Amazfit resmi membawa dua jam tangan lari terbarunya ke Indonesia lewat Cheetah 2 Pro dan Cheetah 2 Ultra. Keduanya menyasar pelari serius yang butuh data latihan lengkap, akurat, dan mudah dipantau, mulai dari pelari maraton sampai atlet endurance.
Kehadiran dua model ini menarik karena Amazfit tidak hanya menawarkan jam tangan pintar biasa. Fokusnya jelas pada performa, dengan layar AMOLED super terang, GPS presisi tinggi, dan baterai yang disiapkan untuk latihan panjang hingga hari lomba.
Dua karakter berbeda untuk dua tipe pelari
Cheetah 2 Pro diposisikan sebagai jam untuk pelari jalan raya dan advanced runners. Model ini diarahkan untuk marathon training, sementara Cheetah 2 Ultra lebih cocok untuk trail, pegunungan, dan ultradistance.
Perbedaan target itu terlihat dari fitur yang dibawa masing-masing model. Pro menekankan rencana latihan maraton dan metrik lari lengkap, sedangkan Ultra menambahkan karakter yang lebih siap untuk medan ekstrem dan navigasi rute yang lebih advance.
Bodi titanium, kaca safir, dan tahan air 5 ATM
Kedua jam sama-sama memakai bodi Grade 5 Titanium yang ringan tetapi kuat. Layar keduanya juga sudah dilindungi kaca safir agar lebih tahan gores saat dipakai latihan outdoor.
Amazfit memberi rating ketahanan air 5 ATM pada Cheetah 2 Pro dan Cheetah 2 Ultra. Artinya, keduanya aman dipakai saat hujan, berkeringat, atau berlatih di sekitar air.
Ukuran bodinya sedikit berbeda. Cheetah 2 Pro punya dimensi 43,8 x 43,8 x 15,6 mm, sedangkan Cheetah 2 Ultra berukuran 44,8 x 44,8 x 15,6 mm.
Layar AMOLED 3.000 nits jadi nilai jual utama
Sektor layar menjadi salah satu keunggulan paling menonjol. Amazfit membekali keduanya dengan panel AMOLED dan tingkat kecerahan hingga 3.000 nits.
Cheetah 2 Pro membawa layar 1,32 inci beresolusi 466 x 466 piksel. Sementara itu, Cheetah 2 Ultra hadir dengan panel 1,5 inci beresolusi 480 x 480 piksel.
Kecerahan setinggi itu membuat data pace, jarak, dan heart rate tetap mudah dibaca di bawah terik matahari. Pada lari pagi atau malam, tampilan AMOLED juga membuat watchface dan metrik terlihat kontras.
Fitur lari lebih dalam di Cheetah 2 Pro
Cheetah 2 Pro dibekali Zepp Coach AI untuk membuat training plan dari jarak pendek sampai full marathon. Jam ini juga menampilkan advanced running metrics seperti running power, lactate threshold, ground contact time, dan running posture.
Amazfit juga membuka dukungan ke platform pihak ketiga seperti TrainingPeaks, Runna, Intervals.icu, dan Strava. Untuk navigasi, Cheetah 2 Pro sudah membawa dual-band GPS dengan enam sistem satelit, ditambah offline maps dan route navigation.
Di sisi daya, baterai 540 mAh pada Cheetah 2 Pro diklaim tahan hingga 31 jam dalam mode GPS. Untuk pemakaian smartwatch harian normal, daya tahannya disebut bisa mencapai sekitar 20 hari.
Ultra dibangun untuk trail dan medan berat
Cheetah 2 Ultra membawa baterai yang lebih besar, yakni 780 mAh. Amazfit mengklaim jam ini mampu bertahan hingga 60 jam dalam mode GPS dan sekitar 30 hari untuk pemakaian normal.
Untuk pengguna yang sering masuk jalur trail, Ultra mendapat fitur tambahan pada mode trail running. Ada elevation overview yang membantu memantau profil ketinggian rute dengan lebih jelas.
Amazfit juga menyertakan rendering offline maps yang lebih cepat dan navigasi yang lebih advanced pada layar 1,5 inci. Paket penjualannya ikut lebih fleksibel karena pengguna mendapat dua jenis strap sekaligus, yaitu silikon dan nilon.
Zepp App dipakai untuk kesehatan dan recovery
Selain performa lari, Amazfit mengandalkan ekosistem Zepp App untuk memantau kesehatan dan recovery. Lewat satu aplikasi, pengguna bisa melacak HRV, kualitas tidur, recovery, training load, hingga estimasi VO₂ Max secara terintegrasi.
Pendekatan ini penting untuk pelari yang ingin berlatih lebih terarah. Data tersebut membantu membaca kondisi tubuh dan mengurangi risiko overtraining menjelang race besar.
Di Indonesia, Amazfit Cheetah 2 Pro dijual mulai Rp7 juta. Sementara itu, Amazfit Cheetah 2 Ultra dijual mulai Rp9,4 juta.
Keduanya dijadwalkan meluncur secara resmi pada 10 Juni 2026. Dengan selisih harga yang cukup jauh, pilihan akhirnya mengerucut pada kebutuhan masing-masing, apakah lebih condong ke maraton di jalan raya atau ke trail dan ultradistance.
