Di tengah pasar ponsel yang makin ramai, iPhone lawas justru masih punya tempat kuat di Indonesia. Daya tarik utamanya bukan lagi status sebagai model terbaru, melainkan harga yang makin ramah bagi konsumen yang ingin masuk ke ekosistem Apple.
Fenomena ini muncul setelah pemerintah memperketat kontrol International Mobile Equipment Identity atau IMEI. Menurut Joy Wahjudi, Chief Executive Officer Erajaya Digital, perubahan aturan itu ikut menggeser peta persaingan ritel ponsel pintar di dalam negeri.
Joy menilai pasar gawai di Indonesia tidak hanya digerakkan pemburu varian tertinggi seperti Pro dan Pro Max. Apple juga melihat ada ceruk besar dari konsumen yang sangat tertarik pada merek premium, tetapi belum mampu menjangkau perangkat paling mutakhir.
Strategi Apple disebut ikut menyesuaikan diri dengan kondisi itu. Perusahaan mempertahankan pasokan seri lawas agar tetap sesuai dengan kemampuan beli segmen aspiratif tersebut.
iPhone 13 masih laku di tengah hadirnya model baru
Salah satu contoh paling jelas terlihat dari iPhone 13. Sepanjang 2025, perangkat ini masih mencatat penjualan yang mengejutkan dan tetap diminati secara masif oleh konsumen lokal.
Situasinya menarik karena pada periode yang sama Apple sudah merilis iPhone 15 series ke pasar global. Meski begitu, versi yang berumur dua hingga tiga tahun tetap berhasil menarik perhatian pembeli di Indonesia.
Faktor harga menjadi alasan paling kuat di balik tren itu. Saat banderol turun, iPhone lawas menjadi jauh lebih kompetitif dan terasa lebih masuk akal bagi banyak konsumen.
Momentum tersebut juga membuka pintu bagi pembeli baru. Banyak orang memanfaatkan harga yang lebih rendah untuk mencoba masuk ke ekosistem komputasi Apple untuk pertama kalinya.
Segmen aspiratif jadi motor utama
Tren iPhone lawas ini menunjukkan bahwa pasar Indonesia punya karakter yang khas. Konsumen tidak selalu mengejar model terbaru, tetapi tetap ingin memiliki produk premium dengan harga yang lebih bisa dijangkau.
Dalam pembacaan Apple, kelompok ini memiliki aspirasi tinggi terhadap merek tersebut. Karena itu, seri lawas tetap dipertahankan agar bisa menjangkau pengguna yang belum siap membeli lini paling baru.
Kondisi ini sekaligus memperlihatkan bahwa strategi distribusi di Indonesia tidak bisa hanya bertumpu pada produk flagship terbaru. Pasar juga memberi ruang besar bagi perangkat yang lebih lama, selama harganya relevan dengan daya beli.
Masih akan stabil dalam beberapa tahun
Joy memproyeksikan pertumbuhan lewat penetrasi lini lawas akan berjalan stabil dalam dua hingga tiga tahun ke depan. Ia menilai tidak ada gangguan berarti yang akan langsung menghentikan tren tersebut.
Perlambatan baru diperkirakan terjadi ketika pasar mencapai titik jenuh. Itu akan terjadi saat sebagian besar kelompok konsumen aspiratif sudah beralih menggunakan perangkat berbasis iOS.
Dengan kondisi seperti itu, iPhone lawas tetap menjadi pintu masuk penting bagi banyak pengguna di Indonesia. Selama harga masih memberi ruang dan stok tetap tersedia, seri lama Apple tampaknya belum kehilangan pesonanya di pasar lokal.
