Harga Smartphone Bisa Naik 30 Persen pada 2026, CEO Nothing Ungkap Biaya Memori Jadi Biang Kerok

Harga smartphone berpotensi naik tajam dalam beberapa waktu ke depan, dan CEO Nothing Carl Pei sudah mengirim peringatan keras soal itu. Ia menilai lonjakan biaya memori akibat ledakan kebutuhan kecerdasan buatan menjadi pemicu utama yang dapat mendorong harga ponsel naik hingga 30% atau lebih.

Dalam unggahan di platform X, Pei menjelaskan bahwa industri smartphone selama lebih dari satu dekade terbantu oleh tren penurunan harga komponen utama seperti memori dan layar. Pola itu memungkinkan produsen menghadirkan spesifikasi lebih tinggi tanpa menaikkan harga perangkat secara agresif, tetapi kondisi tersebut kini dinilai mulai berbalik arah.

AI Serap Pasokan Memori Global

Pei menyebut kebutuhan pusat data AI sebagai faktor terbesar di balik kenaikan harga memori. Perusahaan teknologi besar disebut telah mengamankan kapasitas produksi memori dan semikonduktor jauh-jauh hari untuk kebutuhan komputasi AI mereka.

Akibatnya, pasokan yang tersisa untuk industri smartphone menjadi semakin ketat. Ia mengklaim harga memori di beberapa kasus sudah melonjak hingga 300 persen dan masih berpotensi naik jika permintaan tetap jauh lebih tinggi daripada pasokan.

Pei juga mengatakan memori kini menjadi salah satu komponen termahal di sebuah smartphone. Modul yang sebelumnya bernilai kurang dari US$20 disebut dapat menembus lebih dari US$100 pada smartphone premium menjelang akhir tahun.

Biaya Produksi Mulai Menekan Harga Jual

Menurut Pei, biaya memori saat ini bahkan sudah melampaui biaya prosesor dan layar pada sejumlah perangkat. Jika tren itu berlanjut, biaya memori bisa menyumbang lebih dari 50 persen total biaya perangkat keras sebuah smartphone.

Ia mencontohkan pengembangan Nothing Phone 4a, ketika biaya memori disebut sudah naik dua kali lipat sejak awal pengembangan hingga peluncuran. Beberapa bulan setelah rilis, biaya tersebut kembali meningkat signifikan, menunjukkan seberapa cepat tekanan biaya bergerak di pasar.

Kondisi ini membuat produsen berada dalam posisi sulit. Mereka harus memilih antara menaikkan harga jual atau memangkas spesifikasi agar margin keuntungan tetap terjaga.

Pilihan Sulit untuk Produsen Smartphone

Pei memperkirakan kenaikan harga smartphone dapat mencapai 30 persen atau bahkan lebih pada sejumlah model. Di sisi lain, produsen yang menahan harga kemungkinan harus mengurangi kapasitas penyimpanan, RAM, atau komponen lain untuk menekan biaya produksi.

Tekanan ini juga berpotensi menyusutkan pasar smartphone kelas menengah dan entry-level lebih dari 20 persen. Segmen tersebut dinilai paling rentan karena ruang harga mereka sempit, sementara biaya komponen terus bergerak naik.

Nothing sendiri tidak luput dari tekanan yang sama. Pei mengatakan perusahaan memperkirakan adanya kenaikan harga di berbagai model smartphone mereka, terutama pada perangkat yang akan beralih memakai penyimpanan UFS 3.1 mulai kuartal pertama tahun depan.

Persaingan Bergeser dari Spesifikasi ke Pengalaman

Pei menilai era persaingan yang hanya mengandalkan spesifikasi hardware mulai kehilangan relevansinya. Saat komponen semakin mahal, produsen diperkirakan akan lebih fokus pada perangkat lunak, desain produk, integrasi AI, dan pengalaman pengguna secara keseluruhan.

Arah itu dianggap lebih efektif untuk menciptakan nilai tambah tanpa terus menekan harga pada sisi hardware. Dengan begitu, diferensiasi produk tidak lagi hanya bergantung pada kapasitas memori atau peningkatan komponen fisik lain.

Tanda Kenaikan Sudah Terlihat

Pei menyebut gejala kenaikan harga sebenarnya sudah mulai muncul sejak awal 2026. Beberapa smartphone yang diluncurkan sejak Februari disebut hadir dengan harga hingga US$100 lebih mahal dibanding generasi sebelumnya.

Di pasar India, sejumlah model dengan harga di atas Rs 30.000 juga dilaporkan naik lebih dari Rs 7.000 dibanding pendahulunya. Pei menambahkan, produsen tidak bisa begitu saja menimbun stok memori karena alokasi pasokan dikendalikan langsung oleh produsen komponen.

Bagi konsumen, pesan yang muncul cukup jelas: menunda pembelian terlalu lama bisa berarti menghadapi harga yang lebih tinggi dalam beberapa bulan mendatang. Pei juga memperingatkan bahwa periode promosi dan diskon kemungkinan tidak akan semenarik tahun-tahun sebelumnya karena tekanan biaya yang membebani industri.

Terkait