Perusahaan yang bertahan lebih dari 100 tahun biasanya tidak sekadar kuat di satu bisnis. Mereka mampu membaca perubahan, berani melepaskan masa lalu, lalu masuk ke peluang baru tanpa kehilangan jati diri.
Itulah gambaran yang terlihat dari Nokia, Coca-Cola, hingga Nintendo. Di tengah persaingan yang berubah cepat, daya tahan mereka justru datang dari kombinasi budaya, inovasi, dan kemampuan beradaptasi.
Nokia dan keberanian memutus masa lalu
Nokia menunjukkan contoh paling jelas tentang perusahaan yang terus berubah agar tetap relevan. Setelah bisnis telepon selulernya dijual ke Microsoft sekitar 2014, perusahaan asal Finlandia itu kini fokus pada perangkat infrastruktur telekomunikasi pendukung inovasi AI.
Dalam sepekan terakhir, Nokia mengumumkan langkah baru di bidang jaringan optik untuk pusat data hyperscale, modernisasi kabel bawah laut di Asia Tenggara, dan ekspansi ke fasilitas advanced testing and packaging untuk meningkatkan produksi jaringan optik di Amerika Serikat. Presiden dan CEO Nokia Justin Hotard menegaskan bahwa fokus utamanya adalah membawa perusahaan kembali ke akar kekuatannya.
Hotard menyebut konsistensi Nokia terletak pada keberanian mengambil risiko besar untuk melepaskan bisnis masa lalu dan fokus pada bisnis masa depan. Ia juga melihat Nokia sebagai perusahaan yang berulang kali membuktikan kemampuan memperbarui diri lewat transformasi bisnis.
Perjalanan Nokia sendiri sudah melampaui 160 tahun. Perusahaan itu pernah bergerak dari pabrik pengolahan kertas, mengembangkan komputer digital biner pertama, transistor listrik dan telepon, hingga menjadi pionir teknologi GSM.
Daya tahan lahir dari adaptasi
Nokia kini melihat masa depan telekomunikasi tidak lagi bertumpu pada perangkat keras semata. Perusahaan itu semakin mengintegrasikan teknologi AI ke dalam platform dan perangkat jaringannya karena industri bergeser ke perangkat lunak yang mengendalikan jaringan.
Kisah serupa juga terlihat pada perusahaan berusia panjang lain di dunia. Coca-Cola, misalnya, bermula pada 1886 saat apoteker John Pemberton menciptakan minuman tonik yang dijual di apotek.
Setelah diakuisisi Asa Candler pada akhir abad ke-19, Coca-Cola tumbuh lewat strategi pemasaran agresif dan ekspansi distribusi. Pada 1899, perusahaan mulai melisensikan pembotolan, lalu pada 1916 memperkenalkan botol kontur ikonik yang memperkuat identitas merek.
Sepanjang abad ke-20, Coca-Cola terus berevolusi. Dari botol kaca 6,5 ons, perusahaan menghadirkan berbagai ukuran botol pada 1950-an dan kaleng baja 12 ons pada 1960 untuk meningkatkan portabilitas.
Merek kuat, portofolio luas
Coca-Cola juga memperluas portofolio lewat merek seperti Fanta dan Sprite. Strategi ini membuat Coca-Cola tidak lagi sekadar produsen soda, melainkan raksasa minuman global dengan branding yang konsisten.
Memasuki abad ke-21, perusahaan menyesuaikan diri dengan perubahan preferensi konsumen yang makin peduli pada kesehatan dan keberlanjutan. Coca-Cola mulai mengembangkan varian rendah gula dan berinvestasi pada kemasan yang lebih ramah lingkungan, termasuk botol berbahan daur ulang.
Nintendo memberi contoh lain tentang perusahaan yang tahan lama karena model bisnisnya berbeda. Didirikan pada 1889, perusahaan ini dinilai relatif tangguh saat resesi karena bisnisnya berakar pada hiburan rumahan yang tetap diminati ketika aktivitas di luar rumah terbatas.
Kekuatan Nintendo juga datang dari ekosistem gim eksklusif dan basis penggemar loyal. Waralaba seperti Super Mario, The Legend of Zelda, dan Pokémon menciptakan pendapatan berulang melalui penjualan gim, merchandise, dan lisensi.
Budaya yang tidak mudah goyah
Banyak perusahaan tua bertahan bukan hanya karena produk, tetapi juga karena budaya yang ditanam sejak awal. Mengutip Globis University, pada 2017 Statista pernah merilis daftar 20 perusahaan tertua yang masih beroperasi di dunia, dan di dalamnya ada sejumlah nama Jepang seperti Kongo Gumi, Koman, dan Tanaka-Iga.
Rahasia mereka disebut terletak pada mentalitas yang mengutamakan pelanggan, menghormati nilai manusia, menghargai daerah setempat, dan patuh pada hukum. Managing Partner Inventure Yuswohady menilai budaya dan nilai perusahaan adalah kunci utama bertahan lama.
Menurut dia, para pendiri membangun filosofi dasar seperti disiplin, kerja keras, ketelitian, dan integritas. Nilai itu lalu hidup di organisasi dan membantu perusahaan lincah menyesuaikan model bisnis dengan perubahan zaman.
Riset di jurnal Sejarah Bisnis berjudul “Analisis Ko-Evolusioner tentang Umur Panjang: Pakhoed dan Pendahulunya (2015)” juga menekankan hal serupa. Penelitian dari Rotterdam School of Management itu menyebut perusahaan panjang umur mampu terus berkembang seiring perubahan lingkungan bisnisnya.
Keseimbangan antara eksploitasi dan eksplorasi
Perusahaan yang bertahan lama juga menyeimbangkan eksploitasi dan eksplorasi. Eksploitasi berarti mengoptimalkan bisnis yang sudah ada, sementara eksplorasi berarti berani bereksperimen, mengambil risiko, dan mencari peluang baru.
Yuswohady menyebut identitas perusahaan harus kuat, tetapi tidak boleh kaku. Nilai inti boleh dipertahankan, namun penerapannya harus adaptif terhadap perubahan zaman dan didukung manajemen yang toleran.
Contoh yang sering dipakai adalah Pakhoed di Belanda. Perusahaan itu mampu bertahan karena bertransformasi dari bisnis pergudangan tradisional menjadi penyimpanan minyak ketika industri energi berkembang.
Bagi wirausaha muda, pelajarannya juga cukup tegas. Rhenald Khasali menekankan pentingnya membangun perusahaan untuk jangka panjang, menjaga kepatuhan hukum, memisahkan bisnis dan keluarga, serta menempatkan profesionalisme sebagai penyelamat perusahaan.
