Pakai Samsung S26 Ultra buat Ngonser? 5 Kesalahan Ini Bisa Bikin Fancam Turun Drastis

Author: Qoo Media

Banyak penonton konser memilih Samsung Galaxy S26 Ultra untuk merekam penampilan artis dari jarak jauh. Namun kemampuan zoom dan video yang mumpuni tidak otomatis menjamin hasil fancam tetap bagus.

Ada lima kesalahan yang justru paling sering menurunkan kualitas rekaman saat konser. Dampaknya bisa langsung terlihat, mulai dari fokus yang terus berubah, gambar terlalu terang, layar LED berkedip, hingga video bergoyang berlebihan.

Samsung Galaxy S26 Ultra dijual mulai Rp 24,5 juta dan menjadi salah satu ponsel favorit penonton konser. Daya tarik utamanya ada pada kemampuan zoom jauh, kualitas video yang tajam, dan fitur kamera yang lebih lengkap.

Dalam beberapa waktu ke depan, Indonesia juga bakal didatangi banyak musisi internasional seperti The Weeknd, BTS, dan BIGBANG. Kondisi ini membuat kebutuhan merekam konser dengan hasil rapi kembali jadi perhatian banyak penggemar.

1. Membiarkan autofocus terus bekerja

Kesalahan paling umum adalah membiarkan kamera tetap berjalan dalam mode autofocus saat konser. Padahal lampu panggung berubah cepat dan artis terus bergerak, sehingga kamera sering bingung menentukan objek utama.

Akibatnya fokus menjadi hunting, yaitu terus mencari-cari objek selama perekaman berlangsung. Wajah performer bisa tampak tajam sesaat, lalu mendadak blur, kemudian tajam lagi.

Solusi yang disarankan cukup sederhana. Setelah menemukan artis yang ingin direkam, tekan dan tahan layar Galaxy S26 Ultra sampai fokus terkunci.

Dengan fokus yang sudah dikunci, kamera tidak terus mengubah titik fokus selama video berjalan. Langkah kecil ini bisa memberi perbedaan besar pada hasil fancam.

2. Langsung merekam tanpa menurunkan exposure

Banyak pengguna langsung menekan tombol rekam tanpa mengatur exposure. Kebiasaan ini sering terjadi karena suasana konser membuat penonton terlalu antusias.

Masalahnya, lampu konser biasanya sangat terang dan konfigurasi kamera Galaxy S26 Ultra juga cenderung menghasilkan gambar terang. Jika exposure terlalu tinggi, wajah artis bisa tampak terlalu putih dan kehilangan detail.

Kondisi itu dikenal sebagai overexposure. Efeknya tidak hanya pada wajah, tetapi juga pada warna pakaian dan detail pencahayaan panggung yang jadi kurang natural.

Cara mengatasinya adalah menurunkan exposure sedikit sebelum mulai merekam. Setelah menekan dan menahan layar, ikon matahari akan muncul, lalu ikon itu bisa digeser ke kiri atau ke bawah untuk menurunkan exposure.

Pengaturan sederhana ini membantu menjaga warna kulit, busana, dan efek lampu panggung tetap lebih seimbang. Hasil video juga tidak terlihat seperti terkena cahaya berlebihan.

3. Takut mencoba mode Pro Video

Mode Pro Video kerap dihindari karena tampilannya penuh pengaturan seperti ISO, shutter speed, dan white balance. Padahal fitur ini justru berguna untuk situasi konser yang cahayanya sulit diprediksi.

Pengguna tidak harus menguasai semua pengaturan sekaligus. Memahami fungsi dasar ISO dan shutter speed saja sudah cukup membantu mengatasi masalah yang tidak bisa diselesaikan mode video biasa.

ISO adalah ukuran sensitivitas sensor terhadap cahaya. ISO rendah membuat video lebih bersih tetapi cahaya lebih minim, sedangkan ISO tinggi bisa membuat gambar lebih terang namun berisiko memunculkan noise.

KompasTekno menyebut biasanya menggunakan ISO 200-800 saat konser, tergantung lighting di panggung. Rentang itu dipakai untuk menyeimbangkan kebutuhan cahaya dan kebersihan gambar.

Shutter speed adalah durasi rana terbuka untuk membiarkan cahaya masuk ke sensor. Semakin cepat shutter, semakin tajam objek bergerak, tetapi cahaya yang masuk juga makin sedikit.

KompasTekno lebih sering memakai shutter speed 1/250 detik untuk mengimbangi pergerakan di atas panggung dan pencahayaan sekitar. Pengaturan ini membantu menjaga objek tetap cukup tajam tanpa membuat hasil terlalu gelap.

4. Memaksa merekam layar LED yang flicker

Penonton yang duduk jauh sering mengandalkan layar LED raksasa untuk mendapat close-up wajah artis. Namun layar seperti ini sering terlihat berkedip atau memunculkan garis hitam saat direkam smartphone.

Flicker muncul ketika refresh layar LED konser tidak sinkron dengan shutter speed kamera. Meski begitu, banyak orang tetap memaksakan merekam tanpa mengubah pengaturan.

Solusi yang ditemukan KompasTekno adalah beralih ke mode Pro Video lalu menurunkan shutter speed menjadi sekitar 1/60 detik. Setelah pengaturan ini diterapkan, garis-garis hitam di layar biasanya langsung hilang.

Langkah ini sangat berguna untuk penonton tribun atau posisi jauh dari panggung. Rekaman close-up dari layar LED jadi lebih bersih dan nyaman ditonton.

5. Tidak memanfaatkan Horizontal Lock

Galaxy S26 Series dibekali fitur Horizontal Lock yang membantu menjaga video tetap rata terhadap horizon. Fitur ini dinilai sangat berguna untuk suasana konser yang penuh gerakan.

Saat pengguna bernyanyi, melompat, berjoget, atau melambaikan tangan, video bisa tetap terlihat lebih stabil. Dalam pengujian KompasTekno, hasil fancam menjadi lebih nyaman ditonton dan tidak terasa seperti terkena guncangan besar.

Fitur ini bisa diakses langsung dari aplikasi kamera bawaan tanpa biaya tambahan. Pengguna cukup membuka mode Video, mengaktifkan ikon Super Steady, lalu memilih opsi Horizontal Lock yang ditandai ikon orang berlari dengan garis horizontal di tengahnya.

Ada batasan yang perlu diperhatikan sebelum dipakai. Mode ini hanya tersedia di kamera utama 200 MP pada zoom 1x atau 2x, serta kamera ultrawide 50 MP pada zoom 0,6x, dan belum mendukung kamera telefoto.

Pada akhirnya, kualitas fancam bukan cuma soal seberapa jauh zoom bisa menjangkau wajah artis. Mengunci fokus, mengatur exposure, memahami Pro Video, menyesuaikan shutter speed untuk layar LED, dan memakai Horizontal Lock justru sering memberi dampak lebih besar pada hasil rekaman.

Source: tekno.kompas.com
Terbaru