Sudah hampir 20 tahun sejak iPhone pertama dirilis, dan kini pasar teknologi mulai bergerak ke arah yang berbeda. Kacamata pintar dan perangkat realitas tertambah atau AR makin dipandang sebagai kandidat pengganti smartphone, terutama karena banyak pengguna mulai lelah terus menatap layar di tangan.
Perubahan ini tidak datang dari satu perusahaan saja. Sejumlah raksasa teknologi besar kini berlomba membangun perangkat yang lebih ringan, lebih natural dipakai, dan lebih dekat dengan aktivitas sehari-hari di dunia nyata.
Snap menjadi pemain terbaru yang ikut agresif lewat peluncuran Specs. Perangkat ini dibanderol US$ 2.195 atau sekitar Rp 34 juta, dan mulai beredar di Amerika Serikat, Inggris, serta Prancis pada akhir tahun ini.
Evan Spiegel, CEO dan pendiri Snap, menilai orang sudah siap memikirkan cara berkomputasi yang berbeda. Ia menyebut Specs sebagai cara baru memakai teknologi bersama dalam pengalaman nyata, dengan pandangan ke depan melalui lensa bening, bukan menatap layar buram di tangan.
Specs juga menandai perubahan besar dari produk awal Snap, Spectacles. Jika produk pertama itu hanya berfungsi sebagai kamera seharga US$ 130 dan kurang diminati pasar, Specs dirancang sebagai komputer spasial lengkap.
Perangkat baru ini dibuat lebih ringan dibanding versi sebelumnya yang ditujukan untuk developer. Snap juga membekalinya dengan layar yang lebih luas, daya tahan baterai hingga hampir 4 jam, serta koneksi Bluetooth.
Dukungan pengembang ikut diperluas melalui integrasi fitur berbasis kecerdasan buatan. Snap membuka akses ke tools dari Anthropic, OpenAI, dan Cursor agar pengembang bisa membangun fungsi AI di dalam perangkat tersebut.
Di sisi lain, Meta sudah lebih dulu mengambil posisi kuat di pasar kacamata pintar. Melalui kerja sama dengan EssilorLuxottica, pemilik merek Ray-Ban, lini Ray-Ban Meta kini menjadi pemimpin pasar dengan penjualan lebih dari 7 juta pasang hingga pertengahan 2026.
Pangsa pasar seri itu juga sudah melewati 70 persen di kategori kacamata pintar. Produk terbarunya, Ray-Ban Meta Generasi 2 dan varian Optics, tampil seperti kacamata biasa dan mendukung kacamata resep.
Fungsi yang ditawarkan juga makin dekat dengan penggunaan harian. Pengguna bisa memotret, merekam video resolusi 3K, melakukan siaran langsung, hingga menerjemahkan bahasa secara langsung hanya lewat perintah suara “Hey Meta”.
Harga menjadi salah satu pembeda paling jelas. Dengan banderol mulai dari US$ 499, produk Meta saat ini terasa jauh lebih mendekati pasar massal dibanding banyak pesaingnya.
Meta sendiri sudah mulai mengubah arah strateginya. Setelah sempat sangat agresif di ranah realitas maya atau VR, perusahaan itu kini memangkas ambisi tersebut dan mengalihkan fokus ke kacamata pintar serta AR yang dinilai lebih cocok dipakai sehari-hari.
Google dan Samsung juga ikut masuk ke arena yang sama. Keduanya baru memperkenalkan proyek kacamata pintar di ajang Google I/O 2026 bersama Warby Parker dan Gentle Monster.
Produk itu mengandalkan Google Gemini dan sistem operasi Android XR. Ada dua versi yang disiapkan, yaitu model audio saja dan model dengan layar kecil di lensa kacamata.
Pendekatannya jelas berbeda dari gadget besar yang mencolok. Kacamata ini dirancang sangat ringan dan bergaya, serta berfungsi sebagai pelengkap ponsel untuk bertanya arah, menerjemahkan tulisan di jalan atau menu restoran, mendengarkan musik, dan mengelola pesan tanpa perlu memegang gawai.
Versi pertama dijadwalkan meluncur pada musim gugur tahun ini. Fokus utamanya adalah kenyamanan dan tampilan yang wajar dipakai sehari-hari, bukan memberi kesan seperti alat teknologi berat.
Apple, yang selama ini paling diharapkan membawa gebrakan besar, justru mengubah arah. Vision Pro yang dibanderol US$ 3.499 dinilai tidak laku karena terlalu mahal, terlalu berat, dan kurang nyaman dipakai terus-menerus.
Perusahaan itu dikabarkan menghentikan pengembangan lanjutan dan membubarkan tim pengembang Vision Pro. Sumber dayanya dialihkan ke proyek baru berupa kacamata pintar ringan dengan kode nama N50.
Perangkat tersebut direncanakan meluncur pada akhir 2026 atau awal 2027. Desainnya disebut mirip kacamata biasa, terhubung dengan iPhone, dan tidak memakai layar besar seperti Vision Pro.
Meski arah industri terlihat jelas, tantangannya tetap besar. Harga Specs yang mencapai lebih dari Rp 34 juta menjadi hambatan serius, terutama di tengah inflasi yang menekan daya beli konsumen.
Pengamat pasar dari IDC, Jitesh Ubrani, menilai ini bukan waktu terbaik untuk meluncurkan produk premium. Ia juga menyoroti bahwa konsumen utama Snap adalah anak muda yang umumnya belum mampu membeli perangkat semahal itu.
Namun Spiegel tetap melihat momentum perubahan perilaku sedang terbentuk. Ia menilai semakin banyak orang sadar akan dampak buruk terlalu lama menatap layar, dan perangkat seperti Specs menawarkan cara berinteraksi yang tetap membuka pandangan ke dunia nyata.
