipset Snapdragon 800, RAM 2GB, dan opsi penyimpanan 32GB atau 64GB.
Fire OS yang dipakai merupakan versi modifikasi Android tanpa Google Play Store, sehingga pengguna harus mengunduh aplikasi secara manual. Harga yang mahal untuk perangkat dengan fitur biasa saja dan aplikasi terbatas membuat Fire Phone gagal bersaing, termasuk karena fitur Dynamic Perspective tidak cukup menarik.
Humane AI Pin masuk daftar ini karena ekspektasi yang sangat tinggi sejak awal. Perangkat wearable berbasis AI itu ditempel di pakaian dan bisa dipakai untuk menelepon, mengirim pesan, menjawab pertanyaan, mengambil foto atau video, hingga memproyeksikan teks ke tangan pengguna.
Saat akhirnya meluncur, respons pasar jauh dari harapan. Banyak kritik muncul karena fungsinya terbatas, cara pakai rumit, kualitas kamera biasa saja, harga US$699, dan kewajiban berlangganan Humane Plan seharga US$24 per bulan.
Source: www.idntimes.com