Waterdrop Notch dan Bodi Plastik Balik Lagi di 2026, Demi Harga Ponsel Tetap Terjangkau

Author: Qoo Media

Waterdrop notch dan bodi plastik yang sempat dianggap ditinggalkan industri smartphone kini disebut punya peluang kembali muncul di perangkat yang meluncur pada 2026. Dorongan utamanya bukan sekadar nostalgia desain, melainkan tekanan biaya produksi yang makin besar di segmen menengah dan entry-level.

Bocoran yang dibagikan tipster Digital Chat Station di Weibo, lalu dikutip sejumlah media teknologi internasional, menyebut beberapa produsen tengah mengevaluasi lagi komponen dan desain lama. Langkah ini didorong kebutuhan menjaga harga jual tetap kompetitif di tengah kenaikan biaya komponen utama.

Sorotan terbesar ada pada potensi kembalinya waterdrop notch untuk kamera depan. Desain ini dikenal lebih sederhana dibanding punch-hole yang kini mendominasi banyak ponsel kelas menengah.

Bocoran tersebut juga menyebut layar 90Hz sebagai salah satu kombinasi yang mungkin hadir bersama waterdrop notch. Di saat yang sama, beberapa model berpotensi kembali memakai slot hybrid SIM dan microSD, bingkai plastik, serta sensor sidik jari optik dengan pendekatan yang lebih sederhana.

Tekanan biaya jadi alasan utama

Perubahan ini dikaitkan dengan lonjakan harga memori global, terutama DRAM dan NAND Flash. Kedua komponen itu memegang peran penting dalam produksi smartphone modern, sehingga kenaikannya langsung menekan struktur biaya.

Permintaan tinggi dari kebutuhan komputasi berbasis kecerdasan buatan atau AI turut memperberat kondisi pasar komponen. Dampaknya merambat ke rantai pasok elektronik konsumen dan memaksa produsen mencari cara lain untuk menahan harga perangkat.

Dalam kondisi seperti itu, penggunaan bodi plastik bisa kembali dilirik karena lebih efisien dibanding material premium seperti kaca atau logam. Strategi serupa juga bisa membantu produsen mempertahankan harga di level yang masih dapat diterima konsumen.

Persaingan di segmen menengah dan entry-level kini makin ketat karena pembeli di kelas ini sangat sensitif terhadap harga. Sejumlah merek smartphone di pasar Asia sebelumnya juga sudah melakukan penyesuaian harga pada beberapa lini produk mereka.

Arah baru yang berbeda dari tren sekarang

Jika bocoran ini terbukti, perubahan yang muncul akan terasa kontras dengan tren beberapa tahun terakhir. Banyak ponsel kelas menengah saat ini sudah memakai layar 120Hz, desain punch-hole, material premium, dan mulai meninggalkan kartu microSD.

Kembalinya microSD justru bisa menjadi nilai tambah bagi sebagian pengguna. Fitur itu masih dicari karena memberi fleksibilitas menambah kapasitas penyimpanan tanpa harus memilih varian memori internal yang lebih mahal.

Slot hybrid SIM dan microSD juga punya peluang ikut kembali jika strategi efisiensi biaya benar-benar diterapkan. Pada saat yang sama, desain yang lebih sederhana dapat membantu produsen menekan ongkos tanpa sepenuhnya mengorbankan fungsi utama.

Meski begitu, perubahan ini belum bisa dipastikan akan hadir pada model tertentu. Hingga kini belum ada konfirmasi resmi dari produsen smartphone mengenai penerapan spesifikasi tersebut.

Informasi yang beredar masih berasal dari laporan rantai pasok dan bocoran industri yang mengindikasikan adanya pengujian desain baru. Arah itu menunjukkan industri smartphone sedang mencari keseimbangan baru antara inovasi teknologi dan efisiensi biaya produksi.

Bagi pasar, kombinasi fitur modern dan elemen desain lama bisa menjadi ciri khas perangkat 2026. Di satu sisi, produsen tetap menjaga daya saing harga, sementara di sisi lain konsumen mungkin kembali melihat wajah lama ponsel yang dulu sempat mendominasi kelas menengah.

Source: selular.id
Terbaru