Pasar smartphone Android kembali kedatangan perangkat yang langsung menyita perhatian karena konsepnya tidak biasa. Eco Mine One Pro viral karena menggabungkan kamera flip, sistem operasi ganda berbasis AI, dan fitur konektivitas global yang disebut bisa memberi akses internet dalam kondisi tertentu.
Di tengah pasar yang sering menonjolkan kecepatan prosesor dan jumlah kamera, ponsel ini justru tampil sebagai eksperimen teknologi. Bukan hanya soal spesifikasi, Eco Mine One Pro lebih menonjol lewat pendekatan desain dan fungsi yang berbeda dari HP Android pada umumnya.
Kamera flip jadi daya tarik utama
Bagian yang paling cepat terlihat adalah bodinya yang kotak minimalis dengan warna jet black doff. Di bagian belakang hanya ada satu kamera, tetapi modulnya bisa diputar ke depan sehingga berfungsi ganda sebagai kamera utama dan kamera selfie.
Pendekatan itu membuat kualitas foto depan dan belakang bergantung pada sensor yang sama. Namun, modul kamera yang menonjol juga membuat ponsel tidak rata saat diletakkan di meja.
Dual OS dengan mode AI
Eco Mine One Pro memakai dua sistem operasi, yakni Android 15 standar dan Eco AIOS berbasis AI. Mode Eco AIOS menjadi pusat pengalaman cerdas di perangkat ini karena membawa lima fitur utama yang dirancang untuk aktivitas harian.
Kelima fitur itu adalah AI Chat yang mirip chatbot, AI Podcast untuk mengubah teks menjadi suara, AI Translate untuk terjemahan suara real-time, AI Study untuk menjawab soal dari foto, dan AI Note yang bisa merekam lalu membuat ringkasan otomatis. Di mode ini pula fitur internet gratis berbasis NovaLink aktif, meski hanya berjalan di sistem Eco AIOS.
Internet global, tapi ada batasan
Salah satu fitur yang paling banyak dibicarakan adalah konektivitas global berbasis Virtual SIM atau V-SIM. Eco menawarkan paket internet berdasarkan wilayah, dengan Asia mulai dari 1GB/3 hari sekitar Rp300 ribuan dan paket global unlimited yang bisa menembus jutaan rupiah per bulan.
Meski disebut menarik, layanan ini tidak sepenuhnya bebas batas. Pengguna tidak bisa memakai hotspot, tidak bisa telepon atau SMS, dan koneksi hanya tersedia untuk data di perangkat.
Layar mini AMOLED 90Hz
Dari sisi tampilan, Eco Mine One Pro memakai layar 4,02 inci AMOLED dengan refresh rate 90Hz. Resolusinya disebut tinggi di kelas mini smartphone, sehingga warna terlihat tajam meski ukuran panelnya sangat kecil.
Ukuran layar yang mini membuat aktivitas seperti scrolling media sosial, chatting, dan gaming terasa kurang nyaman. Sejumlah aplikasi juga tidak tampil penuh karena rasio layar yang tidak standar.
Performa cukup, tapi bukan kelas flagship
Untuk urusan mesin, perangkat ini dibekali MediaTek Helio G99, RAM 8GB, storage 256GB, dan Android 15. Kombinasi itu masih cukup untuk kebutuhan harian, tetapi jelas tidak dirancang untuk mengejar performa tertinggi.
Karakter seperti ini membuat Eco Mine One Pro lebih terasa sebagai ponsel konsep ketimbang perangkat yang fokus pada kecepatan. Posisi itu juga terlihat dari harga jualnya yang berada di sekitar Rp 8 jutaan untuk preorder resmi.
Baterai menjadi titik lemah paling nyata
Di balik desain futuristik dan fitur AI yang unik, sektor baterai justru menjadi kelemahan paling mencolok. Kapasitasnya hanya 2.200 mAh, dengan screen-on time sekitar 2,5 jam dan waktu pengisian penuh sekitar 1 jam.
Untuk standar HP 2026, daya tahan seperti itu tergolong sangat rendah. Karena itu, perangkat ini lebih cocok dipahami sebagai produk yang mengutamakan konsep, bukan efisiensi penggunaan seharian.
Eco Mine One Pro pada akhirnya menyasar pengguna yang mencari desain unik, eksperimen teknologi AI, dan konsep komunikasi global. Bagi yang mengejar gaming, baterai besar, atau kamera profesional, perangkat ini masih bukan pilihan yang paling rasional.






