Samsung kembali memberi alasan kuat mengapa ponsel lipat masih relevan. Bocoran spesifikasi Galaxy Z Fold 8 menunjukkan langkah yang langsung menyasar masalah paling terkenal di kategori ini: lipatan layar yang masih terlihat.
Jika bocoran itu akurat, Samsung tidak hanya mengejar desain yang lebih premium. Perusahaan juga sedang mencoba membuat pengalaman layar lipat terasa lebih mulus, lebih nyaman dipakai, dan lebih mudah diterima oleh pasar yang selama ini ragu karena efek crease.
Fokus utama ada pada ultra-thin glass yang lebih tebal
Menurut laporan yang dirujuk Notebookcheck dari unggahan ZDNet Korea, ada dua model Galaxy Z Fold 8 yang sedang disiapkan. Keduanya disebut sebagai Galaxy Z Fold 8 Wide dan Galaxy Z Fold 8 Ultra.
Model Wide dikabarkan memakai solusi ultra-thin glass atau UTG baru yang lebih tebal. Bocoran itu menyebut ketebalannya naik menjadi 60 mikron.
Perubahan ini penting karena Samsung sebelumnya juga sudah menaikkan ketebalan UTG pada Z Fold 7. Panelnya disebut 50% lebih tebal dibanding pendahulunya, naik dari 30 mikron menjadi 45 mikron.
Mengapa langkah ini menarik
Secara umum, perangkat teknologi memang sering dianggap lebih baik jika dibuat lebih tipis. Namun pada UTG untuk ponsel lipat, pendekatan yang lebih tebal justru diperkirakan memberi manfaat.
Lapisan kaca yang lebih tebal diharapkan terasa lebih halus saat disentuh. Selain itu, performanya juga disebut bisa lebih baik dan membantu mengurangi tampilan lipatan di layar.
Masalah crease selama ini menjadi salah satu hambatan terbesar bagi ponsel lipat. Jika Samsung berhasil menguranginya, kategori ini bisa terasa lebih masuk akal bagi pengguna yang masih menunggu alasan kuat untuk beralih.
Tidak semua model akan memakai pendekatan baru
Meski teknologi ini terdengar menjanjikan, pembuatan kaca lipat yang lebih tebal juga lebih sulit. Risiko pecah meningkat ketika material dibuat lebih tebal, sehingga proses produksinya menjadi lebih menantang.
Itu diduga menjadi alasan mengapa hanya Galaxy Z Fold 8 Wide yang disebut akan memakai UTG baru tersebut. Sementara itu, Galaxy Z Fold 8 Ultra diperkirakan tetap mempertahankan format yang lebih klasik dengan UTG 45 mikron seperti generasi sebelumnya.
Pembagian strategi seperti ini membuat Samsung terlihat hati-hati. Di satu sisi, perusahaan tetap mendorong inovasi. Di sisi lain, Samsung masih menjaga model andalan agar tetap menggunakan pendekatan yang lebih aman dan sudah teruji.
Pasar foldable makin panas
Galaxy Z Fold 8 tidak datang dalam ruang kosong. Pasar ponsel lipat disebut semakin ramai menuju 2026, dengan nama-nama seperti Motorola, Honor, dan juga iPhone lipat dari Apple yang masih menjadi rumor.
Kondisi itu membuat persaingan foldable terasa lebih relevan dibanding beberapa tahun lalu. Dari sekadar produk futuristis, ponsel lipat kini mulai bergerak menuju kategori yang lebih serius dan lebih luas jangkauannya.
Samsung juga punya rekam jejak panjang di segmen ini. Sejak ponsel lipat pertama hadir hampir delapan tahun lalu melalui Royole FlexPai, banyak pemain mencoba masuk, tetapi Samsung tetap berada di garis depan saat pasar mulai matang.
Pesaing juga mengejar solusi lipatan layar
Samsung bukan satu-satunya yang mencoba mengatasi crease. Oppo Find N6, yang tidak dirilis di banyak pasar, memakai teknik cetak 3D untuk mengisi lekukan pada mekanisme engsel agar hasil layarnya lebih rata.
Pendekatan itu menunjukkan bahwa industri sedang mencari berbagai jalan untuk menyelesaikan masalah yang sama. Ada yang fokus pada struktur engsel, ada yang pada material layar, dan Samsung tampaknya memilih meningkatkan UTG sebagai senjata utama.
Jika bocoran Galaxy Z Fold 8 benar, maka fokus Samsung bukan sekadar membuat ponsel lipat yang lebih canggih. Perusahaan itu sedang mencoba mendekatkan foldable ke titik di mana lipatan layar tidak lagi menjadi alasan utama untuk menunda pembelian.







