Motorola Razr Fold Tak Unggul di Atas Kertas, Tapi Justru Terasa Lebih Enak Dipakai

Author: Qoo Media

Motorola mulai menarik perhatian di pasar ponsel lipat bergaya buku lewat Razr Fold. Perangkat ini memang bukan yang paling tipis, paling ringan, atau paling unggul di atas kertas, tetapi kesan saat digenggam disebut justru terasa lebih meyakinkan dibanding banyak rivalnya.

Fokus utama perangkat ini ada pada pengalaman penggunaan yang menyeluruh. Dari desain, layar, hingga sistem kamera, Razr Fold tampil sebagai ponsel lipat yang berusaha menang lewat kenyamanan dan rasa premium, bukan sekadar adu angka spesifikasi.

Razr Fold hadir dalam konfigurasi memori 16/512GB. Motorola menawarkannya dalam dua pilihan warna, yakni Pantone Blackened Blue dan Lily White, dengan harga $1,900 atau hingga €2,000.

Isi paket penjualannya tergolong sederhana, tetapi tetap relevan untuk kelas premium. Di dalam kotak terdapat unit ponsel, casing dua bagian, dan kabel USB-C.

Di beberapa wilayah, Motorola juga menyediakan Moto Pen Ultra sebagai bonus atau aksesori terpisah. Stylus ini menjadi nilai tambah penting karena mendukung penggunaan di kedua layar.

Daya tarik utama ada pada desain dan rasa saat digenggam

Kesan kuat Razr Fold justru datang dari aspek yang tidak selalu tercermin di lembar spesifikasi. Desain fisiknya disebut sangat meyakinkan saat dilihat langsung dan saat digunakan dalam keseharian.

Panel belakang membawa gaya khas Motorola dengan pulau kamera yang sedikit terangkat dari permukaan bodi. Di bagian depan, kaca melengkung pada layar penutup memberi sensasi sapuan jari yang lebih nyaman di sisi tepi.

Secara dimensi, Razr Fold bukan ponsel lipat paling tipis di kelasnya. Ketebalannya mencapai 10.1mm saat dilipat, dengan bobot 243 gram.

Meski begitu, perangkat ini tidak terasa membebani tangan. Dalam posisi terlipat maupun terbuka, bentuk dan distribusi bobotnya tetap disebut nyaman untuk dipegang.

Perbandingan singkat dengan Honor Magic V6 juga menonjolkan pendekatan Motorola ini. Walau Magic V6 dikenal sebagai salah satu model paling ringan dan ringkas di segmennya, Razr Fold dinilai lebih menarik secara visual dan rasa di tangan.

Layar besar dengan refresh rate tinggi

Salah satu kekuatan penting Razr Fold ada pada ukuran layarnya. Motorola membekali perangkat ini dengan layar penutup 6,6 inci dan layar utama bagian dalam 8,1 inci, yang termasuk besar di kelas ponsel lipat buku.

Layar utama menggunakan panel AMOLED 120Hz. Sementara itu, layar penutup justru memiliki refresh rate lebih tinggi, yakni 165Hz.

Kedua layar juga diklaim sangat terang. Tingkat kecerahannya disebut menembus sedikit di atas 6.000 nits, sehingga berpotensi membantu visibilitas di luar ruangan.

Kombinasi layar besar dan panel cepat ini memperkuat posisi Razr Fold sebagai perangkat produktivitas sekaligus hiburan. Ukuran layar penutup yang luas juga memberi fleksibilitas lebih tanpa selalu harus membuka perangkat.

Stylus jadi pembeda

Moto Pen Ultra menjadi elemen yang membuat Razr Fold tampil berbeda dari sebagian pesaing. Stylus ini bekerja di kedua layar dan disebut sangat mirip dengan konsep S Pen pada Galaxy S26 Ultra.

Pada bodi stylus terdapat tombol yang dapat membuka menu. Motorola juga menempatkan aksesori ini sebagai alat untuk mendukung alur kerja berbasis AI.

Namun, pendekatan penyimpanannya punya catatan tersendiri. Moto Pen Ultra memiliki casing pengisian daya sendiri, dan tidak ada solusi penyimpanan terpadu antara casing ponsel dan stylus seperti yang ditemukan pada Oppo Find N6.

Artinya, pengguna perlu memberi perhatian ekstra agar casing stylus tidak tercecer. Bagi sebagian orang, ini bisa menjadi kompromi dari kehadiran aksesori tambahan tersebut.

Kamera tampak menjanjikan

Razr Fold juga membawa sistem kamera yang tergolong lengkap untuk ponsel lipat. Motorola memasang tiga kamera belakang, semuanya beresolusi 50MP.

Kamera utamanya memakai sensor 1/1.28 inci pada lensa wide 23mm f/1.6. Kamera telefoto 71mm f/2.4 menggunakan sensor 1/1.95 inci, sementara kamera ultrawide 12mm f/2.0 dilengkapi autofokus.

Di atas kertas, susunan ini terlihat solid dan seimbang. Pendekatan tersebut memberi sinyal bahwa Motorola tidak memperlakukan sektor kamera sebagai pelengkap semata pada perangkat lipat pertamanya dengan desain buku.

Hal itu penting karena banyak ponsel lipat masih sering berkompromi di area kamera demi desain yang lebih tipis. Razr Fold justru mencoba tampil lebih lengkap, meski tetap bukan yang paling ekstrem dalam hal bobot dan ketebalan.

Secara keseluruhan, Razr Fold menempatkan dirinya sebagai ponsel lipat yang mengandalkan pengalaman nyata saat dipakai. Ia datang dengan layar besar, stylus yang fungsional, kamera yang tampak matang, serta desain yang disebut terasa lebih mewah dan meyakinkan daripada yang tersirat dari spesifikasinya saja.

Source: www.gsmarena.com
Terbaru