Vivo X300 Ultra Bukan Sekadar Flagship, Kamera 35Mm-Nya Terasa Seperti Alat Foto Serius

Vivo X300 Ultra datang dengan pendekatan kamera yang tidak biasa untuk sebuah ponsel flagship. Pusat perhatiannya ada pada lensa utama ekuivalen 35mm, sebuah pilihan yang lebih dekat ke karakter kamera klasik dan terasa relevan bagi fotografer antusias maupun profesional.

Langkah itu membuat perangkat ini tidak sekadar mengejar angka megapiksel atau zoom besar. Vivo justru membangun paket kamera yang serba bisa, dari lanskap, street photography, potret, sampai kebutuhan foto jarak jauh.

Konfigurasi kamera yang berbeda dari arus utama

Lensa utama 35mm f/1.9 pada Vivo X300 Ultra memakai sensor 1/1.2 inci. Ini berbeda dari banyak ponsel lain yang umumnya memakai focal length sekitar 23mm, sehingga sudut pandangnya terasa lebih natural untuk banyak gaya pemotretan.

Untuk kebutuhan sudut lebar, Vivo memasang kamera ultrawide 14mm f/2 dengan sensor 1/1.28 inci. Ukuran sensornya tergolong besar untuk kelasnya, dan ini membantu menjaga konsistensi detail antar-modul agar tidak terasa timpang.

Di sisi telefoto, ponsel ini membawa lensa native 85mm f/2.7 dengan sensor 1/1.4 inci. Kombinasi ini membuatnya kuat untuk portrait, lalu masih bisa dipakai hingga pembesaran 135mm dengan hasil yang tetap tajam.

Hasil foto yang kuat di banyak situasi

Kamera utama 35mm menghasilkan foto yang sangat tajam dan kaya detail. Saat memotret subjek dalam jarak dekat, efek bokeh yang muncul juga terlihat alami dan mendukung karakter foto yang lebih matang.

Kamera ultrawide 14mm menunjukkan performa di atas rata-rata, baik pada kondisi siang maupun malam. Meski begitu, ketajaman di bagian tepi foto masih sedikit kalah dibanding area tengah.

Pada lensa telefoto, kualitas gambar tetap terjaga saat dipakai sampai 135mm. Namun ketika dipaksa mencapai ekuivalen 230mm atau lebih, detail mulai menurun secara bertahap.

Daya tarik untuk fotografer jalanan dan pengguna Zeiss

Vivo bekerja sama dengan Zeiss untuk menyediakan profil warna Jelas, Alami, dan Halus. Pilihan ini memberi ruang bagi pengguna untuk menyesuaikan tampilan warna sesuai selera dan situasi pemotretan.

Mode humanistik juga diubah menjadi fotografi jalanan atau street photography. Menu yang menampilkan satuan milimeter terasa familiar bagi fotografer, sementara simulasi filmnya dibuat minim pemrosesan AI agar hasilnya lebih natural.

Pendekatan ini memperkuat posisi X300 Ultra sebagai ponsel yang memang dirancang untuk orang yang peduli pada karakter visual. Bukan hanya hasil akhir, tetapi juga cara kamera merespons subjek dan suasana.

Kamera selfie dan aksesori eksternal

Kamera depan 50 MP dengan sudut lebar sekitar 24mm mampu menangkap detail wajah dengan sangat jelas. Ini menjadikannya relevan bukan hanya untuk swafoto, tetapi juga kebutuhan konten yang mengandalkan ketajaman wajah.

Untuk kebutuhan yang lebih ekstrem, Vivo menyediakan aksesoris lensa telefoto 4.7x gen2 ultra yang setara 400mm. Dalam kondisi terang, hasilnya tajam, meski kuncian fisiknya terasa kurang erat dan penstabil layarnya agak bergetar.

Aksesori ini memperluas fungsi kamera ponsel ke ranah yang lebih khusus. Dengan begitu, X300 Ultra tidak hanya bergantung pada tiga kamera utamanya saat pengguna ingin menjangkau subjek yang lebih jauh.

Catatan performa dan harga

Meski hasil fotonya impresif, proses peninjauan gambar setelah tombol rana ditekan terasa agak lama. Pada portrait tertentu, pemrosesan wajah dan mata juga bisa membuat hasilnya terlihat kurang alami.

Di Indonesia, varian 16 GB/512 GB dibanderol Rp 25.999.000, sedangkan varian 16 GB/1 TB dijual Rp 29.999.000. Aksesori Extender + Grip dipasarkan terpisah seharga Rp 5.999.000.

Dengan konfigurasi 14mm, 35mm, dan 85mm yang seimbang, Vivo X300 Ultra menempatkan diri sebagai kamera serba bisa dalam bentuk ponsel. Perangkat ini menawarkan kualitas optik tinggi, kontrol visual yang serius, dan fleksibilitas yang jarang ditemukan pada flagship lain.

Terkait